Jumat, 24 Maret 2017

Penyakit Lama

Penyakit Lama
Candu yang selalu mempengaruhi manusia.
Tak tahu kau! bahwa kamar mandi tempatnya makhluk-makhluk halus bersarang di sana.
Kepalamu telah terpengaruh olehnya.
Haus seperti orang kelebihan dosis, yang tak segera menelan obat terlarang.
Dada dan sarafmu tertekan, seolah di rundung oleh penyakit asma.
Sudahlah!..
Kalau sudah seperti ini, seketika pasti pahit dan hambar rasanya. Tak selera melakukannya.

Rasa emosi tanpa sebab makin mendengus seiring mengembang dan mengempis. Ingatan kesedihan dan penyesalan selalu lekat. Tapi, satu dua hari lagi kau pasti tak kuasa mengendalikan rasa ingin itu datang membujuk untuk melakukannya kembali.

Pahitnya rokok kuhisap lama-lama tertimbun, rasanya sepah karena seorang pria bujang berambut panjang yang di kedai kopi muka terlihat menyembunyikan raut sedih. Pria itu mengelak mengatakan, "Gue mboten sedih. Jalani saja apa yang ada. Kulo sedih nek mboten punya duwek, menawi pegang uang gue merasa senang"
Sejak pertama tahu, dulu saat itu memang sudah panjang, di piyak tengah. Saat kepalaku mulai pusing, dan leherku kaku, sambil menghisap rokok, kupadang telingahku, kudengar dan kulihat suara sandal

Kamis, 23 Maret 2017

Kemandekan adalah filsafat

Tergesa-gesa, kelamaan mikir, dan banyak pertimbangan saat memutuskan segala hal yang ujung-ujungnya nanti bikin kita terjerembab ke dalam lubang kemandekan lalu menggelisahkan, penuh frustasi karena malu akhirnya takut sebelum berperang. Kalau posisimu seperti itu...itulah yg disebut "berfilsafat". Ya nggak? Kan, itu termasuk berpikir. Namun, ada "tapinya" Tapinya: kamu belum mendapatkan pijakan yang mampu mengatasi, memecahkan,  merubah diri menjadi ーkeluar dari zona sehingga kamu bisa menciptakan konsep baru.

Selasa, 21 Maret 2017

Denting Hujan

"Apa mungkin semua orang juga dengar?" Hujan di luar membuatku makin terjaga. Ketika hujan muncul, jutaan titik-titik air jatuh ke bumi; di hutan, di laut, sawah-ladang, sebagian jatuh ke atap rumah-rumah dari mulai seng, asbes, kanopi atau genting. 
Aku selalu berharap-harap cemas dengan pikiran kosong dan melamun, terkadang juga takut dan terkadang begitu takjub mendengar gemuruhnya.
"Apa setiap orang juga demikian?"
Mata kita selalu memandang ke sana. Telingah selalu menyimak setiap dentingan atau tetes air yang menghujam di tanah, yang terpantul keras di atas permukaan air yang menggenang. Di atas pelepah daun-daun pisang. Atau di dalam rimbun rerumputan, semuanya menyatu terdengar jelas menimbulkan alunan bunyi yang berpadu. Sangat jelas dan tetap, dapat kita tangkap atau kita dengar. Sampai rasanya, kita terhanyut oleh bosan dan tak sadarkan diri. Semua tertutupi oleh suara gemuruh air yang turun dari langit. 

