Rabu, 31 Mei 2017

Kritik Sastra

Demi Tuhan, perasaanku tak keruan, antara berbungah-bungah, iri, dongkol, dan enggak nyangka bahwa itu adalah karanganmu.
***

Lewat tokoh perempuan bernama Novelisa Iskandar, kamu memakai kata ganti orang pertama "Aku", di dalam mendeskripsikan lika-liku kehidupan kampus sebagai mahasiswa mulai dari; tugas perkukiahan, kisah asmara, persahabatan, [...]

"Cara terbaik untuk mengetahui cinta itu adalah dengan jatuh cinta. Jika kita mendefinisikan tentang cinta pada orang yang tidak sedang jatuh cinta, maka itu adalah sebuah teori. Bagiku dari semua definisi cinta yang ada ialah ketertarikan hebat antara dua insan yang tidak masuk akal. Orang yang berada pada ketertarikan hebat itu akan mengabaikan segala yang pernah ia pelajari dalam hidupnya. Namun semua pengertian tidak masuk akal itu, akan berubah ketika diantara keduanya goyah dan tidak merasa akan indah akhirnya. Sehingga pupuslah ketertarikan tidak masuk akal itu dan berakhir apa adanya."

Kamis, 25 Mei 2017

Suka-suka


Pernah kudapati cerita-cerita dari cerpen yang sulit untuk dimengerti sama sekali, alias, temanya tidak kusukai. Biarpun susunan kalimatnya susah untuk di cernah, dan alur yang membingungkan, aku kerap berusaha mengosongkan pikiran dan tidak terburu-buru supaya, paling tidak, dapat mengerti maksud yang di sampaikan kalimat per kalimat dan setelah itu, mengalir begitu saja.
Tergantung, tapi jika momennya apik, kuusahakan untuk se-relax mungkin agar bisa fokus meresapi bait-bait pertama saat membaca sebuah cerpen. Ini merupakan penggalan paragraf sebuah cerpen. Banyak sekali cerpen-cerpen yang bikin penasaran; serasa di buat hanyut serta mengundang untuk terus membacanya.
Kadang aku tak sabar menantikan cerpen-cerpen yang di muat koran-koran pada edisi minggu.
Yang sangat kusuka adalah, ketika menemui sampiran yang mulanya di susun dari bahasa lisan lalu di bahasa tuliskan sehingga tampak seperti orang yang berbicara sendiri. Atau, bisa juga membicarakan orang lain bahkan dirinya sendiri layaknya monolog.
                              ***
Misalnya:
Aku suka sekali ulasan dari artikel dengan gaya penyampaian nan santai laiknya dalam obrolan intim seperti, "…Anya sosok yang hangat, terbuka, dan selalu mencoba ceria. Di balik itu, dia tengah menyeimbangkan kondisi mentalnya agar tidak lagi terperosok ke dalam depresi yang menyiksa. Dan, menulis puisi menjadi salah satu terapinya. Menulis menjadi cara dia menyalurkan emosi ketika tak pandai mengungkapkannya dalam kata-kata verbal."

Mula-mula, "Pagi itu kami janjian bertemu di Saudagar Kopi, kafe di Jalan Sabang, yang sudah buka sejak pukul 07.00, melayani orang-orang kantoran yang tak sempat sarapan. Namun, bukan Anya. Dia menghabiskan banyak waktu menulis di kafe itu sekalgus sebagai tempat melihat dunia luar.
Dengan agak kikuk, dia menyodorkan tangan. Kami bersalaman. Anya memakai kemeja kotak-kotak. Anting berbentuk prisma menambah pesona potongan rambut mullet-nya, berponi, tipis di bagian samping, dan memanjang di bagian belakang. Ada sedikit sepuhan warna merah tatkala sinar membias di rambutnya. Gaya rambut ini pernah ngetop di era 1980-an. Rocker Joan Jett atau penyanyi dan aktris Liza Minnelli. 'Mungkin karena aku kehilangan identitas jadi memakai identitas masa lalu ha-ha-ha,' seloroh Anya menjelaskan tentang gaya rambut dan pakaiannya."

