Selasa, 09 Mei 2017

Udar Rasa

Aku tak tahu lagi bagaimana cara merangkai kata-kata menjadi puisi. Ketersambungan tak perlu kugubris untuk yang setelah ini. Dulu gara-gara melihat buku harian warna biru milik Rangga, jadinya, aku malah ikut-ikutan ingin punya buku catatan seperti itu. Tetapi, kini buku catatan itu sudah hampir penuh, dan, jarang sekali aku menyentuhnya lagi; melihat dan membacai lagi. Dia selalu bilang padaku, dan mudah-mudahan aku sadar dan jangan pernah lagi berhenti untuk berlatih menulis.
"Apa yang kau rasakan? Apa?" Itulah pertanyaanmu.

Sayangnya percuma, aku ini pemalas, tak sanggup aku. Aku tak bisa mendengar, aku tuli. Tengkuk dan leherku ini rasanya nyeri sekali karena tiap hari selalu kurang tidur.

Lain halnya di sore hari, waktu itu, saat aku datang untuk balik ke sini, kulihat, beberapa dedaunan kering di halaman mulai banyak dan berserakan. Lalu lantai, yang kelihatannya tampak bersih namun, serpihan debu terlihat jelas sekali meskipun sedikit.

"Aku tak tahu, sebentar lagi ia atau aku yang berlepotan bila terdengar suara mobil yang menderu kencang dengan lampu yang menyorot, lalu kau tergopoh-gopoh memastikannya dengan panik kemudian halusinasi itu akan membekas, semakin membekas dan membuatmu tak keruan dan serba salah."

"Seperti ini rasa sesak dan sepinya  dikerubungi kebodohan itu".

Benar kata orang depan rumah: orang kalau ingin jadi sekaya-kayanya orang, belum pasti orang harus punya latar belakang pernah kuliah setinggi-tingginya. Tetapi relasi dan pengalaman yang terpenting.

"Dan, benar, tercapainya suatu pengalaman, itu pasti atas dukungan wawasan yang ia miliki. Itu berarti, apa kau tahu sesungguhnya perbedaan antara ilmu dan pengetahuan. Ayo pikirkan!"

Makhluk yang selain kita, (manusia) mereka itu tidak di lengkapi oleh kemungkinan
                       ***

Beralih hari. Ia akan tahu apa yang kumaksud. Dan, kurasa keterpurukan ini cocoknya kita ganti dengan sebutan; manusia yang pekerjaannya acuh terhadap sekitar dan selalu menumpahkan darah saudara-saudaranya sendiri.

"Aku tahu, bahwa ini, adalah dunia sepi." Buat kau yang masih tetap terjaga, "hey!" di luar sana langit memang sedang gelap. Tapi, awas!, jangan sampai kau mengeluh kalau besok kau tak mampu untuk tak merajuk lalu ketakutan sampai napasmu megap-megap, kepala pusing dan mual-mual karena memikirkan suatu kedatangan.
Kini kau sedang panik, hingga dahimu berkerut seakan ada sesuatu yang menyumbat di otakmu.

Menceritakan apa-apa seputar kebodohan yang seperti pagi ini, tiba-tiba ia langsung pergi setelah mematikan lampu dan menoleh ke arah jendela sewaktu melintas di depan rumah Bu Y. Padahal banyak pekerjaan yang belum ia kerjakan sama sekali. Di tengah-tengah berkendara, ia malah teringat dulu ketika cemas ia pernah menulis puisi di kedai kopi ini. Lebih tepatnya kedai kopi yang berada di pinggir Jalan Raya Gelam. "Aku masih ingat, waktu itu ia kemana-mana selalu naik sepeda."
                        ***

Yang namanya koran, itu pasti dan merupakan bacaan yang sangat aku suka. Berbagai berita dari semua bidang, dapat kita baca suka-suka menurut pilihan yang sesuai dengan mood. Selain Laporan Utama, Metropolis, serta Sportaiment aku paling suka dengan kolom (...)
Bosan terkadang kerap menimpaku saat berhadapan dengan teks, yang penuh lipatan imajinasi, seolah kepala terasa membumbung dengan kata-kata di dalam kepalaku ini.
Adem sekali ..ucapan kata-kata Pak Ikhsan, menjadikanku sedikit terbiasa meredam gejolak tentang berita kedatangan. Hal yang tidak diketahui, bagi orang bisa saja tidak membuat orang itu kebingungan dan panik bila tak terjadi keteledoran. Perjanjian, permintaan, kesepakatan, atau sebagaimana adanya perilaku komitmen menyelesaikan suatu pekerjaan.
Usut punya usut, di pagi hari waktu aku dan ia terjaga dalam

Tidak ada komentar :

Posting Komentar