Friday, Oktober 2017
17:24 - 03:37
Enggak krasa ya, cepat banget sudah hari jumat. Aku masih keingat terus waktu minggu lalu kita ketemu. Aku, tanggal 12 kemarin, sebenarnya ingin sekali pergi ke sana. Aku punya bayangan kalau kemarin aku ada di sana, mungkin pandanganku akan mencari keberadaanmu lalu berusaha memandangmu biarpun dari kejauhan.
Dengar baik-baik, bahwa tidak sedikit perbedaan antara aku dengan sampeyan, itu memang. Misalnya: dari segi umur lalu pengalaman merasakan jatuh hati, patah hati, kedewasaan, kepribadian, sifat ceroboh, gaya belajar, pengalaman spiritual maupun sosial, bakat, kesukaan, mimpi dan cita-cita. Memang sengaja diciptakan dengan potensi yang berbeda dari tiap makhluk dengan yang lainya. O iya, ada satu lagi. Jarak -skala ruang dan waktu yang memisah diantara kita, bagiku juga beda. Intinya mauku itu adalah, aku khawatir dan aku tidak ingin kamu lupa denganku. Aku ingin tetap kenal satu sama lain, sampai kapan pun.
Akan tetapi ..
Yang membuatku cemas adalah, hubungan seperti apa yang nantinya bisa terus langgeng serta Simbiosis Mutualisme? Apa kamu punya usul? Kamu boleh usul. Aku punya usul. Hubungan yang sarat kekeluargaan. Hubungan ukhrawi dalam dunia tulis-menulis. Lebih dari sekadar teman, sahabat atau jalinan adik dan kakak. Ibarat, keterbukaanmu terhadap orang terdekat sekitarmu seperti anggota keluarga, teman sejawat, soulmatemu atau cinta monyetmu, semua itulah yang aku ingin. (Apa terdengar berlebih?)
Tapi bukan berarti, aku punya maksud tertentu atau apa. Pokoknya, jalinan yang terkandung nantinya, sarat akan agama, kebudayaan, kependidikan, lingkungan, daily life, karya sastra, buku harian, curahan hati, kumpulan cerita pendek, puisi. (Kamu boleh usul)
(*) insyallah kuteruskan lagi minggu depan.
***
Saturday, October 14
To: Lailatul Badiyah
Assalamu'alaikum wr wb
Ini kutulis ketika aku sibuk dengan beberapa urusan sepele di dalam kamar selepas jama'ah maghrib. Aku sedang cemas memikirkan berbagai hal sore itu dan aku makin bingung dengan diriku sendiri saat mendapati pesan darimu. Aku akui, surat yang aku tulis kemarin memang terbilang sangat mengekang buatmu.
Mbak, mengapa percakapan kita kemarin di What'sApp! rasanya kok agak enggak nyambung ya?
Di bilang kenal, nyatanya juga tak seberapa. Hanya sekadar tahu, itu saja. Pean tahu soal aku dan aku tahu soal pean itu tak terlepas hanya sewaktu bergulirnya acara KKN yang berada di dusun Tlocor.
***
Sunday, October 15.
Pukul 21:45
Setiap hari, rasanya kangen muluuu. ...padahal kalau di flashback, kita ngobrol (duduk berdua) indepth hanya dua kali. Bener. Yang pertama saat aku berkunjung seorang diri lalu duduk di ruang tamu dan aku ngasih lihat draft contoh puisiku lewat hape dalam aplikasi Blogger. Kemudian hari minggu lalu sewaktu kamu tiba-tiba nongol dari balik jendela karena aku panggil secara sembunyi-sembunyi.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar