Jumat, 23 Maret 2018

#JustKidding

Friday, March 23
..

Saya sengaja. Sengaja berlatih. Dan sengaja belajar.
Dari awal saya menahan untuk tidak menggunakan smile. Kembang-kempis saat saya menarik napas seolah-olah kayak sesak dan ngilu sekali rasanya sembari membayangkannya kembali. Rasanya sekarang ini saya ingin sekali mencari ide untuk menuliskan isi dalam dada dan kepala ini. Sebab tidak mungkin emosional ini di udar dalam setiap percakapan di What'sApp!. Saya jadi curiga apa ini dorongan nafsu. Jangan-jangan semua ini memang gara-gara nafsu. Apa ini semua disebabkan oleh hasutan setan, saya tak sabar rasanya ingin menjamah seutuhnya dan segera memilikimu.
Oh Tuhan!
Mungkin sebaiknya saya harus memperbanyak istighfar agar selamat. Juga berzikir untuk membendung prasangka aneh supaya tidak menjalar atau menyebabkan saya menjadi gila.
Sekarang pukul dua belas lebih dua puluh satu. Saya sedang dalam perjalanan. Perjalanan sepulang dari cabang.

#justKidding🙈

Jumat, 09 Maret 2018

Kaos Kuning

((Friday, March 9))

Sore ini aku memakai kaos warna kuning. Tapi pagi tadi pas berangkat aku memakai kemeja kotak-kotak warna hijau. Tapi aku juga menyimpan satu kemeja cadangan lagi dalam tas. Sepulang dari tempat kerja kemarin malam kemudian sepulangku dari sebuah tempat yang gelap dan terpencil, saat sudah di rumah, ketika selesai bikin nasi goreng di dapur lalu kemudian setelah itu nasi goreng buatanku kutawarkan pada ibu untuk mencicipi, lalu ternyata ibu juga kebetulan belum makan waktu itu dan kemudian akhirnya kami berdua dengan menghabiskannya dalam waktu beberapa saat dan pada saat itulah, ketika selesai dan sewaktu aku tidur-tiduran telungkup sembari membaca buku kumpulan cerpen di atas kasur, kurasa ibu memerhatikanku dari jauh sambil pura-pura. Biasanya ibu bersikeras mengajakku ngobrol. Bila sudah seperti itu mau tidak mau otomatis aku mesti membuang jauh semua buku-bukuku saat sebelum beliau memulai bicara. Semalam sepulang dari tempat kerja dan pada saat ibu pamit mau pergi mengikuti pengajian rutin muslimat, begitu setelah ibu pergi, mumpung beliau sedang tidak ada di rumah, aku meraih tas kembali dan memakai sepatuku lagi terus aku juga pergi keluar. Kau mau tahu ke mana aku keluar? Mending tak usah lah. Selagi ibu masih belum balik pulang ke rumah aku memikirkanmu di suatu tempat yang gelap dan kecil. Di dalam tempat yang cukup sempit itu air hujan membentur pada sela-sela atap seng yang bolong di sana-sini, merembet turun dan membasahi dinding yang terasa dingin. Dan aku tak perduli sama sekali karena aku tengah memikirkanmu dalam hening. Meski kaos warna kuningku saat ini masih tetep tertempel ditubuhku, jiwa dan sekeliling ruang di dalam tubuh ini tetap. Tetap buram dan tidak berwarna. Kesepian telah memakan habis kewarasanku. Sekarang ini aku masih tetap mengenakan kaos berwarna kuning. Aku yakin kaos yang kupakai ini bersih dan tidak kotor karena pada waktu  bongkar-muat di dalam trek di tempat kerja keringatku tidak kutumpahkan pada kaos kuningku ini. Kaos berwarna kuningku ini sengaja tidak kukenakan. Tapi kulepas dan kusampirkan di atas tumpukan roll bahan-bahan di gudang. Sehingga kemudian begitu trek selelai di tutup dan terisi penuh,  kubasuh keringatku di bawah kucuran air kran setelah itu kupakai kembali kaosku berwarna kuning ini. Aku sengaja membawa baju ganti dan kutaruh di dalam tas ketika berangkat dari rumah. Aku membawa dua. Satu kaos dan yang satu kemeja warna coklat.
Asumsi belaka, tak ubahnya kesan indera belaka. Pikiran dan akal. Apa-apa yang di alami dan di rasa. Apa bedanya. Seputar yang dirasakan saja. Apa-apa yang diserap, menimbulkan kesan-kesan. Aku terus-menerus bingung bagaimana supaya kujelaskan padamu yang sejak kemarin kau menanyaiku siapa aku. Aku yakin bahwa kau adalah sosok yang sangat pemalu. Itu sangat terbukti sekali. Karena aku berfirasat kau ragu dan diam menyembunyikan sesuatu dariku.