Biasanya sebuah karya dinyatakan sebagai
fiksi, jika ia berbentuk lazim dalam cangkang konvensional fiksi.
Ceritera pendek, puisi, novel, dan sejenisnya—yang banyak dikenal
orang—lalu orang akan mempelajarinya pula sebagai teks fiksi. Sejak
kecil, kita sudah dipakani soal-soal ujian, “Apa beda fiksi dengan
fakta?”, “Manakah yang fakta dari paragraf ini?”, dan “Apa itu fiksi?”,
serta beragam kanon-kanon lain.
Pada tahun 2012 muncul sebuah karya
sastra yang tidak lazim. Kalau dulu pada tahun 70-an dan 80-an ada
bentuk karya mantera kontemporer, maka tahun itu muncul karya puisi
esai. Adalah Denny JA, yang pertama-tama memperkenalkan bentuk ini dalam
kumpulan puisinya, Atas Nama Cinta, yang diterbitkan pada tahun 2012.
Ia memberikan batasan-batasan tersendiri pada jenis puisinya. Hal yang
hanya pernah dilakukan oleh Tardji dan Chairil pada masanya. Ia beranjak
dari keprihatinan sebagai seorang cendekiawan sosial politik, yang
melakukan survei dan menemui kenyataan bahwa puisi-puisi yang beredar di
koran-koran minggu tak bisa dipahami masyarakat dan cenderung sadistis.
Puisi esai, katanya, adalah puisi yang
berangkat dari kenyataan. Ia digunakan untuk membuat orang—pembaca—lebih
memahami kenyataan ketimbang berpusing-pusing menerjemahkan puisi
menjadi kenyataan. Secara fisik, puisi ini tidak memiliki perbedaan
spesifik dengan puisi lain, namun dilengkapi dengan catatan kaki. Nah,
persoalan inilah yang secara krusial membedakan puisi esai dengan puisi
jenis lain. Dalam contoh yang telah ada, puisi esai memang dibuat untuk
mengabadikan peristiwa sejarah, tokoh besar, atau mengenang-ngenang
tragedi.
***
Catatan
kaki, tulis Denny, berfungsi sebagai pelengkap atau penjelas fakta
dalam sebuah karangan ilmiah. Ia bertugas memberikan fakta-fakta yang
dengan itu sebuah karangan menjadi kaya. Di sinilah bedanya. Apa jadinya
ketika puisi diberikan catatan kaki? Imajinasi tidak pernah salah, kata
sebagian seniman. Ia hadir bukan sebagai reproduksi kenyataan,
melainkan abstraksi-abstraksi pengalaman personal seniman sebagai
imajinasi. Yang jadi soal, sudah tentu pengalaman hadir dari reproduksi
kenyataan dalam alam pikiran seniman. Di sini letak keunikan puisi esai.
Ketika sebuah puisi sudah dipahami sebagai abstraksi pengalaman
penyairnya, sisi ke-esai-annya menghadirkan fakta untuk membuat si puisi
menjadi lebih dari abstraksi dan imajinasi. Ignas Kleden, dalam
epilognya di Atas Nama Cinta jelas mengatakan bahwa catatan kaki bukan
bagian organis dari puisi. Artinya, ia tak harus ada sebagai puisi.
Namun Sapardi di sisi lain menjelaskan, banyak penyair di luaran sana
yang menggunakan catatan kaki sebagai alat tambahan untuk memperkuat
puisinya. Catatan kaki bukanlah masalah besar, simpul ketiga budayawan
kita ini. ia hanya organ puisi esai untuk mengikat puisi dengan
kenyataan, dan sebaliknya.
Lagi-lagi arah diskusi ini disimpangkan
oleh pernyataan Denny—sebagai penemu, atau setidaknya penggagas—bahwa
catatan kaki justru sebagai bagian sentral dari karyanya. Ini mengandung
pengertian bahwa puisi ini tidak menjadi puisi esai jika tidak
bercatatan kaki. Justru puisi ini diciptakan berdasarkan fakta yang
ditulis kembali pada catatan kaki. Ide yang menarik dilontarkan Tardji
dalam epilognya, juga untuk Atas Nama Cinta (Hei, perhatikan bahwa tiga
budayawan besar memberikan epilog secara bersamaan). Kalau memang puisi
esai dan catatan kakinya mampu menghadirkan imajinasi dan kenyataan di
waktu bersamaan, apakah puisi jenis lain tak mampu?
Sebagai contoh, sajak-sajak Rendra:
Orang-orang Miskin, Sajak Lapar, Rick dari Corona; sajak-sajak Taufik:
Sebuah Jaket Berlumur Darah, Karangan Bunga, Buku Tamu Musium
Perjuangan; lalu sajak-sajak Joko Pinurbo: Tuhan Bakal Datang Malam Ini,
Monyet, Celana, dan lain-lain jelas menunjukkan bahwa itu puisi diambil
dari kenyataan, lalu diabstraksi oleh pengalaman penyairnya. Namun, ada
garis tegas yang membuat puisi esai berbeda secara pragmatik dengan
contoh-contoh di atas. Puisi esai tidak menghadirkan fakta sebagai
fiksi. Tentu kita sudah sama-sama maklum, bahwa sefakta apapun sebuah
data, ia akan menjadi fiksi ketika dibuat menjadi karya sastra.
Puisi esai tidak membuat fakta menjadi
fiksi, dengan memisahkannya secara jelas dalam tubuh puisi. Satu lagi
keistimewaan puisi ini, bahwa fakta diijinkan tetap menjadi fakta dan
lepas dari prasangka penyairnya dalam catatan kaki yang dijadikan tubuh
puisi. Ia memberikan ruang bagi fakta agar tak kehilangan ruh dalam
imajinasi penyairnya, dan membiarkan fakta-fiksi hidup berdampingan lalu
disajikan sebagai puisi dalam waktu bersamaan.
