Senin, 25 Mei 2015

dari baca Wu Wei kecipratan Hobi

InsyaAllah nggak banyak-banyak kok.  Oke. Saya mulai dengan kata nggak tahu kenapa. Iya, memang, saya pun jadi bingung tapi, lama-lama jadi kepingin, dan iri.
Terceritalah . selama satu setengah musim saya mengikuti kuliah di kampus beberapa bulan yang lalu, saya sering dapat informasi dari surat kabar (Jawa Pos) yang saya pinjam dari majikan saya. Ya bisa dibilang sangat nemen ukuran badannya alias kegendutan, makannya, dia setiap pagi selalu jalan-jalan keluar  untuk olahraga kecil-kecilan supaya badannya agak sedikit suda. Tapi dia nggak pernah untuk menyempatkan beli koran meskipun waktu sudah kelihatan agak siang.
SayaJika diingat-ingat saya adalah orang yang  dulunya sama sekali nggak pernah membaca. Apalagi, disebut gemar membaca, Wuh! Kemampuan mengingat saya sangat jeblok sekali. Makannya, kalau membaca si membaca tapi,  sangat gampang sekali luntur, setiap bacaan apa pun yang saya baca. Tapi, saya menanggapnya ini sebuah ke-memangan bagi saya. Jangankan membaca, dari dulu guru/dosen ketika sedang ngomong biasa atau ngomong materi yang, setelah itu besoknya ditanya, pasti lupa.
Ketika kepala mulai pusing dengan materi apa pun yang dosen berikan, saya tak pernah menghiraukan. Tapi, ya bukannya tidak menghiraukannya sama sekali. Lalu saya mengindikasi sepertinya hati ini bergemuruh tapi nggak di sini.
Dan saya merasa, agaknya separoh nggak cocok dengan jurusan yang saya pilih. Lalu, yang saya maksud dengan kalimat “nggak tahu kenapa” tiba-tiba saya melampiaskannya secara nggak sengaja dengan membaca koran, milik majikan saya. Lalu, nggak tahu kenapa lagi, yang saya baca kebetulan itu edisi hari Rabu. Dari apa yang saya baca, kemudian, hati ini timbul perasaan iri, iri yang sedalam-dalamnya (enak kali ya, pengalaman yang selalu tersirat di dalam kepala jika di bahasatuliskan lalu cerita kita di kutip di media cetak; pasti seru!) 
Lalu, nggak tahu kenapa lagi, saya di buat terkesan dengan, cara bertutur dari tulisan yang ada di kolom “Ruang Putih”nya A.S. Laksana dan dari tulisan “Happy Wednesday”. Dari situ, selain setelah baca tentang Wu Wei, seketika saya kayak mendapat anugerah yang bergemuruh untuk bisa menjadi seorang penulis yang mampu menulis dengan baik. (mumpi kali! Gak mungkin;spontan anggapan saya)
Jadi, semenjak saat itu saya terus berfikir dan memikirkan; kenapa nggak saya coba terapkan aja ya, metode Wu Wei itu. Lalu, saat itu juga, langsung saya coba. Saya tenangkan pikiran saya, setelah membuka Kingsoft dan sebanyak tiga kali menarik napas kemudian jari saya mulai nulis. Nulis apa? Ya pokoknya nulis, sambil membayangkan;cerita ini pasti jadi, dan semua teman-teman di kampus bakalan terharu setelah membaca ini. 
Duarrrrrr! Hasilnya ternyata hati saya jadi plong! Ingin tahu buktinya, ya seperti apa yang barusan saya ketik ini, dari awal sampai bawah. Ya, jika ada yang berkenan membacanya, akan saya ruba, bukan lagi seperti yang saya ketik, tapi, seperti apa yang kita ketahui. He2 mudah-mudahan amin (*).  


Senin, 18 Mei 2015

tregedi di pagi yang tlah usai

Cerita apa se ini?. Siapa yang tahu hal tabu. Ini merupakan hal “nggilan-ni” dari cerita yang aslinya suatu perbuatan tapi, inginnya disebut tragedi. Tragedi yang, tapi bukan tragedi penuh hikmah atau tragedi tapi yang berbuah kemuliaan bukan!, kan sudah bilang, ini adalah hal dipenuhi kenegatifan dan penuh juga dengan laknat. Suatu hal yang penuh dengan laknat jika seseorang yang tidak tahu tapi pura-pura nggak tahu -oke-oke aja tapi kalau yang sudah tahu apalagi si yang, tahu ini juga sangat memahaminya dengan hormat kalau dia, sawaktu mendalaminya.
 Sebenarya ini perbuatan berlalu sejak sekitar, tidak lama kok, sekitar, kalau nggak salah sejam yang lalu. Hal itu kini tlah usai berlalu tapi, apanya yang berlalu besok-besok juga paling diperbuat lagi. Entah. Nggak mungkin entah itu! Entah apa? Entah disengaja atau secara nggak sengaja, gitu? Hal lumrah, bukan hal lumrah jika orang bloon yang menyebutnya begitu. Kalau orang bijaksana serta paham sekali tentang hal yang banyak mengandung hal tercelahnya ini, juga sudah pasti ada yang “nggak tahan” untuk membobolkan rasa penasarannya yang selama ini berbalut oleh sebuah keyakinan kuat, tapi inilah yang bahaya, dalam, yang namanya sebuah perbuatan jelas ada regulasinya dan juga disertai hukum yang apabila ada orang yang ngeyel menerobos regulasi tersebut. 
Setalah. Setelah kejadian eh! Ya inilah orang yang lagi dilaknat yang sedang dilingkupi kehinaan, perasaannya enak-enak aja, kan dia tergolong tolol tahu kok masih aja menerobosnya. Efeknya ya jadi enjoy2 saja. Lalu langsung berangkat dengan duduk di sebuah sadel sepedanya, kakinya mengayuh pedal sepeda dan, yang bokongnya tertempel tetapi celananya aslinya tidak mempunyai lapis dan, alias tak memakai celana dalam. Terus saja mengayuh. Sepanjang perjalannya mengayuh tidak sama sekali di iringi rasa gimana gitu -menyesal ataupun bersalah, tidak sama sekali.
Yang menurutnya sah-sah aja dibenaknya padahal tahu dan memahaminya. Tapi dia tolol terus sih. Makanya nggak bisa mengasilkan keberupayaan yang penuh faedah bagi sekelilingnya yaitu masyarakat. Terutama teman-temanya. Penuh kebimbangan yang acapkali mengganggunya setiap waktu. Di sela-sela kepercayaanyan yang kadang kala ada di atas, kadang kala berada di bawah. Itulah manusia. 
Tapi juga, selalu berharap yang ujung-ujungnya berbuah pesimis kelas berat hingga sampai menganggap hal nggilani pun ia tega menerobosnya. Pesimis karena selalu diliputi loneliness yang sangat deras.
Sebanarnya dia adalah seorang yang tidak bisa lepas dengan yang namanya virus atau sulit melapaskan daya candu dari sebuah kebiasaan yang sanagta merugikan bagi sistem syarafnya. Tetapi, sebetulnya menyimpan sebuag potensi yang amat hebat dan juga beragam. Tapi terkikis oleh sebuah zat yang selalu menggelutinya sepanjang detik. Sangat bebakat sekali. Beranggapan bahwa segala sesuatu di belahan dunia ini tidak ada yang nggak akan bisa dicapai. Nggak ada yang namanya sesuatu yang hendak dicapai itu selalu mesti berunsur syarat, yaitu bakat. Semuanya nggak tergantung bakat. Semua orang akan bisa menggapainya jika, orang tersebut selalu bersyukur atas nikmat yang ditimpakan dan percaya akan suatu dzat yang tidak ada yang patut di yakini terkecuali Dia. Dan pasti akan tergapai sesuatu itu
Semua ini termasuk akal-akalannya. Si penulis yang merupakan seorang yang sangat abal-abal kopentensinya tapi berusaha ingin menutup-nutupi karangan yang diceritakannya, karangan yang ditulisnya yang ingin sipenulis ceritakan menjadi sebuah cerita dari “dairy-nya” padahal dia dangkal otaknya.


*)Kesusteraan pesimistic thing of student college

Belajar di kebersihan hati of univesity

Senin, 11 Mei 2015

Kurt Vonnegut: 8 Asas Penulisan Kreatif

Kurt Vonnnegut telah menulis sejumlah novel yang mengesankan, antara lain Cat's Cradle, Breakfast of Champions, dan Slaughterhouse Five. Karya-karyanya adalah kontradiksi yang saling bertautan: fiksi ilmiah sekaligus sastra, gelap sekaligus jenaka, klasik sekaligus budaya-tandingan, berdarah-panas sekaligus dingin. Dan semuanya unik.

Dengan kebijaksanaan dan kecerkasannya yang khas, Vonnegut menulis delapan prinsip bagi apa yang ia sebut sebagai “kelas menulis kreatif tingkat dasar”:

1. Pembacamu adalah orang asing. Manfaatkan waktu mereka sebaik-baiknya. Jangan sampai mereka merasa membaca ceritamu adalah pekerjaan yang sia-sia.
2. Beri pembaca setidaknya satu karakter untuk didukung.
3. Setiap karakter harus menginginkan sesuatu, walaupun hanya segelas air.
4. Setiap kalimat harus berguna untuk satu atau dua hal—memperkenalkan karakter atau menggerakkan sesuatu.
5. Mulailah sedekat mungkin dengan akhir.
6. Jadilah orang sadis. Tidak peduli semanis dan selugu apa karakter-karakter utamamu, rundunglah mereka dengan hal-hal mengerikan—supaya para pembaca mengenal mereka lebih jauh.
7. Menulislah hanya untuk satu orang. Jika kau membuka jendela dengan niat bercinta dengan seluruh dunia, ceritamu bakal mampus kena pneumonia.
8. Berikan para pembaca sebanyak mungkin informasi secepat-cepatnya. Masukkan suspens ke dalam keranjang sampah. Pembaca harus memiliki pemahaman yang utuh tentang apa yang terjadi, di mana dan kapan, supaya mereka bisa melengkapi sendiri cerita tersebut seandainya beberapa halaman terakhir dimakan kecoa.

Penulis cerita pendek terbaik Amerika dari generasiku adalah Flannery O'Connor (1925-1964). Ia melanggar semua aturan kecuali yang pertama. Penulis hebat biasanya memang begitu.