Aku tak berhasil seperti dia. Untaian penciptaan kata penuh renungan, penyimpulan, penataan akurasi yang runtut, serta penyampaian yang lugas di perjuangkan mati-matian dengan berlatih dalam waktu yang sangat lama. Membunuhmu. Kau, kau selalu mengebiri prilakumu sendiri menggunakan [...] Aku tahu kau dengan raup muka yang sendu, menginginkan kenyamanan tanpa harus bekerja yang memeras keringat. Rasa inginmu itu bukan di sesali, tapi di sikapi.
Lakukan! Melangkah! Bangun!! Gerakkan badanmu itu! Kau telah membacai tapi kau selalu diperdaya oleh tapimu sendiri. Kau sebetulnya tidak ditakuti, tapi kau sendiri yang membentuk takut itu. Dari balik dahi, kau merasa seperti ada yang menghalangi. Selalu kau bikin dan kau putuskan; percuma! ..dan percuma!
Kau kerap mengeluh juga, kau tak menyadari bila kau tak mampu sadar bahwa mengeluhmu itu justru makin memperpuruk. Gerak-gerik serta arah matamu selau kau habiskan untuk membetul-betulkan posisi sangkamu terhadap orang lain dan kau amat besar sekali menaruh takut dari dulu.
"Apa-apaan tanpa sebab tiba-tiba perasaanmu meradang menyikapi perintah yang tiba-tiba, malah [...]"
"Apa-apaan tanpa sebab tiba-tiba perasaanmu meradang menyikapi perintah yang tiba-tiba, malah [...]"
Terlalu mengejar peruntungan maka jadinya kesal dan sesal. Kau tidak pernah fokus dengan pribadimu sendiri. Begitu pun di kelas, dengan sendirinya hati mudah mendidih dengan persepsi salah yang kau tempatkan di tempat yang salah. Hidup glamour atau saling mengingatkan? Banyak pengamatan melahirkan emosi yang memilukan. Kau dinilai kurang berkembang. Apa kau bisa sadar mengenai itu?
Pikiran baru saja lelah, pusing, sok-sok'an mengernyitkan dahi tapi tak menghasilkan apa-apa. (29)
Kau takut dinilai oleh siapa? Hahh? Tidak soal, berkembang atau tidak..tapi itu yang kau rasakan sendiri. Memang, kau aku akui, kau terlalu lemah. Tiba-tiba menyerah berkata tidak mau. Padahal, kau tahu sendiri itu bagian yang paling kau harapkan. Siang ini adalah bagian. Sebentar lagi awal bulan datang dan pada hari-hari itu semua orang termasuk di sekitarmu, kau tidak tahu, akan biasa-biasa saja atau menegangkan atau seperti apa. Semua sudah atau mungkin, ah!..yaaaa...mungkin, tetaplah tabah dan jangan kau ambil apa pun lalu apa lagi perintah yang tiba-tiba itu kau sikapi dengan salah, merembas sampai ke hati dan wajah yang memberengut kelelahan emosional.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar