InsyaAllah nggak banyak-banyak kok. Oke. Saya mulai dengan kata nggak tahu kenapa. Iya, memang, saya pun jadi bingung tapi, lama-lama jadi kepingin, dan iri.
Terceritalah . selama satu setengah musim saya mengikuti kuliah di kampus beberapa bulan yang lalu, saya sering dapat informasi dari surat kabar (Jawa Pos) yang saya pinjam dari majikan saya. Ya bisa dibilang sangat nemen ukuran badannya alias kegendutan, makannya, dia setiap pagi selalu jalan-jalan keluar untuk olahraga kecil-kecilan supaya badannya agak sedikit suda. Tapi dia nggak pernah untuk menyempatkan beli koran meskipun waktu sudah kelihatan agak siang.
Saya. Jika diingat-ingat saya adalah orang yang dulunya sama sekali nggak pernah membaca. Apalagi, disebut gemar membaca, Wuh! Kemampuan mengingat saya sangat jeblok sekali. Makannya, kalau membaca si membaca tapi, sangat gampang sekali luntur, setiap bacaan apa pun yang saya baca. Tapi, saya menanggapnya ini sebuah ke-memangan bagi saya. Jangankan membaca, dari dulu guru/dosen ketika sedang ngomong biasa atau ngomong materi yang, setelah itu besoknya ditanya, pasti lupa.
Ketika kepala mulai pusing dengan materi apa pun yang dosen berikan, saya tak pernah menghiraukan. Tapi, ya bukannya tidak menghiraukannya sama sekali. Lalu saya mengindikasi sepertinya hati ini bergemuruh tapi nggak di sini.
Dan saya merasa, agaknya separoh nggak cocok dengan jurusan yang saya pilih. Lalu, yang saya maksud dengan kalimat “nggak tahu kenapa” tiba-tiba saya melampiaskannya secara nggak sengaja dengan membaca koran, milik majikan saya. Lalu, nggak tahu kenapa lagi, yang saya baca kebetulan itu edisi hari Rabu. Dari apa yang saya baca, kemudian, hati ini timbul perasaan iri, iri yang sedalam-dalamnya (enak kali ya, pengalaman yang selalu tersirat di dalam kepala jika di bahasatuliskan lalu cerita kita di kutip di media cetak; pasti seru!)
Lalu, nggak tahu kenapa lagi, saya di buat terkesan dengan, cara bertutur dari tulisan yang ada di kolom “Ruang Putih”nya A.S. Laksana dan dari tulisan “Happy Wednesday”. Dari situ, selain setelah baca tentang Wu Wei, seketika saya kayak mendapat anugerah yang bergemuruh untuk bisa menjadi seorang penulis yang mampu menulis dengan baik. (mumpi kali! Gak mungkin;spontan anggapan saya)
Jadi, semenjak saat itu saya terus berfikir dan memikirkan; kenapa nggak saya coba terapkan aja ya, metode Wu Wei itu. Lalu, saat itu juga, langsung saya coba. Saya tenangkan pikiran saya, setelah membuka Kingsoft dan sebanyak tiga kali menarik napas kemudian jari saya mulai nulis. Nulis apa? Ya pokoknya nulis, sambil membayangkan;cerita ini pasti jadi, dan semua teman-teman di kampus bakalan terharu setelah membaca ini.
Duarrrrrr! Hasilnya ternyata hati saya jadi plong! Ingin tahu buktinya, ya seperti apa yang barusan saya ketik ini, dari awal sampai bawah. Ya, jika ada yang berkenan membacanya, akan saya ruba, bukan lagi seperti yang saya ketik, tapi, seperti apa yang kita ketahui. He2 mudah-mudahan amin (*).
Tidak ada komentar :
Posting Komentar