"Dia memesan roti bakar telor dadar serta mimuman favoritnya, orange juice dan flat white. 'Ini lembut. Rasa kopi dan susunya berimbang. Ada pahit kopi dan gurih susu,' ujarnya mempromosikan flat white."
Guru bahasa, "Suatu hari ketika masih SMP, Anya dan teman-teman sekelasnya diminta guru Bahasa Indonesia membuat puisi. Guru itu menyuruh muridnya keluar kelas, melihat-lihat segala yang ada di halaman sekolah. Menyuruh mereka menulis apa saja yang terlintas. Anak-anak itu menyebar di bawah pohon Ki Hujan atau trembesi yang memayung.
Adapun Anya agak menjauh sehingga bisa menangkap kesan pohon gagah itu seolah melindungi teman-temannya. Dari situ, dia menulis puisi berjudul Ki Hujan, dan menjadi puisi terbaik di antara puisi teman-temannya. Keteduhan Ki Hujan menaungi Anya berpuisi.
Sejak saat itu, menulis puisi seolah menjadi jalan hidupnya. Dia lalu menggeluti dunia sastra dan membentuk komunitas Bungah Matahari lewat milis yang menjadi ruang diskusi maya pada awal era 2000-an. Kala itu dia masih kuliah di UI. Setelah lulus, dia melanjutkan studinya dengan mengambil program The Gothic Imagination di University of Stirling, Skotlandia, dan lulus tahun 2005.
Anya menilai puisi komunikatif. Mampu menjelaskan hal kecil di sekeliling. Cara pandang ini menghasilkan puisi-puisi yang mudah dipahami, tetapi tidak jatuh pada kedangkalan makna."
oleh Mohammad Hilmi Faiq, wartawan koran Kompas

                              √√√
Misal lagi:
Febri yang baik, Pelupuk mataku hangat. Basah hidungku. Kau bilang aku tak peka. Engkau juga seperti menimpakan seluruh kesalahan ke pundakku yang tua ini. Karena dari 12.000 yang diasingkan selama sepuluh tahun di pulau pembuangan itu, tak ada yang becus untuk menghasilkan tulisan yang menggugah. Jangankan menggerakkan. Kau katakan, dan terasa seperti menghukumku: "Kakek, tahu enggak," begitu kau menyindir, "Anne Frank cuma 13 tahun, tapi dia begitu menukik dan agung menghayati kecemasan, ketakutan, yang memenjarakannya di belakang lemari persembunyian, sampai dia digrebek dan dibinasakan. Sementara catatan hariannya menjadi warisan dunia dan lambang kekuatan manusia dalam menghadapi penindasan yang membinasakan."
Oleh Martin Aleida
***

Minggu, 21 Mei 2017

Miftachus Sa'aada

Kamu masih inget dengan nomor ini:0896-77100-518?,,
Nomor itu adalah nomor Wha's Up! ku. Nomor yang tiba-tiba kedapatan pesan dari adik kecilku yang paling cantik (putri-kodok) yang, "dapet dari mana niii anak!, kok bisa-bisanya! dia tahu nomorku dari mana ya?" Hehe😭
Gimana kabarmu? Sekarang sudah besar ya? Ngomong-ngomong udah kelas berapa sekarang?.

Jumat, 19 Mei 2017

Eka Kurniawan; Cuplikan Wawancara

Oke, mungkin, apa, sastra? Membaca bagi Anda, itu, apa? Apa manfaatnya, apa yang terjadi pada diri Anda misalnya, ketika Anda ehm.. .paling tidak membaca sebuah buku yang sangat bagus?
***

Yang paling fundamental, dari sebuah membaca yakni, ia bisa mengubah pikiran kita atau setidaknya, mengganggu pikiran kita, membuat kita...mencoba melihat sebuah peristiwa, atau sebuah kenyataan dari sudut pandang yang berbeda, yang selama ini..apalagi, selama ini kita melihat dari suatu sudut pandang yang, ketika kita membaca dari sudut pandang penulis, dari sudut pandang yang beragam, kita mencoba melihat dari segala sisi. Dan saya rasa ..itu efeknya akan, sangat besar bagi ..yaa tidak hanya ..ya dalam tingkat yang abstrak, buat peradaban. Tetapi dalam hal yang praktis, dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menciptakan misalkan ..sesuatu yang sangat kita, urgen sekarang; toleransi, misalkan. Bagaimana ..eh apa namanya sebuah peristiwa kita bisa melihat dari berbagai sudut pandang kan, kita bisa mengerti kenapa orang berpikir berbeda dari saya, begitu. Artinya, ketika kita mengerti kenapa orang lain berbeda, kita bisa sama-sama, oke, ..eh artinya; kita berbeda tapi kita bisa saling menerima perbedaan itu.

Sabtu, 13 Mei 2017

Anam

Jika kuramu kata-kata kemudian kurangkai menjadi pertanyaan, lalu kutekan tombol "enter" supaya lekas kau terima dan serap dan kau memikirkannya. itu artinya aku memohon kesediaan; memintamu untuk menolongku atas jawaban darimu informsi yang sangat kubutuhkan. Ini mengenai KMD atau Pak Hakim selaku dosen yang mengapu. Pertanyaanku adalah, di dalam pesan singkat kau mengatakan pada semua teman-teman penghuni Grup bahwasanya kau menghimbau agar kelompok ke-2 yang akan datang setelah Hisyam ini, sesegera mempersiapkan rencana materi sebelum 

Selasa, 09 Mei 2017

Udar Rasa

Aku tak tahu lagi bagaimana cara merangkai kata-kata menjadi puisi. Ketersambungan tak perlu kugubris untuk yang setelah ini. Dulu gara-gara melihat buku harian warna biru milik Rangga, jadinya, aku malah ikut-ikutan ingin punya buku catatan seperti itu. Tetapi, kini buku catatan itu sudah hampir penuh, dan, jarang sekali aku menyentuhnya lagi; melihat dan membacai lagi. Dia selalu bilang padaku, dan mudah-mudahan aku sadar dan jangan pernah lagi berhenti untuk berlatih menulis.
"Apa yang kau rasakan? Apa?" Itulah pertanyaanmu.

Sayangnya percuma, aku ini pemalas, tak sanggup aku. Aku tak bisa mendengar, aku tuli. Tengkuk dan leherku ini rasanya nyeri sekali karena tiap hari selalu kurang tidur.

Lain halnya di sore hari, waktu itu, saat aku datang untuk balik ke sini, kulihat, beberapa dedaunan kering di halaman mulai banyak dan berserakan. Lalu lantai, yang kelihatannya tampak bersih namun, serpihan debu terlihat jelas sekali meskipun sedikit.

"Aku tak tahu, sebentar lagi ia atau aku yang berlepotan bila terdengar suara mobil yang menderu kencang dengan lampu yang menyorot, lalu kau tergopoh-gopoh memastikannya dengan panik kemudian halusinasi itu akan membekas, semakin membekas dan membuatmu tak keruan dan serba salah."

"Seperti ini rasa sesak dan sepinya  dikerubungi kebodohan itu".

Benar kata orang depan rumah: orang kalau ingin jadi sekaya-kayanya orang, belum pasti orang harus punya latar belakang pernah kuliah setinggi-tingginya. Tetapi relasi dan pengalaman yang terpenting.

"Dan, benar, tercapainya suatu pengalaman, itu pasti atas dukungan wawasan yang ia miliki. Itu berarti, apa kau tahu sesungguhnya perbedaan antara ilmu dan pengetahuan. Ayo pikirkan!"

Makhluk yang selain kita, (manusia) mereka itu tidak di lengkapi oleh kemungkinan
                       ***

Beralih hari. Ia akan tahu apa yang kumaksud. Dan, kurasa keterpurukan ini cocoknya kita ganti dengan sebutan; manusia yang pekerjaannya acuh terhadap sekitar dan selalu menumpahkan darah saudara-saudaranya sendiri.

"Aku tahu, bahwa ini, adalah dunia sepi." Buat kau yang masih tetap terjaga, "hey!" di luar sana langit memang sedang gelap. Tapi, awas!, jangan sampai kau mengeluh kalau besok kau tak mampu untuk tak merajuk lalu ketakutan sampai napasmu megap-megap, kepala pusing dan mual-mual karena memikirkan suatu kedatangan.
Kini kau sedang panik, hingga dahimu berkerut seakan ada sesuatu yang menyumbat di otakmu.

Menceritakan apa-apa seputar kebodohan yang seperti pagi ini, tiba-tiba ia langsung pergi setelah mematikan lampu dan menoleh ke arah jendela sewaktu melintas di depan rumah Bu Y. Padahal banyak pekerjaan yang belum ia kerjakan sama sekali. Di tengah-tengah berkendara, ia malah teringat dulu ketika cemas ia pernah menulis puisi di kedai kopi ini. Lebih tepatnya kedai kopi yang berada di pinggir Jalan Raya Gelam. "Aku masih ingat, waktu itu ia kemana-mana selalu naik sepeda."
                        ***

Yang namanya koran, itu pasti dan merupakan bacaan yang sangat aku suka. Berbagai berita dari semua bidang, dapat kita baca suka-suka menurut pilihan yang sesuai dengan mood. Selain Laporan Utama, Metropolis, serta Sportaiment aku paling suka dengan kolom (...)
Bosan terkadang kerap menimpaku saat berhadapan dengan teks, yang penuh lipatan imajinasi, seolah kepala terasa membumbung dengan kata-kata di dalam kepalaku ini.
Adem sekali ..ucapan kata-kata Pak Ikhsan, menjadikanku sedikit terbiasa meredam gejolak tentang berita kedatangan. Hal yang tidak diketahui, bagi orang bisa saja tidak membuat orang itu kebingungan dan panik bila tak terjadi keteledoran. Perjanjian, permintaan, kesepakatan, atau sebagaimana adanya perilaku komitmen menyelesaikan suatu pekerjaan.
Usut punya usut, di pagi hari waktu aku dan ia terjaga dalam

Kamis, 04 Mei 2017

Tanpa judul

Cerminan hati orang yang merekam setiap penjelasan yang beliau terima semasa menimba ilmu. Dia selalu bisa; berupaya untuk terlihat terkesan dan tertata begitu apik. 

Kita yang hadir dan mendengarkan materinya dibuat merenung. Dia memang seorang penceramah yang pintar meramu berbagai informasi yang kita ketahui lagi ramai dibicarakan oleh orang-orang. 

Enak didengar dan nyaman ditonton. Pendengar dibuatnya terpingkal-pingkal oleh setiap ide yang beliau kemas dengan bahasa yang cocok dengan kehidupan keluarga sehari-hari.

Beliau yang saya kenal memang sangat lucu, sering membuat orang ketawa sampek sesak, karna basic tradisional Jawi Ngokoh yang diucapnya benar-benar konyol dan memang itu yang biasa kita omongkan dan semuanya dibuat menyadar oleh kata-kata begitu mudah beliau pelesetkan. Sehingga kita semua yang hadir merasa krasan sekali oleh model tausiyah yang beliau kemas tersebut.

Semakin malam. Entah kenapa dikepala saya ini makin terus didatangi oleh referensi yang berubah-ubah dan tak mungkin mampu keinginan ini untuk merangkainya semua dan menuangkannya di lembaran tulisan. Semuanya ini tak terbendung, begitu mudah mengalir tapi sebenarnya bermula dari seseorang yang sangat dihormati dan dihargai sosoknya oleh orang diluar sana. 

Beliaulah yang telah menyulut mengawali kecermelangan berfikir ini  secra tiba-tiba di datangi begitu banyak hal-hal yang asyik untuk disusun dan ditulis.

Banyak yang ingin di sampaikan aslinya. Di sini yang menjadi awalan, yakni naluri indah seorang yang mampu mengemas se-apik, selucu sampai gairah ini terus timbul. Dan sulit untuk menjangkau semuanya; maksudsaya menari apa-apa yang saya lihat sekarang dan ditambah disekeliling angan-angan yang ingin saya tangkap semuanya.berhubungan dengan acara yang mau saya hadiri untuk memupuk motivasi alias merambah pengalaman. Dan ini baru pertama kali. Besok adalah acara launching buku yang diadakan teman-teman dari fakultas Studi Islam atau “Ma’had Putri” di kampus saya. Maka dari itu malam ini. Kepala ini menginginkan untuk merencanakan pertanyaan apa yang akan saya tanyakan nanti. Sering saya bingung seperti saat ini. Sepi. “yang namanya malam ya pasti suasananya gelap” dan ini memang sepi, sendiri, ditemani segelas kopi yang baru saja saya buat sendiri di dapur. Beginilah keadaannya. Saya yakin di luar sana jangankan diluar sana, dan itu pasti ada. karena sepanjang jalan yang di tengah-tengah ada sebuah gang kecil dan gelap, atau disekeliling tetangga rumah ini jelas ada orang-orang yang lagi kumpul dengan segala bentuk keriuhan yang dibikin oleh mereka sendiri. 

Tapi itu mengasyikkan walaupun sedikit. Tapi di tempat saya duduk ini terutama dalam bayangan yang di dalam kepala ini sedari tadi terus tak terbendung oleh kedatangan referensi dan membikin suasana hati ini nggak merasa sepi. Lebih nikmat karena ditemani segelas kopi bikinan sendiri. 

Sekian detik yang tercipta tapi terus bergulir sedikit demi sedikit dan perlahan makin membuat mata ini mengantuk. Tapi ini kepala dan hasrat untuk terus menulis makin mengiang-ngiang. 

Masih penasaran ingin merangkai kata yang terus muncul. Mendeskripsikan omongan beliau seorang penceramah yang asyik mengacu pada acara launching buku yang ditunggu-tunggu hati ini berdebar karena perasaan senang. Cerita yang di tausiyahkan beliau memang cerita yang baik untuk menyaimpaikan pemikira. Kita semua di rangkul dengan kata-kata yang sangat menyentuh emosi. Saya menemukannya kalimat ini cocok untuk dituliskan di sini. Dari seorang  sastrawan favorit saya, makannya saya mengutipnya. “Dan cerita yang baik selalu menjadi perangkat yang tepat untuk menyampikan pemikiran, karena ia tidak pernah menggurui”. Ada lagi “Dan menuturkan cerita yang bagus adalah urusan yang sulit. Dibutuhkan wawasan yang luas dan ketrampilan mendongeng agar gagasan yang kita sampaikan bisa terus melekat di dalam ingatan orang”.

Pertanyaan saya: (saya gugup untuk berkata lewat suara saya sendiri)

“Motivasi saya hadir disini adalah untuk bisa mendapatkan buku ITU. Tapi bagaimana ya caranya? Saya yakin. Sejak pertama saya ngelihat informasi ini. Saya langsung bermimpi “bisa nggak ya, dengan cara saya datang dan menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan lalu menyimpulkan sebuah pertanyaan yang supaya saya memperoleh hasil dari gerak saya datang kesini. Yaitu makna. 


Ceritaku; Gerimis

Gerimis tak membuatku mengingat. Ingat siapa? Teringat sosok belia 
yang pernah mencuri perhatianku saat hujan seperti ini. Masih ingat betul, sosok itu tak pernah lepas selalu menyorot gerak lakuku dari kejauhan. Selalu tanpa sepengetahuanku perhatian ini dicuri 
bilik pagar dan ketika kutoleh dari kejahuan, dia tenggelam. 
Menyembunyikan matanya yang begitu sorot akan kepolosan. Namun jika keberadaannya terlihat,. Mukanya memerah dari kejahuan.
Berlalu, sudah berlalu. Kini ia tak akan mengingatnya lagi. 
Mengingkari akan kelicikkan yang telah ia perbuat. Entah kenapa, di begitu jauh melupakannya. Namun ingatan seperti itu merasuk dalam kenganan yang membuatku jadi semakin terombang-ambing oleh ingatan itu. 
Tak perduli lagi. Kini dia telah terserang penyakit, yang pemyakit 
itu, sekarang bercokol sampai hari ini. Sulit untuk membuangnya. 
Ingin. Semua itu terulang lagi, saya dibuat tak peduli, selalau 
terbayang ingatan saat-saat dulu. 
Kejadian itu selalu menghinggapi di relung pikiran ini. Menghantui 
setiap ku lalui jalan. Berpapasan dengan apapun yang menyangkut 
kenangan itu selalu berdebar-debar dengan sendirinya. 
***
Aku mulai menuju ke tempat teduh yang banyak dipenuhi dengan 
keriuhan dan membeli sepotong kue dibungkus plastik yang dijual olehmbak Santi. berjaga-jaga, sambil sedang duduk, dan sesekali bengong menatap butiran air yang 
jatuh dari pucuk asbes. Saat itu masih gerimis. Namun, air yang 
mengucur dari atas semakin bertambah dan berlanjut hingga memutihkanpandanganku. Tapi itu tak berselang lama, menyusut padang lalu 
berubah lagi menjadi rintik-rintik kecil. 
Tak ada seorang pun understood and come to me. Tidak ada yang 
menanggapi keberadaanku disini. Sakuku yang pas-pasan semakin membuatku termenung, sambil sesekali menengok jam darilayar buatan China.
Hanya memandang ke arah depan,sambil melamun, di sudut kantin ini, 
yang bisa kupandang hanya hamparan halaman luas, hanya ada sepeda 
motor yang terparkir  berjejalan dengan rapi. Walaupun gerimis, 
kendaraan yang berjejalan itu, perlahan-lahan menghilang meninggalkan tempatnya. Banyak orang, mondar-mandir disekelilingku. Mungkin, karena sebuah urusan yang mereka 
pentingkan itu baru saja mereka dapatkan. 
Kini, tetesan gerimis sedikit reda. Namun tetap, satu pun tak ada 
yang menyapa keberadaanku. Meskipun disebelah-sebelahku, riuh dengan obrolan orang-orang lain yang tak kukenal.
Tepat disebelahku, rupanya mereka sepasang kekasih. Sepertinya, 
mereka berdua sedang melakukan survei di sini.  Dengan  serius, 
kayaknya mereka sedang menyusun sesuatu. Tapi, saat itu, dengan 
asyiknya juga, aku sedang merangkai keyword -memikirkan pola yang cocok dikotak search egine -untuk memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri. Tapi, tiba-tiba, karena sebuah bunyi dering dari senjataChinaku ini, dan itu 
merupakan pertanda bahwa gerakku di kantin ini harus di sudahi. 
setelah bunyi dering itu berdering untuk kesekian kalinya. Akhirnya,bukanya kutinggalkan kursi itu. Namun, masih saja duduk disitu 
dengan -tak hirau lagi dengan bunyi dering itu.
Tubuhku terasa lelah, mungkin disebabkan oleh asap yang kuhabiskan 
dari dua batang yang, beberapa orang menyebut ini sebagai penyakit 
menggerogoti kesehatan, juga termasuk syaraf, ini membuatku mudah 
lelah. Tapi, masih saja kuhisap sampai Dari jauh, terlambai sebuah 
tangan dan mengatakan sapaan pamit padaku “mole sek ya”. jelasnya. 
Dia adalah teman sekelasku, yang setiap hari selalu memakai kaca 
mata. Orangnya baik. Sepatah kata pun tak terucap - tak dihiraukan 
sama sekali olehku. 

Euforia Pengangguran

Thursday, February 16.
Ingat-ingat! Kau sudah begini macam, sudah kali ke berapa? Tetap saja tak kau sudah-sudahi tabiatmu ini; tak berubah, berpikir bagaimana caranya; untuk membiasakan sebagaimana adanya ketika orang tua angkatmu datang; pulang, mengisi agenda, bersilaturahim; singgah-berkunjung ke sini.  Kau ini berkerja di rumah rohani, gratis pula, dan dikelilingi orang
-orang berpendidikan tinggi nan salih, pandai dan teguh menjunjung nilai agama. Kau dihidupi, di biayai, di tampung; di kasi tempat yang bagus, nyaman, serta lingkungan yang kental beragama.
***
Kau ini, malam ini, jam 01.09, hari senin, sadar apa enggak si? Berhari-hari yang lalu juga begini. Malam ini jaga masih enggak kapok. Kapan si sadarnya? Ha!? Eforia pengangguran! Apa kau tidak mikir, enggak kasihan melihat raut wajah ibumu itu, enggak ngerti perbuatanmu mendosakanmu, enggak ngerasa kalau itu dosa. Kau enggak mampu menahan, dan terperdaya, lebih milih menghianat kepada Tuhanmu? Makin hari makin bebal otakmu akibat maksiat, dan kepalamu makin buntu dan mati, lalu menjadi pemalas akhirnya. Sungguh... dan kau masih saja terus-terusan mengulanginya. Dan kini, saat tadi, maupun saat kau melangkah, kau seperti orang yang kehilangan kesadaran. Berjalan, sambil kau rasakan bahwa mata batinmu hilang, tak terkendali, pandangan sayu, bagai orang ling-lung yang kebanyakan minum.
***
Pagi sekarang. Dan pagi-pagi sekali kau dengan membawa sepeda menuju ke rumah. Pagi sekali...langit saja masih nampak hitam di langit, dan kini berangsur-angsur rada kebiru-biruan.
Kau yang ketika subuh menjelang tadi, dengan pak Yas yang kemudian seperti biasanya melangkah menghampirimu yang masih saja terlelap tidur, yang dengan tiba-tiba kau berdiri dari tidur, begitu bangun seketika meraih sarung dan berjalan ke koridor berpapasan dengan bapak Yas sebelum sempat beliau membangunkan, kau tergopoh-gopoh menuju ke ruang mikrofon.
***
Ya ampun . . .sekarang, sepagi ini kau tidak sedang lagi ada di sana. Apa kata orang? Kalau dengar bunyi mesinmu berkelindan lewat depan rumah Pak M dan Bu T, berdigik, meyakin, dan menilai bahwa kau sepagi ini sudah keluyuran, seenak diri, beringsut, cabut, (Duh..)
Dirimu memang makin hari makin bebal, mindermu juga bertambah akut, titimbang pemuda seusiamu yang otaknya libih cerdas darimu dan yang paling mencolok, dirimu itu cuma anak canggung yang sekedar eforia penganggur dan kosong oleh angan-angan, gelisah belepotan sebelum berperang, dan kau seorang maniak yang bodoh dan pesakitan.
***
Buku-buku yang kau baca malah tidak memintarkan, tapi malah membuatmu sempoyongan seperti orang ling-lung, otakmu mengerjang, dahi berkerut, pandangan matamu sayu, dan kau jadi mengantuk. Karena kau tak kuat, jadi tak ada yang kau pahami, tidak ada yang bisa di serap, karena memang isi kepalamu sudah kebanyakkan asap rokok yang kau hisap setiap hari tiada jeda. Kepala dan tubuhmu seolah mati kalau tak menghisap rokok.
***
Pagi ini,a ibumu yang tak ada petir tak ada topan belanja kangkung dan bayam membikin masakan padahal, kau tahu, sepeser pun ibumu tak pernah memegang uang tiap harinya. (Aneh)
Ibumu, dengan ikhlas rela mengerjakan itu semua demi kau ,tapi, malah tak kau hiraukan saat beliau bicara tentang ini-itu, menasehatimu, dan tak pernah kau mengindahkannya barang untuk mendengarkan, apalagi menyimak.

