Gerimis tak membuatku mengingat. Ingat siapa? Teringat sosok belia
yang pernah mencuri perhatianku saat hujan seperti ini. Masih ingat betul, sosok itu tak pernah lepas selalu menyorot gerak lakuku dari kejauhan. Selalu tanpa sepengetahuanku perhatian ini dicuri
bilik pagar dan ketika kutoleh dari kejahuan, dia tenggelam.
Menyembunyikan matanya yang begitu sorot akan kepolosan. Namun jika keberadaannya terlihat,. Mukanya memerah dari kejahuan.
Berlalu, sudah berlalu. Kini ia tak akan mengingatnya lagi.
Mengingkari akan kelicikkan yang telah ia perbuat. Entah kenapa, di begitu jauh melupakannya. Namun ingatan seperti itu merasuk dalam kenganan yang membuatku jadi semakin terombang-ambing oleh ingatan itu.
Tak perduli lagi. Kini dia telah terserang penyakit, yang pemyakit
itu, sekarang bercokol sampai hari ini. Sulit untuk membuangnya.
Ingin. Semua itu terulang lagi, saya dibuat tak peduli, selalau
terbayang ingatan saat-saat dulu.
Kejadian itu selalu menghinggapi di relung pikiran ini. Menghantui
setiap ku lalui jalan. Berpapasan dengan apapun yang menyangkut
kenangan itu selalu berdebar-debar dengan sendirinya.
***
Aku mulai menuju ke tempat teduh yang banyak dipenuhi dengan
keriuhan dan membeli sepotong kue dibungkus plastik yang dijual olehmbak Santi. berjaga-jaga, sambil sedang duduk, dan sesekali bengong menatap butiran air yang
jatuh dari pucuk asbes. Saat itu masih gerimis. Namun, air yang
mengucur dari atas semakin bertambah dan berlanjut hingga memutihkanpandanganku. Tapi itu tak berselang lama, menyusut padang lalu
berubah lagi menjadi rintik-rintik kecil.
Tak ada seorang pun understood and come to me. Tidak ada yang
menanggapi keberadaanku disini. Sakuku yang pas-pasan semakin membuatku termenung, sambil sesekali menengok jam darilayar buatan China.
Hanya memandang ke arah depan,sambil melamun, di sudut kantin ini,
yang bisa kupandang hanya hamparan halaman luas, hanya ada sepeda
motor yang terparkir berjejalan dengan rapi. Walaupun gerimis,
kendaraan yang berjejalan itu, perlahan-lahan menghilang meninggalkan tempatnya. Banyak orang, mondar-mandir disekelilingku. Mungkin, karena sebuah urusan yang mereka
pentingkan itu baru saja mereka dapatkan.
Kini, tetesan gerimis sedikit reda. Namun tetap, satu pun tak ada
yang menyapa keberadaanku. Meskipun disebelah-sebelahku, riuh dengan obrolan orang-orang lain yang tak kukenal.
Tepat disebelahku, rupanya mereka sepasang kekasih. Sepertinya,
mereka berdua sedang melakukan survei di sini. Dengan serius,
kayaknya mereka sedang menyusun sesuatu. Tapi, saat itu, dengan
asyiknya juga, aku sedang merangkai keyword -memikirkan pola yang cocok dikotak search egine -untuk memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri. Tapi, tiba-tiba, karena sebuah bunyi dering dari senjataChinaku ini, dan itu
merupakan pertanda bahwa gerakku di kantin ini harus di sudahi.
setelah bunyi dering itu berdering untuk kesekian kalinya. Akhirnya,bukanya kutinggalkan kursi itu. Namun, masih saja duduk disitu
dengan -tak hirau lagi dengan bunyi dering itu.
Tubuhku terasa lelah, mungkin disebabkan oleh asap yang kuhabiskan
dari dua batang yang, beberapa orang menyebut ini sebagai penyakit
menggerogoti kesehatan, juga termasuk syaraf, ini membuatku mudah
lelah. Tapi, masih saja kuhisap sampai Dari jauh, terlambai sebuah
tangan dan mengatakan sapaan pamit padaku “mole sek ya”. jelasnya.
Dia adalah teman sekelasku, yang setiap hari selalu memakai kaca
mata. Orangnya baik. Sepatah kata pun tak terucap - tak dihiraukan
sama sekali olehku.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar