Selasa, 26 April 2016

Deskripsi

Juga pagi tadi, jalan pulang yang ia lalui setiap hari tetap sama. Rasa bosan dan dilema memaksanya ketika bersepeda di jalan itu sore tadi.

supaya tidak perlu menunda-nunda, karena sebentar lagi ia juga pasti melewati tempat itu dan, itung-itung mumpung waktunya masih senggang" tak kuasa ia menahan keinginannya pergi ke tempat itu.
Ketika berada di tengah-tengah kerumunan kendaraan yang silih berganti dari samping kiri dan kanan karena kebetulan memang itu adalah jalan dua ruas jalur. Matanya menyorot dan lurus ke depan.
Di sapu pandang sekelilingnya terlebih dahulu sebelum menyebrang. Tak lupa juga arah depan-belakang, sekilas, dengan mata mengerjap-tajam, ia pandangi semua kendaraan yang tengah lalu-lalang, lalu berancang-ancang mencari celah di depan sana; terpapar ada sepuluh kendaraan menghadangnya berlaju segenap dan semakin dekat. Dalam hati ia firasat; "dalam pada ini apakah aku di beri peringatan dengan di hadang oleh sepuluh ini? Aduh! bagaimana ini. iya, apa tidak ya?" Lalu setelah itu, sembari bersiap-siap mengarahkan stang untuk berbelok di seberang kanan, sontak! dengan perlahan, begitu sepeda motor ke-sepuluh usai melintas, secara bersmaan ia melaju kesat dan lolos.
***

Ia sedang duduk sekarang di kursi nomer satu dan langsung ribut dengan yang namanya tunggu-menunggu dalam hati yang berkecamuk menanti proses. ia terhempas dengan sebulan asap gudang garamnya dengan menanti datangnya ide yang dulu menyejuk serta memermukauinya sehingga sampai saat ini ia masih mengunjungi dan menjadikan andalan buat melepaskan keterhampasaan percaya diri yang saban malam dan sore kerap mengahantuinya. ia melakukannya sepenuh hati. Kini, ia kehilangan sandarannya. Sandaran telah menghempaskannya. tapi, sedikit pun tak ada sedih.
Dia telah melirik, ke arah pojok bawah bagian layar. sepertinya, enggan sudah memperdayainya sejak ia bangkit di rakaat kedua saat salat ashar di musholla Al-Irsyad tadi. Ia anggap apa angka digital itu? ia pun tidak mengerti, iya begitu mungkin sekali saat ini ia tidak mengerti. Tapi, implusnya menggamit dan tentu besar sekali. Sama sekali tidak mengerti. Oke! Kita lihat saja akan seperti, atau ada, atau apa yang akan dihadapinya setelah nanti sampai di Rehabilitasi yang di dispen-sasikan khusus untuknya. yaitu di rumah-nya. Iya..,sekarang, ia sebentar lagi akan bergegas! tunggu ya.