Parodi: Bukan Aku Tapi Aku

Aku tak berhasil seperti dia. Untaian penciptaan kata penuh renungan, penyimpulan, penataan akurasi yang runtut, serta penyampaian yang lugas di perjuangkan mati-matian dengan berlatih dalam waktu yang sangat lama. Membunuhmu. Kau, kau selalu mengebiri prilakumu sendiri menggunakan [...] Aku tahu kau dengan raup muka yang sendu, menginginkan kenyamanan tanpa harus bekerja yang memeras keringat. Rasa inginmu itu bukan di sesali, tapi di sikapi. 

Lakukan! Melangkah! Bangun!! Gerakkan badanmu itu! Kau telah membacai tapi kau selalu diperdaya oleh tapimu sendiri. Kau sebetulnya tidak ditakuti, tapi kau sendiri yang membentuk takut itu. Dari balik dahi, kau merasa seperti ada yang menghalangi. Selalu kau bikin dan kau putuskan; percuma! ..dan percuma! 

Kau kerap mengeluh juga, kau tak menyadari bila kau tak mampu sadar bahwa mengeluhmu itu justru makin memperpuruk. Gerak-gerik serta arah matamu selau kau habiskan untuk membetul-betulkan posisi sangkamu terhadap orang lain dan kau amat besar sekali menaruh takut dari dulu.
"Apa-apaan tanpa sebab tiba-tiba perasaanmu meradang menyikapi perintah yang tiba-tiba, malah [...]"

Terlalu mengejar peruntungan maka jadinya kesal dan sesal. Kau tidak pernah fokus dengan pribadimu sendiri. Begitu pun di kelas, dengan sendirinya hati mudah mendidih dengan persepsi salah yang kau tempatkan di tempat yang salah. Hidup glamour atau saling mengingatkan? Banyak pengamatan melahirkan emosi yang memilukan. Kau dinilai kurang berkembang. Apa kau bisa sadar mengenai itu? 

Pikiran baru saja lelah, pusing, sok-sok'an mengernyitkan dahi tapi tak menghasilkan apa-apa. (29)

Kau takut dinilai oleh siapa? Hahh? Tidak soal, berkembang atau tidak..tapi itu yang kau rasakan sendiri. Memang, kau aku akui, kau terlalu lemah. Tiba-tiba menyerah berkata tidak mau. Padahal, kau tahu sendiri itu bagian yang paling kau harapkan. Siang ini adalah bagian. Sebentar lagi awal bulan datang dan pada hari-hari itu semua orang termasuk di sekitarmu, kau tidak tahu, akan biasa-biasa saja atau menegangkan atau seperti apa. Semua sudah atau mungkin, ah!..yaaaa...mungkin, tetaplah tabah dan jangan kau ambil apa pun lalu apa lagi perintah yang tiba-tiba itu kau sikapi dengan salah, merembas sampai ke hati dan wajah yang memberengut kelelahan emosional.