Selasa, 31 Oktober 2017

Quddus

Aku masih ingat, aku punya kisah lucu tentang aku dan kakaku empat tahun yang lalu, ini terjadi 18 September 2013. Kali ini aku ingin bercerita mengenai hari itu. Kakakku namanya Firdaus. Aku biasa memanggilnya Kak Daus. Ia lebih ganteng ketimbang aku. Tubuhnya proposional alias biasa-biasa saja. Sementara tubuhku, bisa dibilang ~agak sedikit~ gemuk meski aku sendiri tidak merasa seperti itu. Hehe.. Pernah di suatu sore, ceritanya waktu itu di GOR Sidoarjo ada pertandingan antara Indonesia U 19 melawan Malaysia U 19. Aku bingung saat itu enaknya siapa yang kuajak, sebab, bagiku ini adalah momen yang sangat langka dan aku ingin sekali menyaksikannya secara langsung. Maka kuajak dia untuk menemaniku nonton sepak bola. Waktu itu pukul empat sore dan kebetulan, dia dan penghuni rumah semua tengah berada dirumah. Pada saat itu ia sedang sibuk di kamarnya. Aku tahu apa yang sedang ia lakukan di dalam. Hehe.. Sengaja tanpa kuketuk pintunya aku nyelonong masuk begitu saja dan langsung kukatakan, "Mas ayo delok bal-balan nah, neng GOR?"

"Dik, gak delok pas semifinal ae tah," jawabnya tak semangat.

"Yo males kak, nek totok semifinal ambek final wedi kelarangen regane!" Bantahku.

"Owalah! yowes ayo." ujarnya, dengan nada terpaksa.

"Oke! Siap yoh?" tukasku, seraya berlalu begitu saja.
Kemudian aku langsung mandi dan membersihkan badan.

Dalam hati aku girang, "Hore!!..Alhamdulillah aku akhire onok koncoe delok. arang2 aku delok tim nasional Indonesia secara langsung neng ngarep moto, Mugi Indonesiaku Menang atau minimal seri lah ben isok langsung neng semifinal ngancani Vietnam"

_Ba'da Maghrib pukul 18:30_

Setelah shalat, kak Daus dan aku tengah bersiap-siap untuk berangkat menuju ke Stadion Gelora Delta Sidoarjo dengan menaiki motor. Begitu sampai, waktu itu masih menunjukkan pukul 18:40. "Uuh! Akhirnya sampai juga," kataku dalam hati.

Waktu itu kita belum membawa tiket. Saat itu aku tidak membawa apa-apa, selain dompet dan HP nokia serta tubuhku sendiri. Saat yberada tepat di depan Stadion, kami berdua kaget dan kagum melihat ribuan suporter berkaos merah dan berjaket merah yg bergambar burung Garuda yg di tempelkan di dada dari seluruh penjuru Indonesia. Kami tidak langsung masuk stadion, kami berdua malah berada di depan layar tancap yang kala itu disediakan diluar sambil mengamati para komentator yang bercengkrama membahas tentang jalannya pertandingan dengan menggebu-gebu dan terdengar berisik sekali menurutku.

pada saat pukul 19:15 aku terpisah dengan sang kakak, waktu itu sang kakak berkata (dek aku tak mlaku-mlaku sek yah entenono neng kne) lalu aku menjawab (iyo ojok suwe2 mari iki main) lalu sang kakak kembali bersuara (iyo)

Pada pukul 19:20 hatiku gelisah dan pikiranku kacau setelah sekian lama menunggu sang kakak untuk kembali di hadapanku. Tidak lama kemudian sang kakak mengirim sebuah pesan SMS (dek aku saiki wes mlebu neng stadion neng VIP) lalu aku membalas (oooo gk ngomong ket maeng, sampean oleh tiket teko endi) lalu sang kakak membalas (sorry aku ketepak'an isok mlebu, aku maeng macak dadi wartawan, aku maeng alasan kate meliput) lalu aku langsung berjalan mencari tiket. Setiba aku berada di depan tribun VIP secara spontan ada seseorang menjawil dan memanggil aku. Beliau berkata (mas mas sampean grong duwe tiket tah) lalu aku menjawab (dereng mas, wonten nopo?) dan beliau menjawab (mas aku gk sido ndelok bal aku terpisah ambk kluarga iki tikete sampean tukuen ) lalu aku menjawab (pinten mas)? Dan beliau menjawab (85rb) lalu aku kembali bersuara (80 ae mas sampean kan bati 5 ewu) lalu beliau bersuara (oh iyo wes Gpp).

Minggu, 22 Oktober 2017

OMG!

Sunday, October 22

Saat di bilang "Aku lagi capek ini dari kemarin", badanku mendesir seketika. Sebagaimana aku, Instingku yang lebay tentu larinya ke "sok tahu" Ingin membantu berbagi. _berbagi apa'AN_ Ingin jadi pahlawan. Membantu dari jarak jauh. OMG! Apa bisa? diriku bukan lelaki humoris yang dapat menghiburmu. Sungguh kuakui. Apalagi dari jarak jauh. "Kepalaku geleng-geleng", apakah saat kuajak ngobrol waktu itu dia merasa bete kali ya. Apa mungkin dia merasa tergangggu sekali waktu itu? Apa waktu itu dia sebenarnya sedang gusar tapi sungkan? Mmm.. Entahlah. Diriku memang bodoh dari dulu. Apa unsur egois kali ya? Tapi siapa? Jelas aku. Memang si ....
waktu itu aku yang lebih banyak mengajukan berbagi pertanyaan.

Rabu, 18 Oktober 2017

Review

*"Sweet seventeen"*

*#1*
_Tak kiranya diriku menyangka air mata menjadi senyuman. Mengingat ketika air mataku membasahi pipi yang tiada henti. Aku terjebak antara Keheningan kesunyian, dan kesedihan_

*#2*
_Permintaanmu yang selalu ku ingat dimemori kecil ini ..kini tinggalah sebuah nyanyian tak berirama. Kau yang membuatnya seperti itu. Tak pernah sekali kau memperbaikinya. Alunan musik tak mengiringi setiap bait lirik yang terucap. Apakah kau tahu bahwa lagumu tak pernah lagi sampai pada sang pelangi? Kenapa begitu? Karena kini Pelangi telah menutup diri disebuah pintu rahasia hingga tak sembarangan  orang bisa masuk_

*Lalu kau mengatakan,*
_"Masih ada lanjutannya kak,"_
                     ***
*Rabu, 18 Oktober 2017*

*Pertama#1:*
Kau menggunakan kata "Air mata" lalu "Aku terjebak ~diantara~ keheningan, kesunyian dan kesedihan".
"diantara" berarti ada dua sisi; dua tepi. Sisi pertama, kau dilanda sedih dalam keadaan sepi&sunyi.
_keheningan dan kesunyian adalah keadaan luarmu_ sedang, _kesedihan dan air mata, adalah kedalamanmu

Jumat, 13 Oktober 2017

Mail

Friday, Oktober 2017
17:24 - 03:37

Enggak krasa ya, cepat banget sudah hari jumat. Aku masih keingat terus waktu minggu lalu kita ketemu. Aku, tanggal 12 kemarin, sebenarnya ingin sekali pergi ke sana. Aku punya bayangan kalau kemarin aku ada di sana, mungkin pandanganku akan mencari keberadaanmu lalu berusaha memandangmu biarpun dari kejauhan.

Dengar baik-baik, bahwa tidak sedikit perbedaan antara aku dengan sampeyan, itu memang. Misalnya: dari segi umur lalu pengalaman merasakan jatuh hati, patah hati, kedewasaan, kepribadian, sifat ceroboh, gaya belajar, pengalaman spiritual maupun sosial, bakat, kesukaan, mimpi dan cita-cita. Memang sengaja diciptakan dengan potensi yang berbeda dari tiap makhluk dengan yang lainya. O iya, ada satu lagi. Jarak -skala ruang dan waktu yang memisah diantara kita, bagiku juga beda. Intinya mauku itu adalah, aku khawatir dan aku tidak ingin kamu lupa denganku. Aku ingin tetap kenal satu sama lain, sampai kapan pun.

Akan tetapi ..

Yang membuatku cemas adalah, hubungan seperti apa yang nantinya bisa terus langgeng serta Simbiosis Mutualisme? Apa kamu punya usul? Kamu boleh usul. Aku punya usul. Hubungan yang sarat kekeluargaan. Hubungan ukhrawi dalam dunia tulis-menulis. Lebih dari sekadar teman, sahabat atau jalinan adik dan kakak. Ibarat, keterbukaanmu terhadap orang terdekat sekitarmu seperti anggota keluarga, teman sejawat, soulmatemu atau cinta monyetmu, semua itulah yang aku ingin. (Apa terdengar berlebih?)

Tapi bukan berarti, aku punya maksud tertentu atau apa. Pokoknya, jalinan yang terkandung nantinya, sarat akan agama, kebudayaan, kependidikan, lingkungan, daily life, karya sastra, buku harian, curahan hati, kumpulan cerita pendek, puisi. (Kamu boleh usul)

(*) insyallah kuteruskan lagi minggu depan.
                         ***

Saturday, October 14
To: Lailatul Badiyah

Assalamu'alaikum wr wb
Ini kutulis ketika aku sibuk dengan beberapa urusan sepele di dalam kamar selepas jama'ah maghrib. Aku sedang cemas memikirkan berbagai hal sore itu dan aku makin bingung dengan diriku sendiri saat mendapati pesan darimu. Aku akui, surat yang aku tulis kemarin memang terbilang sangat mengekang buatmu.

Mbak, mengapa percakapan kita kemarin di What'sApp! rasanya kok agak enggak nyambung ya?
Di bilang kenal, nyatanya juga tak seberapa. Hanya sekadar tahu, itu saja. Pean tahu soal aku dan aku tahu soal pean itu tak terlepas hanya sewaktu bergulirnya acara KKN yang berada di dusun Tlocor.
                               ***
Sunday, October 15.
Pukul 21:45

Setiap hari, rasanya kangen muluuu. ...padahal kalau di flashback, kita ngobrol (duduk berdua) indepth hanya dua kali. Bener. Yang pertama saat aku berkunjung seorang diri lalu duduk di ruang tamu dan aku ngasih lihat draft contoh puisiku lewat hape dalam aplikasi Blogger. Kemudian hari minggu lalu sewaktu kamu tiba-tiba nongol dari balik jendela karena aku panggil secara sembunyi-sembunyi.

Senin, 09 Oktober 2017

Sehirup Malam Sendiri

<Senin, 9 Oktober 2017>

"Sejenak, sejengkal, sesaat, sepandang, sehirup, sepintas, sebebas, dan sekejap"

kuhirup malam dalam-dalam
kubatin ini malam dalam diam
Sebebas suasana nikmat sekeliling  dengan jelas
pandangku menengadah ke langit

di tiap-tiap sudut  di tempat paling ujung, dermaga Tlocor

Di mana pun tempatnya, dalam keadaan apa, bertemu dengan siapa, akan timbul sesuatu yang di sebut 'rasa' atau 'kesan'. Aku menyebut hasil tulisku ini sebagai bentuk dan sebagi bagian dari ungkapan 'rasa' atau 'kesan' yang kualami.