Minggu, 30 April 2017

Kolom Avontur Berita Kompas

Namanya Gebi. Ia siswa kelas Ⅱ Sekolah dasar "Bidi Praing" dari Desa Kiritana, Kec. Kambera, Sumba Timur, NTT. Setiap hari, setiap berangkat ke sekolah, Gebi berjalan kaki lebih kurang 1,5 jam bersama kawan-kawannya.

Dari sebrang sungai samar terlihat empat bocah mungil muncul dari balik semak, berlari kecil menuju bibir sungai yang memiliki lebar 65 meter, saat kondisi normal. Satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya ditanggalkan hingga tak sehelai benang pun tertinggal. Tanpa ragu, Gebi melompat dan menyerahkan tubuhnya ke dalam aliran sungai keruh yang mengalir deras.
***
Setiap pergi sekolah, Gebi berenang menyeberangi aliran sungai sebanyak dua kali. Sama artinya, ia setiap hari berenang sejauh 260 meter untuk pergi dan pulang sekolah. Jika musim hujan, air sungai meluap dan lebar sungai pun bisa mencapai 150 meter. Saat seperti inilah aktivitas sekolah sering diliburkan. Siswa tak berani menyeberang dan sebagian jalan menuju sekolah ikut terendam banjir luapan dari sungai. Guru dan siswa lain tak bisa lewat karena banjir cukup tinggi.
***
Sesampai di tepi sungai, masih basah air menyelimuti tubuhnya, menetas deras dari ujung rambut. Tanpa berseka handuk, pakaian seragam pramuka lusuh tak disetrika langsung dikenakan. Tidak ada raut murung atau sedih, senyumnya selalu mengembang sejak tubuhnya berserah kepada alam. Ia bergegas menuju sekolah, disambut sapa kawan-kawan yang berjumpa di simpang jalan.

Uang jajan dua ribu rupiah di kepalan tangan ikut basah terkena tetesan air, ia belikan sepotong donat dengan taburan tepung gula di atasnya. Di bagikan sepotong donat kepada kawan di sebelahnya. Ia belum sempat sarapan di rumah, mungkin juga lapar setelah berjalan jauh dan berenang menyeberangi sungai.

Gebi, dan 28 siswa sekolah lainnya adalah potret anak Indonesia yang berjuang keras mendapatkan pendidikan dasar, berjuang keras mewujudkan cita-cita dan mimpinya. Meski ia tahu, sekolah dasar mungkin menjadi pendidikan terakhirnya. Sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas hanya ada di kota, jauh dari tempatnya tinggal. Orangtua yang keterbatasan ekonomi tak sanggup mengongkosi.

Sabtu, 22 April 2017

Wajah Bibir dan Wajah Mata

<Tanggulangin, 2016>

Hidup menyendiri, selalu sendiri
Lelah.Karena tak kesampaian
lesuh.Karena tak kesampaian
Ke mana-mana dikelilingi sesama jenis.
Mereka membuatku iri, emosi, .
Aku tak pernah menangis.
Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya punya teman dekat, dengan perempuan.
.
Bosan aku memendam ingin!
hanya karena selalu diam dan mengalah.
Muak aku!Karena tak kesampaian
Aku muak!Karena tak kesampaian

Dengan tubuhku.
aku ingin menikmati tubuhmu. kupandangi wajahmu.
kukecup tengkukmu, lehermu, pundak dan seluruh dadamu.
lalu turun ke perut, sambil kupegang pinggangmu, kunikmati paha hingga lutut dan kakimu.
dengan tubuhku aku menikmati seluruh tubuhmu.

seiring berjalannya waktu, rasanya ngilu  disengaja maupun tak sengaja menyaksikan
lekukan pinggangmu semakin mekar-berisi
Ayu wajahmu, putih kulitmu, serta bibirmu, rambut panjangmu, dan halusnya pundakmu -makin memadu dan membuatku menelan ludah-meracau kesal seraya napas kembang-kempis menahan pilu.
Itulah aku

tapi aku selalu menganggap ini ketersesaatan, kesesaatan, kepercumaan yang sia-sia seperti yang sering kudengar; nafsu sesaat, kenikmatan sesaat, kesenangan sesaat, euforia sesaat, dunia hanya sesaat menjerumus, terjerumus, dalam sumur ilusi yang fana. Kalau hanya menginginkan yang sekadar-sekadar, yang kelak membikin wajahmu merengut pasih, murung dan makin lama makin hanyut tenggelam tak mampu bangkit, tegak melompat meraih sadar.
dengan keadaan nyata dan ilusi yang ternikmat yang hanya sesaat, sejenak itu pula digeber yang oleh kenyataan tetap di keadaan ada dibalik pahit karena menganggapnya sebagai beban, yang keseharian yang tak ada kata selesai selama jiwa menyatu bersama kulit yang terbatas.
***
Makin melesat.
malam makin membawa sepi. Begitu juga alam pikirmu yang terus berpindah-berubah.
bikin terlena
"sejak dan semenjak turut ada batasnya yakni; kapan"

tapi inilah seputar beban pikir yang kerap iring-iringan dalam kepalaku. Apa-apa yang meruntuk kesal, dada tak kuat menahan isi kepala yang mengeluh oleh sesal, selalu menganggapnya semua ini sebagai sebuah kememangan.
Apa itu fatal?
Apa itu tidak manusiwi?
Tak wajar?
Kau tahu?
Apa betul?
Budaya dan hal ihwal menyangkut kreativitas dirangkai, ketaksengajaan, membentuk, di jadikan hal biasa sa sa, lalu disebut itu tradisi? Apa iya. Hah? Kejengkelan, perilaku mengeluh, masih ada susah dari yang paling susah. Kehidupan tak ada yang bullshit! Semuanya akibat nafsu dan kehendak manusia.

Ini-itu tapi tak tergambarkan secerah cerah gamblang.
Takut memakai kata-kata menusuk yang langsung atau yang tak ditutup-tutupi --apa adanya --lugas tanpa kepura-puraan. Tergantung adalah jawaban yang selalu terlontar.
Tapi skala?
Tapi jam terbang?
dan ketetapan niat? Dirumuskan menggunakan apa saja kalau tak ada gairah yang mengalir itu cuma kepercumaan. Ilusi sarat kesia-siaan. Tak ada yang hirau barang sekejap pun. Hidup menyendiri aku tak tahan!.

Kamis, 20 April 2017

Dari Sebuah Kata Pengantar

Sebagian Orang: dari hari ke hari melangkah dengan penuh keyakinan, menumpuk kesuksesan demi kesuksesan, dan kebahagiaan demi kebahagiaan. Mereka nampak dikaruniai kekuatan khusus. Sementara sebagian lagi melangkah sepanjang 24 jam seolah-olah hidup itu sendiri adalah beban, dan lebih banyak beban akan muncul keesokan harinya*.

Orang ingin curhat, berarti ia memerlukan ..
Perlu keleluasaan yang menenangkan hati. Cari-mencari ..
Ada orang berkata, "...otak tidak selaras dengan keinginan, maka terjadilah apa yang selalu terjadi. Aku menjadi lebih kecewa dan frustasi karena telah kulihat cahaya baru namun mendapati diriku tidak mampu hidup dengannya"
(*) Frederick Bailes

Selasa, 18 April 2017

ARTIKEL KORAN



Mari kita mulai. Kenapa saya begitu tertarik, yakni karena, coba Anda baca secara, seolah-olah sedang mendengarkan si penulis mengucapkannya dengan lisan. Ya, bayangkan. Sambil membaca. Hehe. Inilah bahasa lisan yang dirangkai ke dalam bahasa tulis. Simak berikut ini!!
Jawa Pos –EDUKASI –selasa, 18 April 2017
“Meretas Penyiapan Generasi Emas”
Oleh: Dr Sri Sutarsi Mpd*

Bonus demografi yang digemakan komunitas, akademisi, dan badan pemerintah yang peduli terhadap kependudukan banyak berdampak positif jika dikelola dengan benar dan dipersiapkan secara matang. Bonus demografi menyangkut kependudukan. Maka, kuncinya ada pada kualitas SDM. Salah langkah dalam pengelolahan, dampak negatif akan menjadi dominan. Bahkan, mimpi kita tentang Indonesia emas yang menyejahterahkan hanya tinggal mimpi.
            Konflik di berbagai kota besar antara para sopir transportasi tradisional dan online (Go-Jek, Uber, Grab-Bike, dan lain-lain) sebagai satu pertanda tentang rendahnya kualitas SDM kita. Konflik atas dampak perkembangan teknologi yang tidak bisa lagi dibendung menandakan ketidaksiapan SDM kita. Jika pemerintah menyelesaikan konflik tersebut hanya dengan regulasi, yang muncul hanya penundaan konflik yang lebih krusial. Sebab, perkembangan teknologi hanya bisa diatasi melalui peningkatan kualitas SDM dan jawabnya berarti melalui sentuhan pendidikan yang baik, benar, menyeluruh, dan berkualitas.
            Gerakan mereformasi pendidikan kita wajib dimulai dari sekarang dengan sikap yang nyata. Kita tidak bisa berlama-lama duduk mendiskusikan usulan penyelasaian, tetapi segera ambil langkah serentak sesuai bidang dan jenjang yang kita mampu. Kurikulum 2013 sudah pasti tidak perlu lagi kita polemikkan. Jika kita merasa ada kekurangan, segera bersikap melengkapinya. Sebab, peluang ruang penambahan telah disediakan.
            Kita harus mendorong, membantu, serta mengingatkan pemerintah (di semua lini) agar terus menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya. Tujuannya, menyerap tenaga kerja yang tersedia, terutama para lulusan perguruan tinggi yang setiap tahun jumlahnya meningkat. Mereka yang telah lulus SMA/SMK perlu dibekali pelatihan ketrampilan sesuai dengan kompetensi.
            Untuk jenjang pendidikan dasar yang sekarang pengelolahannya menjadi tanggung jawab mutlak kabupaten/kota, termasuk PAUD, segera mereformasi pendidikan yang berkolaborasi dengan orang tua, masyarakat, dan lainnya. Kita jangan lagi berpikir sektoral hanya gratis dan gratis. Kita harus konsisten dengan lambang Jawa Timur yang bertulisan “Jer Basuki Mawa Beya”. Jika pendidikan kita ingin mengahasilkan SDM berkualitas, slogan pada lambang harus menjadi pemikiran yang implementatif.
            Sentuhan pendidikan khusus pendidikan dasar dan PAUD adalah menghasilkan pendidikan yang membentuk manusia yang manusia. Manusia yang beriman, bertakwa, berkarakter, berani jujur, disiplin dan menyenangkan. Implementasinya hanya bisa dilakukan secara kolaboratif dan berkomitmen tinggi antara orang tua, masyarakat dan pemerintah (lembaga pendidikan formal maupun non formal). Sepuluh kata kunci untuk mendidik: perhatian, pendampingan, suasana menyenangkan, mengembangkan inisiatif, belajar bernegosiasi, tidak banyak melarang, tidak memanjakan, memberikan pujian, memandirikan, dan hindari menakut-nakuti.
            Kualitas SDM dibentuk dari pendidikan dini yang dimulai dari sini. Mari kita mulai dan laksanakan tanpa kata menunda!

(*) Kepala Bidang PAUD Dikmas Dikbud Sidoarjo

Minggu, 16 April 2017

Tidak ku Teruskan, Karena Aku Merasa.

Ini soal "Kangen" yang tak ketik. Hati atau nafsu yang mendorong "ingin" ini? (Kau sudah tahu). Aku kerap kali baper dan menyangka "iya" pada spekulasi. Selalu ku bela ini "diri" dan, [...]

Sungguh tak terpikir dulu saat kudeskripsikan melalui email: Saat mau menuruni tangga di lantai 2, aku lalu tak sengaja berhenti ingin melihat-lihat keadaan luar dari jendela; kuamati masjid An-nur, kuamati gedung ekonomi, kuamati area parkir, kantin, dan satu per satu orang-orang yang lalu-lalang, berjalan ke sana atau sedang menaiki sepeda, sampai akhirnya, kaulah ternyata ketaksengajaan, yang singkat, berpapasan, dan bertemu di tempat fotokopi [...]

dan sebelumnya lagi, dan lagi sampai terus ke belakang, saat kau terkesan dan berterima kasih karena aku membantumu membukakan pintu

Jumat, 14 April 2017

Kata Hati di Atas Sepeda

"Bedanya saat menaiki sepeda"
Aku memang senang dan betah.
Dan aku ingin terus berada di atas sepeda. Menyatu dengan angin berhembus.
Dan aku pikir ini seperti mengudara; Senyum sapa merekah. Girang tak kepalang. Perasaan berbungah-bungah. Melambaikan tangan dan saling lempar senyum. Saling bertegur sapa. Dengan kata "hay!"

Kau makhluk penuh unggul dalam memenangkan, menundukan, menggoda, merasuk, dan menciptakan daya pikat.

Terlena karena penasaran.
Penuh rasa tak sabar.
Melihat lekuk tubuh dan parasmu.
Muka yang indah dan tersenyum manis.
Auramu membuat badan mengerang tak tahan.
Napasku meruntuk ingin mencium khas wangi rambutmu ..
Serta tangan dan jemari lembutmu

Minggu, 09 April 2017

Maukah kau, Membacanya Untukku?

Ayahnya *Yves Mittenaere,* seorang profesor di bidang sejarah dan geografi, bercerai dengan ibunya ketika Iris masih kecil. Namun, hubungan mereka semua masih baik. _"Sehari-hari saya tinggal di utara Perancis bersama ibu. Kalau liburan, saya ke tempat ayah saya di selatan Perancis"_ kata iris. (*)

Secuil kutipan di atas adalah ulasan yang ada di kolom Kompas"Figure" edisi hari ini. Karena membacanya, maka aku tertarik menulisnya ulang dengan sedikit olahan di bagian yang aku suka. Membaca. Kegiatan membaca adalah hal asyik yang paling menghibur bahwasanya kita ー (mahasiswa) sebagai generasi milenial, sebagai penikmat dan tak bisa lepas dari perangkat teknologi (gadget&social media) yang banyak menggerus ke dalam sifat individual ーpaham bagaimana cara supaya leluasa hanyut menggunakan inti bawah sadar, masuk ke lautan teks dan terseret ke dalam alur cerita sehingga kita, merasa seolah-olah habis ketiban kelapa (inspirasi) yang jatuh dari atas pohon yang sangat tinggi lalu terbangun dengan perasaan tergugah.

Penggalan artikel dari koran yang aku cuplik di atas, adalah hasil wawancara wartawan Kompas (Sri Rejeki) dengan pemenang Miss Universe, Iris Mittenaere, dalam perbincangan dengan Kompas di The Sultan Hotel, Jakarta.

Seorang Iris Mittenaere, yang berprofesi mahasiswa kedokteran gigi, terpilih dan dinobatkan sebagai Miss Universe, adalah salah satu mimpi yang jadi kenyataan serta sangat diangankan gadis-gadis di dunia.

Pada mulanya, orang-orang terdekat dan keluarganya merasa kaget namun bangga atas kemenangan Iris sebagai Miss France serta mengukir prestasi mewakili negaranya pada ajang

Sabtu, 08 April 2017

Emha Ainun Najib

Ketika engkau bersembayang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar
Bacaan Al-Fatiha dan surah membuat kegelapan terbuka matanya

Setiap doa dan pernyataan pasrah membentangkan jembatan cahaya tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
Ruku'lam badanmu memandangi asal-usul diri
Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta allah hati gerimis

Sujud adalah satu-satunya hakikat hidup
Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup
Ilmu dan perdebatan takan sampai
Kepada asal mula setiap jiwa kembali

Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
Badan diperas jiwa dipompa tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

Sembahyang di atas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
Rumah yang tak ada ruang dan waktunya
Yang tak bisa dikisahkan pada siapapun

Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu Fisika

Hatimu sabar mulia, kakimu seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan

Sajak Apa,

Tahu, tapi tak tahu bagaimana cara.
Sulit di ajak bicara, apa aku yang tak tahu cara.
Penghuni kelas, kau anggap seperti ini apa? Mengapa kau seperti orang lain, asing, tak biasa.

Lelah dengan muak-sangka
Kau bermata sebelah

Menahan mata terkantuk-kantuk
Yang aku tulis adalah untukmu.
Derita dan gelisah lahir rasa tak puas

Karena lagu yang aku mengalun
Hati tertambat ingin mengirama
Aku selalu melihatmu dimana-mana

Meringis kesal karena haru melihat seorang perempuan pencerita handal remaja yang baru dewasa sedang menekuri kata-kata sebelum hasil ketiknya dimuat di seantero media cetak.
Meski aku tak paham liriknya, tapi aku terharu dengan bayangan serta imajinasi sendiri.
Di harian Republika ada beberapa; tapi sekarang menyeruak bertebaran.

