Minggu, 09 April 2017

Maukah kau, Membacanya Untukku?

Ayahnya *Yves Mittenaere,* seorang profesor di bidang sejarah dan geografi, bercerai dengan ibunya ketika Iris masih kecil. Namun, hubungan mereka semua masih baik. _"Sehari-hari saya tinggal di utara Perancis bersama ibu. Kalau liburan, saya ke tempat ayah saya di selatan Perancis"_ kata iris. (*)

Secuil kutipan di atas adalah ulasan yang ada di kolom Kompas"Figure" edisi hari ini. Karena membacanya, maka aku tertarik menulisnya ulang dengan sedikit olahan di bagian yang aku suka. Membaca. Kegiatan membaca adalah hal asyik yang paling menghibur bahwasanya kita ー (mahasiswa) sebagai generasi milenial, sebagai penikmat dan tak bisa lepas dari perangkat teknologi (gadget&social media) yang banyak menggerus ke dalam sifat individual ーpaham bagaimana cara supaya leluasa hanyut menggunakan inti bawah sadar, masuk ke lautan teks dan terseret ke dalam alur cerita sehingga kita, merasa seolah-olah habis ketiban kelapa (inspirasi) yang jatuh dari atas pohon yang sangat tinggi lalu terbangun dengan perasaan tergugah.

Penggalan artikel dari koran yang aku cuplik di atas, adalah hasil wawancara wartawan Kompas (Sri Rejeki) dengan pemenang Miss Universe, Iris Mittenaere, dalam perbincangan dengan Kompas di The Sultan Hotel, Jakarta.

Seorang Iris Mittenaere, yang berprofesi mahasiswa kedokteran gigi, terpilih dan dinobatkan sebagai Miss Universe, adalah salah satu mimpi yang jadi kenyataan serta sangat diangankan gadis-gadis di dunia.

Pada mulanya, orang-orang terdekat dan keluarganya merasa kaget namun bangga atas kemenangan Iris sebagai Miss France serta mengukir prestasi mewakili negaranya pada ajang

Tidak ada komentar :

Posting Komentar