Kamis, 04 Mei 2017

Euforia Pengangguran

Thursday, February 16.
Ingat-ingat! Kau sudah begini macam, sudah kali ke berapa? Tetap saja tak kau sudah-sudahi tabiatmu ini; tak berubah, berpikir bagaimana caranya; untuk membiasakan sebagaimana adanya ketika orang tua angkatmu datang; pulang, mengisi agenda, bersilaturahim; singgah-berkunjung ke sini.  Kau ini berkerja di rumah rohani, gratis pula, dan dikelilingi orang
-orang berpendidikan tinggi nan salih, pandai dan teguh menjunjung nilai agama. Kau dihidupi, di biayai, di tampung; di kasi tempat yang bagus, nyaman, serta lingkungan yang kental beragama.
***
Kau ini, malam ini, jam 01.09, hari senin, sadar apa enggak si? Berhari-hari yang lalu juga begini. Malam ini jaga masih enggak kapok. Kapan si sadarnya? Ha!? Eforia pengangguran! Apa kau tidak mikir, enggak kasihan melihat raut wajah ibumu itu, enggak ngerti perbuatanmu mendosakanmu, enggak ngerasa kalau itu dosa. Kau enggak mampu menahan, dan terperdaya, lebih milih menghianat kepada Tuhanmu? Makin hari makin bebal otakmu akibat maksiat, dan kepalamu makin buntu dan mati, lalu menjadi pemalas akhirnya. Sungguh... dan kau masih saja terus-terusan mengulanginya. Dan kini, saat tadi, maupun saat kau melangkah, kau seperti orang yang kehilangan kesadaran. Berjalan, sambil kau rasakan bahwa mata batinmu hilang, tak terkendali, pandangan sayu, bagai orang ling-lung yang kebanyakan minum.
***
Pagi sekarang. Dan pagi-pagi sekali kau dengan membawa sepeda menuju ke rumah. Pagi sekali...langit saja masih nampak hitam di langit, dan kini berangsur-angsur rada kebiru-biruan.
Kau yang ketika subuh menjelang tadi, dengan pak Yas yang kemudian seperti biasanya melangkah menghampirimu yang masih saja terlelap tidur, yang dengan tiba-tiba kau berdiri dari tidur, begitu bangun seketika meraih sarung dan berjalan ke koridor berpapasan dengan bapak Yas sebelum sempat beliau membangunkan, kau tergopoh-gopoh menuju ke ruang mikrofon.
***
Ya ampun . . .sekarang, sepagi ini kau tidak sedang lagi ada di sana. Apa kata orang? Kalau dengar bunyi mesinmu berkelindan lewat depan rumah Pak M dan Bu T, berdigik, meyakin, dan menilai bahwa kau sepagi ini sudah keluyuran, seenak diri, beringsut, cabut, (Duh..)
Dirimu memang makin hari makin bebal, mindermu juga bertambah akut, titimbang pemuda seusiamu yang otaknya libih cerdas darimu dan yang paling mencolok, dirimu itu cuma anak canggung yang sekedar eforia penganggur dan kosong oleh angan-angan, gelisah belepotan sebelum berperang, dan kau seorang maniak yang bodoh dan pesakitan.
***
Buku-buku yang kau baca malah tidak memintarkan, tapi malah membuatmu sempoyongan seperti orang ling-lung, otakmu mengerjang, dahi berkerut, pandangan matamu sayu, dan kau jadi mengantuk. Karena kau tak kuat, jadi tak ada yang kau pahami, tidak ada yang bisa di serap, karena memang isi kepalamu sudah kebanyakkan asap rokok yang kau hisap setiap hari tiada jeda. Kepala dan tubuhmu seolah mati kalau tak menghisap rokok.
***
Pagi ini,a ibumu yang tak ada petir tak ada topan belanja kangkung dan bayam membikin masakan padahal, kau tahu, sepeser pun ibumu tak pernah memegang uang tiap harinya. (Aneh)
Ibumu, dengan ikhlas rela mengerjakan itu semua demi kau ,tapi, malah tak kau hiraukan saat beliau bicara tentang ini-itu, menasehatimu, dan tak pernah kau mengindahkannya barang untuk mendengarkan, apalagi menyimak.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar