Pesan dari buku "Bersepeda ke Neraka". Dalam Prolog Pencerita, berjudul "Ning", "Ketidaksempurnaan yang indah dalam cerita akan membimbing pendengar atau pembaca cerita menciptakan cerita yang lebih gila dan tidak terduga. Kau disebut pencerita ulung jika bisa berkisah hanya dengan sedikit kata." ー
Dalam terminologi Jawa, kata Mbah Situk orang yang bisa membeberkan keluasan dunia dengan sedikit kata itu di sebut wong wasis. Di dalamnya ada kefleksibelan, kecekatan, kepandaian, dan ketrampilan. "Menurutku kurang satu; yakni keterbukaan"
Dengan kata lain, pembaca "karya terbuka" adalah "orang-orang yang terbuka". Orang yang memberi ruang kepada orang lain. Orang yang tak menganggap (teks) orang lain sebagai neraka. ー
Lain kali Mbah Situk memberi semacam enigma, semacam teka-teki. "Bukan burung, tapi bersayap. Bukan ulama, tetapi senantiasa bersujud. Ia tak pernah berbuat dosa. Ia berzikir pada Tuhan semata." Siapa yang dimaksud Mbah Situk? Pendengar atau pembaca dipersilahkan menerka. Tentu kalian boleh menebak ia malaikat, iblis, atau siapa saja. ー
Untuk teman-teman, aku tahu apa yang kalian kata. Itulah bahasa lisan masing-masing classmate seperti yang kita ketahui. Menuliskan statement lisan menjadi bahasatulis tidaklah seperti itu. Berkoar dengan bahasa lisan sangat penting menggunakan tanda baca. Si Doi bernama Anam kalau tak salah pernah mengatakan, "budayakan membaca" tapi tidak di sambut dengan baik. Bahasa apa yang sudah kalian tahu? Wildan bertimpal-balik memakai logat bahasa Sundah. Itu amatlah bagus. (*)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar