Seorang anak begitu tahu bahwa sang Ayah ternyata menikah lagi dia memutuskan untuk tudak memaafkan ayahnya. Sang Ayah meminta maaf pun, dia tolak. Setelah itu dia memutuskan untuk pergi karena tidak bisa terima.
Kesedihan telah terjadi di benak sang ayahnya. Selang beberapa tahun ketika sudah berumah tangga di suatu tempat dan dikaruniai anak laki-laki dia teringat oleh Ayahnya yang pernah dia benci dan menolak permohonan maaf karena kesalahan yang ayahnya lakukan. Saat itu dia menyesal dan berfikir; “beginikah rasanya, jika kita dibenci oleh anak kita sendiri.”, “sedih, hancur, seperti inikah yang papa rasakan selama ini.” dia merasa sangat bersalah waktu itu. Ketika ia memutuskan untuk membenci dan pergi karena tidak bisa terima.
***
Di momen hari kemenangan ini, jika kita menyesal, merasa ada yang begitu sangat mengganjal dalam hati karena pernah berbuat salah kepada seseorang, itu berarti kita telah menyianyiakan hal besar kalau kita tidak saling memaafkan. Bawaannya selalu kebawa pikir, gusar, karena kita masih punya salah dengan teman atau seseorang paling dekat dengan -atau orang yang paling kita sayangi dan menyayangi kita -bersikeras, kukuh dan bahkan seseorang itu termasuk sanak keluarga kita sendiri. Kita masih mendendam menyimpan ego untuk tidak mau memaafkannya, itu tandanya kita tidak layak menyebut diri kita orang yang mendambahkan Rasulullah. Tidak layak menggolongkan sebagai umat Rasulullah saw.
Tidak pantas predikat itu untuk kita. Rasulullah merupakan sosok yang paling mencintai kelembutan dan memaafkan. Namun, jika rasagelisahpunyasalah itu kepada sesama manusia, hanya ada satu peluang yaitu dengan cara datang dan meminta maaf kepada manusia yang bersangkutan. Tapi, kalau enggan memberi maaf, Allah juga tidak akan memaafkan kita. Dan Allah juga tidak akan terima dengan -apalagi mengizinkan kita masuk surganya -perbuatan ini. Karena Allah akan berbarengan menurunkan maafnya ketika kita datang dan mau dengan sepenuh hati memaafkan manusia itu atau pun bahkan ayah kita sendiri.
***
Lalu, jika saya membuat hancur sedih seseorang karena saya benci dengan kesalahan yang seseorang itu perbuat hingga bertambah sedih karna saya tidak memaafkannya. Apalagi berteman, menanggapnya pernah ada dalam hidup saya pun. Tidak saya lakukan. Dan itu, otomatis ridho-Nya pun juga tidak akan menyertai saya sebelum saya, memaafkan.
Jika itu yang terjadi. Lalu kemudian Allah memberikan rasa sebaliknya, yang dirasakan oleh seseorang itu. Saya yang tadinya acuh -meresa tidak apa-apa -sedikit pun tidak memperdulikan. Kegelisahan yang sama saya rasakan, tiba-tiba saya berpikir; “seperti ini saja bagiku, sudah sangat menyiksa. Apalagi kalau kita dibenci oleh Allah ya? Bagaimana rasanya? Astaghfirrullah..”
Sesuatu yang mengganjal itu kini ada dalam hati saya. Sungguh sangat tidak mengenakkan kalau boleh saya mengutarakannya. Pernah sampai tiga kali malah, beliau sudah saya anggap seperti ayah sendiri. Dalam Lebaran kali ini rasa mengganjal ini makin memuncak setelah apa yang seharusnya saya lakukan tapi, tidak saya lakukan. Beliau pernah membimbing saya. Saya pun sangat bangga dan senang seandainya saya punya bapak seperti beliau batapa bahagianya. Sejak 8 Mei 2014, waktu itu adalah, waktu kepindahaan saya atas nasihat beliau menganjurkan untuk meneruskan kuliah dan bertempat tinggal di sini. Atas usulan beliau saya tinggal dan bekerja di sini.
Bebeara hari sebelumnya, saya baru saja lulus SMK, satu setengah tahun saya jadi anak asuhnya dan beliau yang selalu membimbing saya. Waktu itu, saya dan Ibu berangkat ke tempat ini. Ibu hanya menemani waktu itu tapi, di sana beliau sudah menunggu saya dan bermaksud untuk mengantar saya ke tempat tinggal baru sekaligus bekerja.
Sejak hari itu, besoknya beliau masih menemuiku sebentar untuk memastikan keadaanku dan bilang; mendoakan semoga saya betah di sini dan jangan samapai menyianyiakan kesempatan dibiayai kuliah oleh keluarga sahabat beliau yang waktu itu juga ada disana untuk memperkenalakan tempat kerjanya. Karena memang tuntutan pekerjaan yang begitu full dan sangat terikat, semenjak memulai hari pertama dan seterusnya, saya masih berusaha menyesuaikanny. Harapan beliau, agar saya betah dan bisa sampai lulus kuliah dan meraih hidup yang lebih baik, dengan sejahtera di kemudian hari.
Seiring waktu berjala, akhirnya saya mampu beradaptasi menyesuaikan lingkungan di sini. Sekarang, sudah memasuki semester tiga dan mudah-mudahan saya sanggup bertahan dengan tidak mengecewakan semua pihak, terutama beliau. Sekarang ini, merupakan momen Idul Fitri yang kedua dan memasuki tahun kedua saya bekerja disini. Yang menjadi terasa “ngganjal”, merasa bersalah, karena Lebaran tahun lalu, saya tidak menyempatkan (silaturahim) menemui beliau, bahkan mengucapkan selamat “maaf” Lebaran pun, tidak. Meskipun, memang saya tersibukkan oleh bekerja dan rutinitas baru. Tapi, ini tidak sepantasnya untuk dijadiin alasan. Namun, sungguh saya sesali itu. “mengapa, Lebaran yang tahun lalu, kok tidak saya sempatkan.”
Pernah sampai-sampai kebawa memimpikan “sampean” beliau. Rasa neyesel dan rindu ini semakin manghantui. Semenjak lebaran idul fitri tahun lalu juga saya akui saya “geton” sudah dengan tidak bermaksud sengaja untuk tidak datang (silatuhrahim) kesitu. Untuk tidak njalok sepuro-sepuroan ke bapak. Sebenarnya saya sangat mengingini sekali.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar