<Tanggulangin, 2016>
Hidup menyendiri, selalu sendiri
Lelah.Karena tak kesampaian
lesuh.Karena tak kesampaian
Ke mana-mana dikelilingi sesama jenis.
Mereka membuatku iri, emosi, .
Aku tak pernah menangis.
Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya punya teman dekat, dengan perempuan.
.
Bosan aku memendam ingin!
hanya karena selalu diam dan mengalah.
Muak aku!Karena tak kesampaian
Aku muak!Karena tak kesampaian
ー
Dengan tubuhku.
aku ingin menikmati tubuhmu. kupandangi wajahmu.
kukecup tengkukmu, lehermu, pundak dan seluruh dadamu.
lalu turun ke perut, sambil kupegang pinggangmu, kunikmati paha hingga lutut dan kakimu.
dengan tubuhku aku menikmati seluruh tubuhmu.
seiring berjalannya waktu, rasanya ngilu disengaja maupun tak sengaja menyaksikan
lekukan pinggangmu semakin mekar-berisi
Ayu wajahmu, putih kulitmu, serta bibirmu, rambut panjangmu, dan halusnya pundakmu -makin memadu dan membuatku menelan ludah-meracau kesal seraya napas kembang-kempis menahan pilu.
Itulah aku
tapi aku selalu menganggap ini ketersesaatan, kesesaatan, kepercumaan yang sia-sia seperti yang sering kudengar; nafsu sesaat, kenikmatan sesaat, kesenangan sesaat, euforia sesaat, dunia hanya sesaat menjerumus, terjerumus, dalam sumur ilusi yang fana. Kalau hanya menginginkan yang sekadar-sekadar, yang kelak membikin wajahmu merengut pasih, murung dan makin lama makin hanyut tenggelam tak mampu bangkit, tegak melompat meraih sadar.
dengan keadaan nyata dan ilusi yang ternikmat yang hanya sesaat, sejenak itu pula digeber yang oleh kenyataan tetap di keadaan ada dibalik pahit karena menganggapnya sebagai beban, yang keseharian yang tak ada kata selesai selama jiwa menyatu bersama kulit yang terbatas.
***
Makin melesat.
malam makin membawa sepi. Begitu juga alam pikirmu yang terus berpindah-berubah.
bikin terlena
"sejak dan semenjak turut ada batasnya yakni; kapan"
tapi inilah seputar beban pikir yang kerap iring-iringan dalam kepalaku. Apa-apa yang meruntuk kesal, dada tak kuat menahan isi kepala yang mengeluh oleh sesal, selalu menganggapnya semua ini sebagai sebuah kememangan.
Apa itu fatal?
Apa itu tidak manusiwi?
Tak wajar?
Kau tahu?
Apa betul?
Budaya dan hal ihwal menyangkut kreativitas dirangkai, ketaksengajaan, membentuk, di jadikan hal biasa sa sa, lalu disebut itu tradisi? Apa iya. Hah? Kejengkelan, perilaku mengeluh, masih ada susah dari yang paling susah. Kehidupan tak ada yang bullshit! Semuanya akibat nafsu dan kehendak manusia.
Ini-itu tapi tak tergambarkan secerah cerah gamblang.
Takut memakai kata-kata menusuk yang langsung atau yang tak ditutup-tutupi --apa adanya --lugas tanpa kepura-puraan. Tergantung adalah jawaban yang selalu terlontar.
Tapi skala?
Tapi jam terbang?
dan ketetapan niat? Dirumuskan menggunakan apa saja kalau tak ada gairah yang mengalir itu cuma kepercumaan. Ilusi sarat kesia-siaan. Tak ada yang hirau barang sekejap pun. Hidup menyendiri aku tak tahan!.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar