22-1309-2443-8
Senin, 20 November 2017
Rabu, 15 November 2017
Di ejah Hobi
Hobi itu menurutku masih lemah. Hobi berawal dari proses ketaksengajaan. Dalam prosesnya ada rasa tergugah. Kemudian timbul rasa penasaran atau terinspirasi untuk meniru. Lalu muncul dan berawal dari kesukaan. Dan setelah itu diubah menjadi kegemaran dan diproses ujung melahirkan yang namanya rasa cinta. Tapi hobi tidak bisa dipandang remeh juga. Karena dikala melakukannya kadang kita masih dengan sambil lalu bahkan intensitasnya kadangkala naik-turun. Bisa dibilang enggak serius; kurang sungguh-sungguh. Hobi itu menurutku masih enggak ada apa-apanya dibandingkan cinta. Sebab hobi adalah cikal bakal. Itu masih merupakan tanda-tanda gejala. Dan itu masih proses awal menuju cinta atau prioritas watak yang mewujud pada pola pikir dan kekhasan laku, dan semua gerak-gerik seseorang. Itu yang disebut kecintaan. Aku mengibaratkan semua itu sebagai suatu tahap ---ada rangkaian tahapan di dalamnya.
Aku suka berdiam diri dan mengkhayal dan sesekali melamun. Aku juga suka mengamati raut muka seseorang ketika menerangkan sesuatu. Memerhatikan pandangan matanya, berkedip serta bersamaan dengan gerak bibir dan gaya nada dan caranya mengatur intonasi lalu juga ketika menarik dan menghembuskan napas.
keti dan tingkah laku orang ketika diam, merenung, tertawa, atau
Minggu, 05 November 2017
Puisi
"Asumsi belaka, tak ubahnya kesan indera belaka. Pikiran dan akal. Apa-apa yang di alami dan di rasa. Apa bedanya. Seputar yang dirasakan saja. Apa-apa yang diserap, menimbulkan kesan-kesan."
"Padaku itu lupa selalu terjadi. Waktu aku menyia-nyiakan waktu. Selalu terjadi itu padaku"
Hati membatin ini bukanlah pagi. Ini masih malam. Buktinya, langit masih gelap.
Rabu, 01 November 2017
Video Pemersatu Umat
Hahaha (senyum dipaksakan). Gorong-gorong wes bingung aku. Duh! Gimana si. Mmmm..pie yo? Sek-sek, iki sembarang yo. Namanya juga menurut "gue". Oke, tak mulai. Aku mengetik-ngetik ini sesungguhnya terpaksa. Di dalam kondisi yang terpakasa, tapi kepaksanya bukan sebab karena isi cerita dalam cerpen _Video Pemersatu umat_ maupun si pengarang. Sungguh, bukan. Juga bukan disebabkan perasaan tidak enak atau apa secara, kan ya. Namanya juga menurut "gue". Heheh. Karena Eke menganggapnya, 'kita berdua kan teman'. Iyuuut. Hihihi. Walaupun tak terlepas Eke selaku pembaca dan antum sebagai pengarangnya.
Aku, eeeeehh, mungkin jika kuibaratkan kondisiku seperti: Dari dulu diriku tersesat dalam ilusi dengan diriku sendiri. Aku mengeluh dengan diriku sendiri. Kurasa otakku sudah tak bisa kukendalikan dengan pikiran. _Boro-boro'_aktualisasi, kalau ngomongin pikir sepertinya pikiranku ini yang ada apa-apanya. Dan aku yakin, dipenuhi oleh apa-apanya itu sudah dari sejak dulu. Kurasakan di dalam diriku ini ada diriku yang lain di dalam diriku ini. Diriku yang tampak maupun diriku lain di dalamnya sama-sama percuma, mandek, usang, tak ada gunanya sama sekali. Sadar akan adanya persoalan dan risiko adalah bagian dari hidup. Itu sesuatu yang tetap selama-lamanya ada selama masih hidup. Namun, diri tak becus dan tidak tahu harus bergerak kayak apa, mempertimbangkan seperti apa, lalu gimana dan memulai dari mana supaya kukerjakan semua tugas dan kuatasi risiko. Yang ngrasa bodoh atau memang bodoh kini diriku atau diri, aku tak tahu dan pastinya, cepat atau lambat bisa membahayakan untuk aku sendiri. Bukan imbas babak belur bagi orang lain, tapi membahayakan untuk kebaikanku sendiri. Yang menjadi konsekuensi dan mesti ku tanggung sendiri ialah, "Seraya dalam lupa, aku banyak kehabisan kesempatan juga menyia-nyiakan waktu dan itu selalu terjadi padaku" itu gumamku ketika ini.
Kok aku jadi ngelantur ngungkapkan diriku sendiri. Hehe..kau pasti berpikir, ini apa-apa an! (Wkwkw..Ketawa asli).
Tipikalku mungkin orangnya persis kayak Kardi seperti yang kau kisahkan malah dia _nggagap_ saat loe tawarin pakai jawaban, "Aku sudah nonton, dua hari lalu. Mau dicritain?" Hal: 2
Mmm, _video pemersatu umat_ menurutku, banyak soal yang membikinku terkesan sekali.
Jujur kalau gue bayangin, semua dialog antara Kartam dan Kardi kok gua tangkep rasa-rasanya sama aja deh, denganmu Ding. Maksudku karakter gaya atau logat ucapan dari kedua tokoh itu. =\<
Kentara juga pada tokoh Cak Karsiman yang kau beri penjelasan sekali yang saban sore Kartam seringkali mampir ke warung _tenguk-tenguk, jagongan_ sambil memandangi hamparan sawah tiap kali selesai merampungakan pekerjaan.
Aku memulai tulisan teks ulasan ini tadi siang sebelum adzan dhuhur. Tapi malam ini aku sedikit girang. Karena bagiku ini sebuah keharusan, semampu-mampuku untuk meneruskan tulisan ini. Wkwkwk..
Kebanyakkan gaya ya aku ini. Mentang-mentang pakai sebutan "teks ulasan" segala! Hehe.. Oke bilamana dari atas hingga ke bawah tak banyak yang kusinggung mengenai cerpen yang kau kirim semalam, tolong maafkan aku.
(*) Thursday, November 2
Tanggulangin
2017