Maaf mudah diucapkan, tapi sulit dilaksanakan. Memaafkan dengan tulus memerlukan kematangan pribadi. Bahkan, kemampuan memaafkan menjadi prasyarat kesehatan jiwa.
Secara awam orang berpikir, bila ia dapat membalas tindakan buruk yang dilakukan oleh orang lain, ia akan merasa lebih baik. Penelitian Psikologi ternyata menunjukkan, pikiran dan perilaku membalas dendam malahan membuat kita merasa lebih buruk.
“Membalas”, berarti ada peningkatan rasa marah. Dengan berkembangnya ruminasi, yakni pikiran yang terus terulang. Obsesi mengenai kejadian ketika disakiti, obsesi untuk membalas tindakan itu.
Sementara itu, yang tidak membalas, tidak terobsesi pada kejadian, tidak terlalu ambil pusing tentang kejadian, lebih mudah melupakannya, dan tidak dikuasai oleh kemarahan.
Penelitian dalam konteks perkawinan “Fincham dan Beach, (2005)” menemukan adanya perbedaan psikis pada para pihak. Yang bersalah akan lebih cenderung untuk mencari detail ingatan untuk meyakinkannya bahwa perilakunya dapat dimaafkan. Sementara yang diperlakukan buruk akan terus teringat detail dari perilaku buruk tersebut sehingga mengalami kesulitan untuk memaafkan. Jadi, yang bersalah mungkin akan melihat pasangannya berlebih-lebihan dalam bereaksi (“Memang saya salah, tetapi cuma seperti itu kok reaksinya berlebihan banget?”). Sikap berlebih-lebihan itu sendiri dilihatnya sebagai tidak tepat (=merupakan kesalahan). Sementara itu, yang diperlakukan buruk merasa pasangannya menganggap sepele persoalan sehingga makin merasa marah. Dalam situasi demikian, kedua belah pihak melihat pihak lain sangat negatif dan interaksi yang destruktif dapatv makin meningkat.
Kita jadi mengerti bahwa kesediaan memaafkan memang memiliki banyak manfaat positif. Memaafkan dapat meningkatkan perasaan lebih sehat karena individu mengahayati perubahan positif dalam emosi. Yang diperlakukan buruk dapat mengembalikan perasaan berdayanya, sekaligus mengembangakan harapan lebih positif mengenai hidup.
Psikolog GM Susetyo dari GMS HRD Consultant menengarai, pangaruh memaafkan terhadap kesehatan jiwa seseorang sangat besar. Bahkan, kemampuan memaafkan tersebut berdampak terhadap perkembangan kepribadian seseorang.
“Ketika dalam diri kita ada luka batin yang disimpan, dan karena kesombongan kita untuk tidak memaafkan, rasa marah itu akan tertanam dalam dan menggerogoti tubuh”. Kata Susetyo yang biasa dipanggil Yoyok.
Mengapa seseorang sulit memaafkan, menurut Yoyok, karena salah satu penghalang jiwa yang terbesar adalah mengampuni orang lain. “Secara lisan mengaku sudah memaafkan itu mudah. Namun, untuk mengetahui apakah maaf itu datang dari hati yang terdalam, tandanya sangat mudah. Ketika mendengar nama orang yang bersalah disebut saja ada rasa “greng” masih panas, itu tandanya kita belum memaafkan. Di bawah sadar kebencian itu masih ada,” lanjut Yoyok.
Selain kesombongan, faktor lain yang membuat seseorang sulit memaafkan adalah adanya persepsi yang keliru. “Misalnya, ketika seseorang mengatakan ‘ngapain saya memaafkan, sementara dia enak-enak melenggang. Wong dia yang salah’...” Menurut Yoyok, sakit hati itu adalah beban kita karena pihak yang membuat sakit hati bisa saja tidak merasa berbuat salah, bisa saja lupa, atau tidak sengaja melakukannya sehingga tidak sadar kalau sudah membuat orang lain sakit hati.
“Jadi perkara memaafkan itu adalah perkara kita, agar beban terangkat. Memaafkan akan sangat therapeutic (menyembuhkan),” Lanjutnya.
Luka batin yang dikarenakan ulah orang-orang terdekat seperti pasangan, orang tua, sahabat, umumnya lebih sulit disembuhkan dan lebih sulit dimaafkan. “Karena kita punya harapan besar pada meraka.” ‘Mestinya kan, dia ngerti saya’ itu yang biasanya kita ucapkan, kata Yoyok.
Setelah berlalunya waktu, ada orang-orang yag mencoba meneliti kembali sumber kemarahannya. “Misalnya dia bertanya pada dirinya, sebenarnya perkataan apa si yang membuat saya sakit hati itu? Atau, kenapa ya saya sensitif sekali waktu itu? Nah, ketika kita melihat momen itu dengan pandangan yang lebih obyektif, ada upaya untuk mencoba mengerti, mencoba berpikir jernih, sampai akhirnya kita bisa memaklumi. Setelah tahap ini, akan muncul toleransi dan berikutnya pintu maaf pun terbuka,” urai Yoyok.
Ketika kita sudah bisa memaafkan suatu hal yang berat, proses memaafkan berikutnya akan semakin mudah dan ringan. Idul Fitri menjadi momen yang pas untuk menjadi lebih sabar, lebih memahami, dengan hati yang lebih longgar. (MRY)
*) KOMPAS, MINGGU, 12 JULI 2015
Tidak ada komentar :
Posting Komentar