Irwan
Bajang, pimpinan penerbit Indiebook Corner memberikan ulasan yang cukup
menarik. Dalam setiap karya sastra, pasti terdapat fakta yang
dibicarakan dengan cara fiksi. Permasalahannya, bukankah mustahil fiksi
bisa lahir tanpa penyetubuhan pengarang dengan kenyataan? Ini sudah
menjawab persoalan jarak fiksi antara sebuah karya dengan kenyataan yang
ingin difiksikannya. Seno Gumira membuat cerpen berdasarkan pengalaman
jurnalistiknya yang luas. Saksi Mata misalnya. Tetapi, cerpen-cerpen
Seno tidaklah bisa dikatakan “Cerpen Jurnalistik”. Sebagai bandingan,
belakangan juga muncul genre jurnalisme sastrawi. Tetapi, hasil
jurnalisme ini tetaplah bukan sebuah karya sastra atau dipahami dengan
pendekatan sastra. Esai tetaplah esai, dan puisi tetaplah puisi.
Akan tetapi, puisi esai—bantah
Tardji—adalah puisi yang pintar. Justru karena kelebihannya menjadikan
fakta tetap fakta dalam Find your State’s Official Health affordable-health.info
Marketplace. tubuh fiksi itulah, puisi ini mampu membuat pembacanya
memahami kenyataan lewat puisi secara lebih gamblang. Membaca puisi ini
akan seperti baca ensiklopedi yang ditulis mirip puisi. Bisa diartikan,
puisi esai adalah puisi yang asalnya dari kenyataan, bukan akusentris
semata. Kalau ada puisi pintar, tentu ada puisi bodoh. Dialektika Tardji
rupanya sampai hati bilang begini: Puisi bodoh, adalah puisi yang
hanya berasal dari akudiri dan diadiri pengarangnya. Seumpama manusia
yang selalu akusentris.
Tidak ada karya sastra yang menjadi
rujukan berita atau sejarah secara otentik. Sampai titik ini, Denny
sadar betul, bahwa sastra memiliki jarak fiksi yang cukup jauh dengan
kenyataan. Itu sebabnya diciptakan karya sastra, bukan? Untuk
memperhalus kenyataan agar orang bisa menentukan sikap terhadap
kenyataan tersebut. Namun jarak yang jauh ini masih diperlebar dengan
diksi-diksi gelap puisi konvensional yang muncul di koran-koran oleh
penyair belakangan. Dengan demikian, puisi esai hadir untuk mengisi
celah ini. celah yang harusnya dinikmati masyarakat ketika membaca
puisi.
Dalam kumpulan puisi esai yang lahir
juga atas prakarsa Denny, Dari Rangin ke Telepon, Acep Zamzam Noor
memperbandingkan puisi esai—yang dibilang genre baru ini—dengan
karya-karya puisi Sunda Modern. Ia menemukan bahwa karya ini, secara
durasi mirip dengan prosa liris yang sudah digunakan sejak beribu-ribu
tahun lalu oleh sastrawan lokal. Pada era yang lebih kini, Linus Suryadi
melalui Pengakuan Pariyem, membuat bentuk yang mirip sekali dengan
puisi esai, hanya tanpa catatan kaki kecuali oleh penyuntingnya sebagai
penjelas kata-kata dalam bahasa daerah. Alih-alih membuat definisi, Acep
malah bersyukur bahwa ada orang yang masih peduli pada puisi dan
mengembangkannya.
Sampai sini, kita bisa menyimpulkan
bahwa kontroversi puisi esai bukan terletak pada bentuk tipografinya,
tetapi konsekuensinya yang menghadirkan fakta dan fiksi secara
bersamaan, dan meletakkan catatan kaki sebagai tubuh utama puisi.
*
Saya tak mau membohongi diri. Rasa ingin
tahu Denny, berujung pada ketidakpuasan atas medium yang ada selama
ini. medium puisi yang ada, terlalu gelap, dan malahan memuaskan hasrat
penyairnya saja tanpa bisa ditembus oleh pembacanya. Saya rasa, saya
sepakat kalau ada yang bilang bahwa ketidakpuasan Denny kepada puisi,
juga mewakili ketidakpuasan masyarakat secara umum. Untuk itulah, dia
memilih tidak menulis puisi dengan cara yang sudah ada. Dia membuat
genre ini agar masyarakat luas bisa memahami dan berempati terhadap
kenyataan yang terjadi lewat puisi. Untuk itulah, puisi esai bisa
dinikmati, atau—lanjut Denny—terkubur karena masyarakat tak menyukainya.
Ia akan terkubur sebagai sejarah jika memang tak berhasil bertahan.
Sekarang, kalau anda ditanya lagi, apa
itu fiksi? Apa bedanya dengan fakta?Saya tidak menyarankan anda
menjawabnya. Sebagai gambaran utuh puisi esai, saya kutipkan puisi esai
karya Kedung Dharma Romansa, yang berjudul Rangin:
Dermayu[i] pergi,ia berlari menuju masa lalu
seperti kijang mas
yang hilang di bantaran Cimanuk.
Ini cerita
tentang politik dan kekuasaan yang melumpuhan
kaki kiri tanah Jawa[ii].
Adalah nasib,
yang dirampas dari tangan ibumu
adalah kamu,
yang tumpas masa depanmu.
Kapan kau akan pulang dan menyalakan lampu?
Jam berapa sekarang?
Apa yang kau tahu tentang sejarah?