Mari kita mulai. Kenapa
saya begitu tertarik, yakni karena, coba Anda baca secara, seolah-olah sedang
mendengarkan si penulis mengucapkannya dengan lisan. Ya, bayangkan. Sambil
membaca. Hehe. Inilah bahasa lisan yang dirangkai ke dalam bahasa tulis. Simak
berikut ini!!
Jawa Pos –EDUKASI –selasa, 18 April 2017
“Meretas Penyiapan Generasi Emas”
Oleh: Dr Sri Sutarsi Mpd*
Bonus demografi yang
digemakan komunitas, akademisi, dan badan pemerintah yang peduli terhadap
kependudukan banyak berdampak positif jika dikelola dengan benar dan
dipersiapkan secara matang. Bonus demografi menyangkut kependudukan. Maka,
kuncinya ada pada kualitas SDM. Salah langkah dalam pengelolahan, dampak
negatif akan menjadi dominan. Bahkan, mimpi kita tentang Indonesia emas yang
menyejahterahkan hanya tinggal mimpi.
Konflik
di berbagai kota besar antara para sopir transportasi tradisional dan online (Go-Jek, Uber, Grab-Bike, dan
lain-lain) sebagai satu pertanda tentang rendahnya kualitas SDM kita. Konflik
atas dampak perkembangan teknologi yang tidak bisa lagi dibendung menandakan
ketidaksiapan SDM kita. Jika pemerintah menyelesaikan konflik tersebut hanya
dengan regulasi, yang muncul hanya penundaan konflik yang lebih krusial. Sebab,
perkembangan teknologi hanya bisa diatasi melalui peningkatan kualitas SDM dan
jawabnya berarti melalui sentuhan pendidikan yang baik, benar, menyeluruh, dan
berkualitas.
Gerakan
mereformasi pendidikan kita wajib dimulai dari sekarang dengan sikap yang
nyata. Kita tidak bisa berlama-lama duduk mendiskusikan usulan penyelasaian,
tetapi segera ambil langkah serentak sesuai bidang dan jenjang yang kita mampu.
Kurikulum 2013 sudah pasti tidak perlu lagi kita polemikkan. Jika kita merasa
ada kekurangan, segera bersikap melengkapinya. Sebab, peluang ruang penambahan
telah disediakan.
Kita
harus mendorong, membantu, serta mengingatkan pemerintah (di semua lini) agar
terus menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya. Tujuannya, menyerap tenaga
kerja yang tersedia, terutama para lulusan perguruan tinggi yang setiap tahun
jumlahnya meningkat. Mereka yang telah lulus SMA/SMK perlu dibekali pelatihan
ketrampilan sesuai dengan kompetensi.
Untuk
jenjang pendidikan dasar yang sekarang pengelolahannya menjadi tanggung jawab
mutlak kabupaten/kota, termasuk PAUD, segera mereformasi pendidikan yang
berkolaborasi dengan orang tua, masyarakat, dan lainnya. Kita jangan lagi
berpikir sektoral hanya gratis dan gratis. Kita harus konsisten dengan lambang
Jawa Timur yang bertulisan “Jer Basuki Mawa Beya”. Jika pendidikan kita ingin
mengahasilkan SDM berkualitas, slogan pada lambang harus menjadi pemikiran yang
implementatif.
Sentuhan
pendidikan khusus pendidikan dasar dan PAUD adalah menghasilkan pendidikan yang
membentuk manusia yang manusia. Manusia yang beriman, bertakwa, berkarakter,
berani jujur, disiplin dan menyenangkan. Implementasinya hanya bisa dilakukan
secara kolaboratif dan berkomitmen tinggi antara orang tua, masyarakat dan
pemerintah (lembaga pendidikan formal maupun non formal). Sepuluh kata kunci
untuk mendidik: perhatian, pendampingan, suasana menyenangkan, mengembangkan
inisiatif, belajar bernegosiasi, tidak banyak melarang, tidak memanjakan,
memberikan pujian, memandirikan, dan hindari menakut-nakuti.
Kualitas
SDM dibentuk dari pendidikan dini yang dimulai dari sini. Mari kita mulai dan
laksanakan tanpa kata menunda!
(*) Kepala Bidang PAUD Dikmas Dikbud Sidoarjo
Tidak ada komentar :
Posting Komentar