Senin, 30 Januari 2017

Parodi Berbicara

Ya begitu itu!
Apa?
Siapa?
Diri.
Melut-melut kemelut ..."
Apa? Apa? Mau pakai kata-katanya siapa?
Dada kempis. Pengap-pengip.. Tak kuat aku.
Seperti ombak mengobang-ambingku.
Lemah. Tak karu-karuan.
Pundak serasa berat. Tak berkutik.
Kaku jalannya, sempit langkahku, tengkukku diam menegang.
Ya begitu itu!
Ya begini ini!
***
Di semak-semak yang belukar, di rimbun-rimbun alan-alang, di balik rerumputan-rerumputan yang kemilap basah, reranting, dan sela-sela dahan-dahan pohon, udara yang dingin menyejukan, tenang oh!...inilah pagi.

Talu-bertalu suara ayam sahut-menyahut, bunyi kicau berkicau segala makhluk yang di sebut burung, suara derak yang sangat ritmis aneka serangga semuanya bergantian mengalun menjadi satu.

Sesaat setelah berjalan ke sana dan berjalan ke sini, ke dapur-ke kamar mandi, mengambil ini-mengambil itu, menata ini-menata itu, masuk ke kamar dan masuk ke kamar lagi, mengambil sapu-mengambil gelas, melipat ini-melipat itu, bolak-balik ke pojok kamar, mengangkat, mengulung, melipat, menaruh, membawa dan membawa lagi, meletakkan dan meletakkan lagi, mendorong, mengusap, memutar, mengubah, menggeser, menghampiri-menanggalkan, satu per satu, akhirnya lamunan mematahkan semuanya.

***
Beberapa waktu kemudian...

Duduk dengan membolak-balik koran, secara sekilas dan sekilas
Lembar demi lembar tiap judul berita
Serta perut yang semakin mulas, kepalaku bergeming menatap lembar dan lembar dari judul berita; serasa malas. Lemas sekali badan ini

Minggu, 15 Januari 2017

Ricauan bersungut-sungut.

Ricauan bersungut-sungut.

Keadaannya tak berubah. Merasa paling baik, dan lepas dari stigma teori orang-orang yang dinilai terlalu relatif.
Ngomongin keberilmuan di kalangan orang-orang relatif itu, yang kebanyakkan cuma mengadalkan metode hafal yang memaksa, hadir yang terpaksa, menyimak juga terpaksa, pantas mereka jadi sok tahu. Tahu ya.. tahu, pernah..ya pernah tapi, tak selalu tak teraplikasikan. Suatu apa pun bisa jadi ilmu, kalau selalin kadar manfaatnya, juga kita sinambungkan lewat di amalkan, Kita sertakan dalam rutinitas sehari-hari.

Ini khususnya bagi kalangan yang sering di dengungkan dengan istilah generasi milineal. Generasi yang membuka mata bersamaan pada masa bomming teknologi informasi secanggih-canggihnya banyak membuat manusia jadi individual. Ada lagi selain itu, mereka yang dikatakan primitif kadar kementallannya juga ada. Mereka diperbudak oleh “Ungkal Pintar” hehe.. Bagaimana tidak, senantiasa, dan salah satu pemicu yang membikin mereka individual.

***

Kekecewaan di dalam hati, selalu salah, dan merasa semua yang direnungkan telah benar. Menyikapi tentang kehidupan dengan abal-abal. Mencoba menarik, merangkul, dan  menghimpun, tapi tak didasari ilmu. Semua tahu, jika kita semua ini sebetulnya sangat berpotensi. Jauh dari kata uneg-uneg, semua pasti ada di setiap hati. Resah setelah bergelut dengan atau masih lebih baik ketimbang berjibaku tidak karena apa-apa, di tambah apa lagi yang tidak pada tempatnya.

Ketika berhadapan dengan lain jenis akan sulit, disebabkan terlalu banyak berdiam dan meremehkan satu kalimat yang namanya pengalaman. Sejauh sebelum itu, sudah keok. Di suruh cari, berbaur, mengkonklusi, dan jangan mudah putus asa. Pelan-pelan saja, itulah yang tak bisa, selalu gagal pada kalangan primitif zaman bocah milinial.

Kau selalu gampang hanyut, oleh setiap alunan dan senandung lirik. Nuansa lagu melo menyeret segala acara penghimpunanmu. Haluan naik-turun, fokus makin redup seiring lagu, sederet genre yang berubah-ubah. Lagu yang menghentak, membimbangkan, ikut-ikutan lebay-nya lirik lagu, ikut-ikutkan sedih, sok menjiwai, segalanya cocok karena posisi hatimu juga sama. Terhempaslah kau! ..

Selalu cari kepastian, itulah manusia. Tapi manusia ini sudah kehilangan daya kasih sayang. Tak tahu wujudnya ego itu kayak apa, disebabkan dalam dadanya penuh sekali ego. Jangankan ego, tak tahu juga arti penting simpati dan empat, apalagi perbedaan diantara keduanya.