Kamis, 16 April 2015

http://bengkelsastra.net/blog/membaca-puisi-esai/

Biasanya sebuah karya dinyatakan sebagai fiksi, jika ia berbentuk lazim dalam cangkang konvensional fiksi. Ceritera pendek, puisi, novel, dan sejenisnya—yang banyak dikenal orang—lalu orang akan mempelajarinya pula sebagai teks fiksi. Sejak kecil, kita sudah dipakani soal-soal ujian, “Apa beda fiksi dengan fakta?”, “Manakah yang fakta dari paragraf ini?”, dan “Apa itu fiksi?”, serta beragam kanon-kanon lain.
Pada tahun 2012 muncul sebuah karya sastra yang tidak lazim. Kalau dulu pada tahun 70-an dan 80-an ada bentuk karya mantera kontemporer, maka tahun itu muncul karya puisi esai. Adalah Denny JA, yang pertama-tama memperkenalkan bentuk ini dalam kumpulan puisinya, Atas Nama Cinta, yang diterbitkan pada tahun 2012. Ia memberikan batasan-batasan tersendiri pada jenis puisinya. Hal yang hanya pernah dilakukan oleh Tardji dan Chairil pada masanya. Ia beranjak dari keprihatinan sebagai  seorang cendekiawan sosial politik, yang melakukan survei dan menemui kenyataan bahwa puisi-puisi yang beredar di koran-koran minggu tak bisa dipahami masyarakat dan cenderung sadistis.
Puisi esai, katanya, adalah puisi yang berangkat dari kenyataan. Ia digunakan untuk membuat orang—pembaca—lebih memahami kenyataan ketimbang berpusing-pusing menerjemahkan puisi menjadi kenyataan. Secara fisik, puisi ini tidak memiliki perbedaan spesifik dengan puisi lain, namun dilengkapi dengan catatan kaki. Nah, persoalan inilah yang secara krusial membedakan puisi esai dengan puisi jenis lain. Dalam contoh yang telah ada, puisi esai memang dibuat untuk mengabadikan peristiwa sejarah, tokoh besar, atau mengenang-ngenang tragedi.
***
Catatan kaki, tulis Denny, berfungsi sebagai pelengkap atau penjelas fakta dalam sebuah karangan ilmiah. Ia bertugas memberikan fakta-fakta yang dengan itu sebuah karangan menjadi kaya. Di sinilah bedanya. Apa jadinya ketika puisi diberikan catatan kaki? Imajinasi tidak pernah salah, kata sebagian seniman. Ia hadir bukan sebagai reproduksi kenyataan, melainkan abstraksi-abstraksi pengalaman personal seniman sebagai imajinasi. Yang jadi soal, sudah tentu pengalaman hadir dari reproduksi kenyataan dalam alam pikiran seniman. Di sini letak keunikan puisi esai. Ketika sebuah puisi sudah dipahami sebagai abstraksi pengalaman penyairnya, sisi ke-esai-annya menghadirkan fakta untuk membuat si puisi menjadi lebih dari abstraksi dan imajinasi. Ignas Kleden, dalam epilognya di Atas Nama Cinta jelas mengatakan bahwa catatan kaki bukan bagian organis dari puisi. Artinya, ia tak harus ada sebagai puisi. Namun Sapardi di sisi lain menjelaskan, banyak penyair di luaran sana yang menggunakan catatan kaki sebagai alat tambahan untuk memperkuat puisinya. Catatan kaki bukanlah masalah besar, simpul ketiga budayawan kita ini. ia hanya organ puisi esai untuk mengikat puisi dengan kenyataan, dan sebaliknya.
Lagi-lagi arah diskusi ini disimpangkan oleh pernyataan Denny—sebagai penemu, atau setidaknya penggagas—bahwa catatan kaki justru sebagai bagian sentral dari karyanya. Ini mengandung pengertian bahwa puisi ini tidak menjadi puisi esai jika tidak bercatatan kaki. Justru puisi ini diciptakan berdasarkan fakta yang ditulis kembali pada catatan kaki. Ide yang menarik dilontarkan Tardji dalam epilognya, juga untuk Atas Nama Cinta (Hei, perhatikan bahwa tiga budayawan besar memberikan epilog secara bersamaan). Kalau memang puisi esai dan catatan kakinya mampu menghadirkan imajinasi dan kenyataan di waktu bersamaan, apakah puisi jenis lain tak mampu?
Sebagai contoh, sajak-sajak Rendra: Orang-orang Miskin, Sajak Lapar, Rick dari Corona; sajak-sajak Taufik: Sebuah Jaket Berlumur Darah, Karangan Bunga, Buku Tamu Musium Perjuangan; lalu sajak-sajak Joko Pinurbo: Tuhan Bakal Datang Malam Ini, Monyet, Celana, dan lain-lain jelas menunjukkan bahwa itu puisi diambil dari kenyataan, lalu diabstraksi oleh pengalaman penyairnya. Namun, ada garis tegas yang membuat puisi esai berbeda secara pragmatik dengan contoh-contoh di atas. Puisi esai tidak menghadirkan fakta sebagai fiksi. Tentu kita sudah sama-sama maklum, bahwa sefakta apapun sebuah data, ia akan menjadi fiksi ketika dibuat menjadi karya sastra.
Puisi esai tidak membuat fakta menjadi fiksi, dengan memisahkannya secara jelas dalam tubuh puisi. Satu lagi keistimewaan puisi ini, bahwa fakta diijinkan tetap menjadi fakta dan lepas dari prasangka penyairnya dalam catatan kaki yang dijadikan tubuh puisi. Ia memberikan ruang bagi fakta agar tak kehilangan ruh dalam imajinasi penyairnya, dan membiarkan fakta-fiksi hidup berdampingan lalu disajikan sebagai puisi dalam waktu bersamaan.
Irwan Bajang, pimpinan penerbit Indiebook Corner memberikan ulasan yang cukup menarik. Dalam setiap karya sastra, pasti terdapat fakta yang dibicarakan dengan cara fiksi. Permasalahannya, bukankah mustahil fiksi bisa lahir tanpa penyetubuhan pengarang dengan kenyataan? Ini sudah menjawab persoalan jarak fiksi antara sebuah karya dengan kenyataan yang ingin difiksikannya. Seno Gumira membuat cerpen berdasarkan pengalaman jurnalistiknya yang luas. Saksi Mata misalnya. Tetapi, cerpen-cerpen Seno tidaklah bisa dikatakan “Cerpen Jurnalistik”. Sebagai bandingan, belakangan juga muncul genre jurnalisme sastrawi. Tetapi, hasil jurnalisme ini tetaplah bukan sebuah karya sastra atau dipahami dengan pendekatan sastra. Esai tetaplah esai, dan puisi tetaplah puisi.
Akan tetapi, puisi esai—bantah Tardji—adalah puisi yang pintar. Justru karena kelebihannya menjadikan fakta tetap fakta dalam Find your State’s Official Health affordable-health.info Marketplace. tubuh fiksi itulah, puisi ini mampu membuat pembacanya memahami kenyataan lewat puisi secara lebih gamblang. Membaca puisi ini akan seperti baca ensiklopedi yang ditulis mirip puisi. Bisa diartikan, puisi esai adalah puisi yang asalnya dari kenyataan, bukan akusentris semata. Kalau ada puisi pintar, tentu ada puisi bodoh. Dialektika Tardji rupanya sampai hati bilang begini: Puisi bodoh, adalah  puisi yang hanya berasal dari akudiri dan diadiri pengarangnya. Seumpama manusia yang selalu akusentris.
Tidak ada karya sastra yang menjadi rujukan berita atau sejarah secara otentik. Sampai titik ini, Denny sadar betul, bahwa sastra memiliki jarak fiksi yang cukup jauh dengan kenyataan. Itu sebabnya diciptakan karya sastra, bukan? Untuk memperhalus kenyataan agar orang bisa menentukan sikap terhadap kenyataan tersebut. Namun jarak yang jauh ini masih diperlebar dengan diksi-diksi gelap puisi konvensional yang muncul di koran-koran oleh penyair belakangan. Dengan demikian, puisi esai hadir untuk mengisi celah ini. celah yang harusnya dinikmati masyarakat ketika membaca puisi.
Dalam kumpulan puisi esai yang lahir juga atas prakarsa Denny, Dari Rangin ke Telepon, Acep Zamzam Noor memperbandingkan puisi esai—yang dibilang genre baru ini—dengan karya-karya puisi Sunda Modern. Ia menemukan bahwa karya ini, secara durasi mirip dengan prosa liris yang sudah digunakan sejak beribu-ribu tahun lalu oleh sastrawan lokal. Pada era yang lebih kini, Linus Suryadi melalui Pengakuan Pariyem, membuat bentuk yang mirip sekali dengan puisi esai, hanya tanpa catatan kaki kecuali oleh penyuntingnya sebagai penjelas kata-kata dalam bahasa daerah. Alih-alih membuat definisi, Acep malah bersyukur bahwa ada orang yang masih peduli pada puisi dan mengembangkannya.
Sampai sini, kita bisa menyimpulkan bahwa kontroversi puisi esai bukan terletak pada bentuk tipografinya, tetapi konsekuensinya yang menghadirkan fakta dan fiksi secara bersamaan, dan meletakkan catatan kaki sebagai tubuh utama puisi.
*
Saya tak mau membohongi diri. Rasa ingin tahu Denny, berujung pada ketidakpuasan atas medium yang ada selama ini. medium puisi yang ada, terlalu gelap, dan malahan memuaskan hasrat penyairnya saja tanpa bisa ditembus oleh pembacanya. Saya rasa, saya sepakat kalau ada yang bilang bahwa ketidakpuasan Denny kepada puisi, juga mewakili ketidakpuasan masyarakat secara umum. Untuk itulah, dia memilih tidak menulis puisi dengan cara yang sudah ada. Dia membuat genre ini agar masyarakat luas bisa memahami dan berempati terhadap kenyataan yang terjadi lewat puisi. Untuk itulah, puisi esai bisa dinikmati, atau—lanjut Denny—terkubur karena masyarakat tak menyukainya. Ia akan terkubur sebagai sejarah jika memang tak berhasil bertahan.
Sekarang, kalau anda ditanya lagi, apa itu fiksi? Apa bedanya dengan fakta?Saya tidak menyarankan anda menjawabnya. Sebagai gambaran utuh puisi esai, saya kutipkan puisi esai karya Kedung Dharma Romansa, yang berjudul Rangin:
Dermayu[i] pergi,
ia berlari menuju masa lalu
seperti kijang mas
yang hilang di bantaran Cimanuk.
Ini cerita
tentang politik dan kekuasaan yang melumpuhan
kaki kiri tanah Jawa[ii].
Adalah nasib,
yang dirampas dari tangan ibumu
adalah kamu,
yang tumpas masa depanmu.
Kapan kau akan pulang dan menyalakan lampu?
Jam berapa sekarang?
Apa yang kau tahu tentang sejarah?

Tidak ada komentar :

Posting Komentar