Namanya Gebi. Ia siswa kelas Ⅱ Sekolah dasar "Bidi Praing" dari Desa Kiritana, Kec. Kambera, Sumba Timur, NTT. Setiap hari, setiap berangkat ke sekolah, Gebi berjalan kaki lebih kurang 1,5 jam bersama kawan-kawannya.
Dari sebrang sungai samar terlihat empat bocah mungil muncul dari balik semak, berlari kecil menuju bibir sungai yang memiliki lebar 65 meter, saat kondisi normal. Satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya ditanggalkan hingga tak sehelai benang pun tertinggal. Tanpa ragu, Gebi melompat dan menyerahkan tubuhnya ke dalam aliran sungai keruh yang mengalir deras.
***
Setiap pergi sekolah, Gebi berenang menyeberangi aliran sungai sebanyak dua kali. Sama artinya, ia setiap hari berenang sejauh 260 meter untuk pergi dan pulang sekolah. Jika musim hujan, air sungai meluap dan lebar sungai pun bisa mencapai 150 meter. Saat seperti inilah aktivitas sekolah sering diliburkan. Siswa tak berani menyeberang dan sebagian jalan menuju sekolah ikut terendam banjir luapan dari sungai. Guru dan siswa lain tak bisa lewat karena banjir cukup tinggi.
***
Sesampai di tepi sungai, masih basah air menyelimuti tubuhnya, menetas deras dari ujung rambut. Tanpa berseka handuk, pakaian seragam pramuka lusuh tak disetrika langsung dikenakan. Tidak ada raut murung atau sedih, senyumnya selalu mengembang sejak tubuhnya berserah kepada alam. Ia bergegas menuju sekolah, disambut sapa kawan-kawan yang berjumpa di simpang jalan.
Uang jajan dua ribu rupiah di kepalan tangan ikut basah terkena tetesan air, ia belikan sepotong donat dengan taburan tepung gula di atasnya. Di bagikan sepotong donat kepada kawan di sebelahnya. Ia belum sempat sarapan di rumah, mungkin juga lapar setelah berjalan jauh dan berenang menyeberangi sungai.
Gebi, dan 28 siswa sekolah lainnya adalah potret anak Indonesia yang berjuang keras mendapatkan pendidikan dasar, berjuang keras mewujudkan cita-cita dan mimpinya. Meski ia tahu, sekolah dasar mungkin menjadi pendidikan terakhirnya. Sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas hanya ada di kota, jauh dari tempatnya tinggal. Orangtua yang keterbatasan ekonomi tak sanggup mengongkosi.