Minggu, 02 April 2017

Cuplikan Triyanto Triwikromo

Pesan dari buku "Bersepeda ke Neraka". Dalam Prolog Pencerita, berjudul "Ning", "Ketidaksempurnaan yang indah dalam cerita akan membimbing pendengar atau pembaca cerita menciptakan cerita yang lebih gila dan tidak terduga. Kau disebut pencerita ulung jika bisa berkisah hanya dengan sedikit kata." ー

Dalam terminologi Jawa, kata Mbah Situk orang yang bisa membeberkan keluasan dunia dengan sedikit kata itu di sebut wong wasis. Di dalamnya ada kefleksibelan, kecekatan, kepandaian, dan ketrampilan. "Menurutku kurang satu; yakni keterbukaan"
Dengan kata lain, pembaca "karya terbuka" adalah "orang-orang yang terbuka". Orang yang memberi ruang kepada orang lain. Orang yang tak menganggap (teks) orang lain sebagai neraka. ー

Lain kali Mbah Situk memberi semacam enigma, semacam teka-teki. "Bukan burung, tapi bersayap. Bukan ulama, tetapi senantiasa bersujud. Ia tak pernah berbuat dosa. Ia berzikir pada Tuhan semata." Siapa yang dimaksud Mbah Situk? Pendengar atau pembaca dipersilahkan menerka. Tentu kalian boleh menebak ia malaikat, iblis, atau siapa saja. ー

Untuk teman-teman, aku tahu apa yang kalian kata. Itulah bahasa lisan masing-masing classmate seperti yang kita ketahui. Menuliskan statement lisan menjadi bahasatulis tidaklah seperti itu. Berkoar dengan bahasa lisan sangat penting menggunakan tanda baca. Si Doi bernama Anam kalau tak salah pernah mengatakan, "budayakan membaca" tapi tidak di sambut dengan baik. Bahasa apa yang sudah kalian tahu? Wildan bertimpal-balik memakai logat bahasa Sundah. Itu amatlah bagus. (*)

 

Tambal Sulam

Ku lipat di atas kertas, ku bentuk menjadi pesawat, kulayangkan di udara hingga masuk ke rumahnya Si Luthfi. Quddus berseru-seru ingin menanyakan sesuatu. Tapi angin yang menjawab. Ia frustasi. (Kasihan). Beberapa hari berlalu, ia memilih menceburkan diri ke laut. Laut yang bernama YouTube. Gerah karena resah yang berkepanjangan ia putuskan untuk menyelam tanpa menggunakan alat sama sekali. Nekat. Ceroboh. "Seorang penjagal tertekan mengapa hari itu ia harus memenggal leher kaisar." Menurut ceritanya,  ikan-ikan sangat ramah di dalam sana. "Dingin yang amat sangat telah menyebabkan semua makhluk membeku."Kemarin, aku dengar ia terapung tak sadarkan diri di tepi pantai LOSARI. Warga setempat iba menyaksikan pemuda tergeletak tak sadar dengan wajah tersenyum karena pingsan. Perut buncitnya makin membesar karena banyak menelan air. "Kesialan terbesar (menurutnya) adalah berpasangan dengan perempuan yang sangat percaya pada mimpi." Setelah di bantu melalui nafas buatan, ia muntah dan memekik secara tiba-tiba menyebut-nyebut namaku. Tadi sore, ia mengirimkan pesan singkat dan menceritakannya semua padaku. Ketika di kedalaman lautan YouTube, ia berjumpa dengan penyu dan seekor ikan lohan dan gua terumbuh karang paling aneh. Bin ajaib, (katanya) goa itu bisa berbicara menggunakan bahasa manuisia. Goa itu memperkenalkan diri bernama "Mario Teguh". Temanku ini bercerita bahwa, ia mendapatkan banyak nasihat setelah konsultasi dengan gua itu. "Sekali-kali bersepedalah ke neraka. Tentu Anda harus bersahabat dengan api agar tidak merasakan api yang menyengat. Tentang bersahabat dengan api bertanyalah kepada iblis. Tentang bagaimana bertemu dengan iblis bertanyalah kepada ular. Tentang bagaimana bisa berbicara dengan ular bertanyalah kepada Nabi Sulaiman." Setelah ngobrol panjang lebar dengan gua yang penuh lumut dan batu karang, ia pamit. Ia diberi hadiah kenanga-kenangan, ー(bunuh dirimu setelah kau mengetuk kepala tiap orang yang kau temui dengan palu ini, sampai mati) ー"jika bunuh diri menjadi agama yang paling cocok, siapakah tuhanmu?", "jika gerak kebencian melampaui kecepatan mobilitas cinta, maka dunia akan runtuh.", "Manusia itu pusat dari segala kehilangan dan hasrat adalah arah dari segala penemuan"
NB: Tambal sulam, dengan fiksi mikro dari bukunya Triyanto Triwikromo.