Bahwa di sana ada seseorang sedang berkelahi; kita tak akan dengar karena suara hujan.
Jikalau televisi tetangga samping rumah sedang menyala kita pun tak akan dengar karena terhalang suaran hujan.
Kendaraan di jalan raya yang jauh di sana, kita juga tak akan dengar karena ada hujan. Atau seorang bayi yang sedang menangis mengharapkan tetek ibunya, kita juga tak dapat mendengarnya. 
kerumunan orang di kedai kopi; sopir angkot yang tengah ribut mendapatkan penumpang, semua tersingkap oleh gemuruh air hujan. Kini aku duduk di pelataran masjid yang kosong. Beberapa saat yang lalu para jamaah telah meninggalkannya. 
Kini aku sendiri. Terlongoh-longoh dengan hati yang tenang. Biar pun hujan makin deras, aku tak peduli. Aku mulai mngandai-andai namun tak ada yang terselsaikan. Kepalaku menjadi penuh oleh rencana. Membayangkan jika seandainya kau di sini. Duduk di sebelahku. Kau tempelkan kepalamu di pundakku, kemudian aku dekatkan mulutku pada telingahmu lalu kubisikkan padamu sesuatu yang ada di pikiranku. Tapi itu, hanya sebuah lamunan yang sulit aku jangkau dan aku sulit untuk menyampaikan bayangan itu ke dalam tulisan. Selama ini bahasa tulisku hanya berisi keluhan. Kekecewaan terhadap suatu anugerah yang Tuhan ciptakan untukku, tapi aku selalu menganggapnya sebagai kelemahan. Tak pernah kuindahkan karena kesendirianku makin hari makin menjerembabkan segalanya. Termasuk kehidupanku yang, atas dasar kehendak-Nya aku anggap sepele dan menurutku apa mungkin sebegitu jauh aku membuat kecewa pada-Nya? Aku tak tahu. Hidupku selama ini diliputi oleh kesia-siaan.

Jumat, 17 Maret 2017

Hidupku

Selama ini hidupnya selalu diliputi kesia-siaan. Di saat sedang makan seraya ibunya yang duduk di sampingnya bercerita bahwa sebelum ia tiba di rumah, ibunya sempat di pertemukan dengan ceramah yang paling ditunggu-tunggu di TV9 yang di isi oleh...

Rabu, 08 Maret 2017

Rabu. 8 Maret

Tidak seperti kemarin lusa. Kuning mentari langit menyalang nan indah.
Pukul 08:40.
Semua pekerjaan yang di mulai di hari sabtu, selama empat hari penuh kini akhirnya selesai. Pagi ini dua orang tukang dan kuli itu pindah dipekerjakan di rumah ibu T mengerjakan pemasanga paving.

Beberapa saat yang lalu sejak terdengar suara ibu memanggil aku ingat jarum jam masih di angka tujuh lebih-kurang. Selama hampir satu jam setengah aku bergelut dengan pekerjaan bersih-bersih di dalam rumah ibuk. Dari mulai menyapu semua lantai, setelah itu mengepel, membersihkan jendela kamar dengan lap basah juga, mencuci kain lap kotak-kotak milik ibuk. Ini merupakan hari yang ke-tiga. Di mulai dari hari senin hingga pagi ini, sudah tiga hari aku tidak masuk kuliah. Minggu ini adalah minggu ke dua setelah liburan semester. Sekarang aku naik ke tingkat Ⅵ. Itu tandanya, tinggal dua semester lagi; dan setelah itu lulus. (Apakah bisa?)
Aku membawa dua timba yang aku ambil dari pawon belakang. Kugunakan untuk mengambil air di kolam lalu kusirami semua tanaman milik ibuk yang ada di sekitar rumah. Ada tanaman lombok, pohon mangga, sirih, anggur, jambu, serta kemangi yang banyak di mana-mana.
Setiap perintah berarti amanah. Ibuk mewanti-wanti agar tetap menyiraminya tiap pagi-sore meskipun dia sedang tidak berada di rumah.
                              ***
ーpukul 13.08 sekarang ini. Sekitar...entah berapa kurang lebihnya. Seingatku mungkin tadi baru pukul 12.04. Begitu para jamaah dhuhur pulang langsung aku bergegas. Dengan masih mengenakan sarung dan baju koko, dan tanpa, alias lupa tidak memakai helm pula aku langsung naik motor dan kupacu secepat mungkin menuju rumah. Nah, ini catatan waktu yang sengaja aku rekam di smartphone: 47menit.

Berhadapan dengan orang yang sangat..sangat-sangat berjasa, eh, bukan...bukan berjasa. Melainkan, seperti atasan, majikan, orang baru kenal, atau seorang bos yang sudah tahunan menjadi bawahannya. Tapi yang aku alami ini, dia seorang yang pandai, kelewat ampun dalam menggunakan tegas untuk mencekik segala gerak-gerik seseorang. Bosku sangat mampu leluasa ketika membawa peran menjadi lebih lembut, lalu berubah sangat tempramental. Segala sesuatu ia pandang dari seberapa jujur dan kuat atau seberapa kaya bawahan memakai akal atau kecerdikan. Seberapa mampu membawa amanah, dan menjaga sebaik-baiknya apa-apa yang telah di pasrahkan.
ーsekarang, seperti malam-malam biasanya, selepas isya' di mana waktu senggangku, kebebasanku, waktu yang amat berharga yang andai ada atau sedang tidak adanya ibuk di sini kugunakan sebetul-betul penuh manfaat; membaca, menulis, mengerjakan tugas, atau sesuatu yang berguna benar untuk memupuk kapasitas sebagai calon manusia bermasadepan, atau sebagai penebar ilmu dan pembelajar.
Semua yang aku tulis sesungguhnya adalah apa-apa dari keseharian, dan,  itu pasti. Tapi juga, merupakan wadah-ungkapku menyatakan keinginan unjuk keterusterangan dan sejujur-jujurnya uneg-uneg dari sekeliling, langkah, apa yang ku hadapi, rasai, yang ada di sekitarku.

Minggu, 05 Maret 2017

Minggu 5 March

ーPukul enam, lima-lima.
Sejenak, sebelum menjelang subuh, dan ketika terbangun dengan tiba-tiba, dengan sedikit agak sadar, karena rasa kantuk masih merekat kuat serta terdorong nafsu malas akhirnya ia Setelah duduk, ia bangakit dan berjalan ke tempat wudhu lalu membasuh muka. Masih dalam bayang-bayang rasa kantuk, tapi ia terjaga, melek, dan, tahu, meskipun agak setengah-setengah. Berfikir secarg logis. Ia makin melotot manakala tiap bangun tidur, belum apa-apa, jangankan gosok gigi, minum air segelas pun kadang pernah-kadang jarang, eh, tapi malah menghisap rokok.
Pokoknya sekarang pukul dua-tiga. Sudah jam sebelas. Dan, nongkrong di kedai kopi yang ada WiFinya merupakan kegiatan yang kadang selalu menjerembabkan, membuatnya lesuh, sering pening

Rabu, 01 Maret 2017

Mulai Tanggal 1: Diary Rabu "full of vice and futility"

Bulan berganti Maret.
Malam ini adalah tanggal 1-nya. Rabu.
Pikiranku bimbang.
Rasa cemas sedang memburuku.
Dada rasanya tak tenang dan selalu lengah.
Pukul nol-nol tiga-tiga.
Ada apa dengan angka nol-nol tiga-tiga?Apa yang mau terjadi? Perbendaharaan kata yang dangkal membikin kepalaku buntu. Yang jelas...satu menit rasanya seperti sekejab.
Begitu cepat sekali.
Lampu baca sengaja tidak aku nyalakan.
Bunyi ngeng...ngung...ngeng, nyamuk mulai menyerbu. Berputar-putar, mendengung terbang, lalu hinggap.
"Shiittt!"Aku tak peduli dengan kau nyamuk!
Hidupku tak tenang bukan oleh sebab itu.
Aku seorang lelaki.
Lelaki terpuruk.
Payah dalam hal apa pun.
Malam semakin larut dan semakin menjadi-jadi. 
Di luaran adu mulut antara jangkrik dan kodok saling beradu: berisik! Buatku, itu bunyi yang mencekam.
Kadang mulut cicak sesekali juga terdengar.
Jarang sekali,
dan digantikan oleh sayup-sayup deru kendaraan terdengar timbul-tenggelam seperti lenguhan dari arah kejauhan.
Itu sejak tadi.
Jauh sekali.
Bunyi erangan dari mulut kodok kini malah makin kencang dan nyaring mengungguli ocehan jangkrik.
Rasa cemasku semakin bertambah. Kacau!
Kacau balau.
Apakah kau akan semakin datang? Dua sisi cemas menelungkup dalam kepala. -Soal nyamuk, sejak kecil aku mulai suka menggunakan lotion untuk mengelabuhi si makhluk sialan itu. Beraroma jeruk, hangat, tapi pahit. biarpun pahit namun terbukti ampuh mengelabuhi si biang kerok... brengsek itu. (*)

Kamis, 2 Maret ー
Ada teman mengatakan, jika seseorang yang hidupnya terlahir nyaman nan bergelimang harta dan dikelilingi kemapanan tapi enggan untuk mengetahui rasanya di tempa oleh getir dan kerasnya mencari seporsi nasi, rasanya muskil ia akan paham konsep intensitas, empati, egaliter, social mind atau humanisem. Bagiku, ragam-padu kepekaan tersebut dapat di tangkap lewat dua hal. Pertama menelungsuri kejadian yang menggolakan hati. Dari sana akan muncul kesadaran. Lalu orang akan merangkai niat. Yang paling penting setelah di gampar ame sehelai hikmah adalah; ia musti menyetubuhi badannya sendiri agar bisa memahami diri...
Supaya mampu melambungkan ego sejauh-jauhnya. Kalau enggak gitu, mana bise ie menempatkan badannye.
Yang kedua, pengamatan; lewat bentuk teks atau verbal, survive langsung dan berbaur dan mengamati jejak langkah kondisi di sekitar. By text, (membaca) that's the key. Rutinitas di atas bumi serta hiruk-pikuk manusianya adalah medan multifungsi guna menyelam dan meneguk air keringat. And keeping learn any time: biar pun di air keruh.
Pukul dua belas-dua tiga. ー
Saya bilang juga apa!!! Tuuu ..kan, mending enak tadi kan?
Sekarang sudah tahukah kau, terik panas yang menyengat itu mudah membuat tubuhmu gobyos berkeringat?. Gobloknya lagi, udah tahu napas udah bengek malah ngerokok. Sekarang, apa rasanya? Tenggorokanmu pahit kan, kagak enak kan, rasanya? Bego si .loe!
Sudah, sekarang apa yang mau kamu lakukan? Pura-pura tidur atau, tahu kau, bahwah ibuk sedang di jalan dan sebentar lagi akan menuju ke sini?
15.42ー Hujan telah reda. Kini ibuk sudah ada di rumah: di Putat. Tadi sebelum ashar, langit sedikit mendung. Tapi sekarang, sinar matahari sore mulai berkilauan menerpa ribuan daun, hamparan sawah, dan seluruh alam di bumi. Dan langit akan menjadi cerah.
Jumat, 3 Maret ー Pagi. Pukul enam-tiga-tiga. Waktu sepulang membeli nasi pecel, pagi-pagi, dengan perut kekenyangan, duduk sambil menghisap rokok. Aku tak habis pikir tiba-tiba aku tertidur begitu saja. Kemudian, tahu-tahu terbangun; Kaget. Dan lemas.

Diary Kecemasan

Selasa, 28 Februari ---
Mana bisa santai! Diri membayang-bayang suatu kedatangan. Apa mungkin hari ini. Banyak yang masih belum di tumpas. Semuanya utuh!. Takut atau bodoh?. Takut bencana kemarahan akan datang, kekecewaan yang meledak tak karuan, takut-takut-takut, takuuut...tapi, mengapa badan ini persis batu atau patung yang tak bergerak sedikit pun!. Sadarkah kau? Di dalam sana masih banyak, banyak, banyak, dan banyak sekali. Tak tersentuh sama sekali. (*)
Perasaan tenang. Apa karena ini sudah pukul 22 lewat? Tidak juga. Sedikit sekali. Tetap saja tapi. Semuanya, bisa terjadi. Aku jadi takut lama-lama, oleh, sewaktu-waktu. Ditemani biskuit coklat, bengong, sambil menghisap rokok aku bertanya; menghardik diri apakah esok sanggup? Jawabnya tak tahu. Benar, bagaimanapun memang tergantung masing-masing. Diri yang menentukan. Tapi inilah yang sulit. Sisi lain dari diri tiap saat gampang berubah secara tiba-tiba. Tapi celakanya dia ingin tidak ambil pusing. Terus menyepelehkan. Enteng, anggapnya.