Pernah kudapati cerita-cerita dari cerpen yang sulit untuk dimengerti sama sekali, alias, temanya tidak kusukai. Biarpun susunan kalimatnya susah untuk di cernah, dan alur yang membingungkan, aku kerap berusaha mengosongkan pikiran dan tidak terburu-buru supaya, paling tidak, dapat mengerti maksud yang di sampaikan kalimat per kalimat dan setelah itu, mengalir begitu saja.
Tergantung, tapi jika momennya apik, kuusahakan untuk se-relax mungkin agar bisa fokus meresapi bait-bait pertama saat membaca sebuah cerpen. Ini merupakan penggalan paragraf sebuah cerpen. Banyak sekali cerpen-cerpen yang bikin penasaran; serasa di buat hanyut serta mengundang untuk terus membacanya.
Kadang aku tak sabar menantikan cerpen-cerpen yang di muat koran-koran pada edisi minggu.
Yang sangat kusuka adalah, ketika menemui sampiran yang mulanya di susun dari bahasa lisan lalu di bahasa tuliskan sehingga tampak seperti orang yang berbicara sendiri. Atau, bisa juga membicarakan orang lain bahkan dirinya sendiri layaknya monolog.
***
Misalnya:
Aku suka sekali ulasan dari artikel dengan gaya penyampaian nan santai laiknya dalam obrolan intim seperti, "…Anya sosok yang hangat, terbuka, dan selalu mencoba ceria. Di balik itu, dia tengah menyeimbangkan kondisi mentalnya agar tidak lagi terperosok ke dalam depresi yang menyiksa. Dan, menulis puisi menjadi salah satu terapinya. Menulis menjadi cara dia menyalurkan emosi ketika tak pandai mengungkapkannya dalam kata-kata verbal."
Mula-mula, "Pagi itu kami janjian bertemu di Saudagar Kopi, kafe di Jalan Sabang, yang sudah buka sejak pukul 07.00, melayani orang-orang kantoran yang tak sempat sarapan. Namun, bukan Anya. Dia menghabiskan banyak waktu menulis di kafe itu sekalgus sebagai tempat melihat dunia luar.
Dengan agak kikuk, dia menyodorkan tangan. Kami bersalaman. Anya memakai kemeja kotak-kotak. Anting berbentuk prisma menambah pesona potongan rambut mullet-nya, berponi, tipis di bagian samping, dan memanjang di bagian belakang. Ada sedikit sepuhan warna merah tatkala sinar membias di rambutnya. Gaya rambut ini pernah ngetop di era 1980-an. Rocker Joan Jett atau penyanyi dan aktris Liza Minnelli. 'Mungkin karena aku kehilangan identitas jadi memakai identitas masa lalu ha-ha-ha,' seloroh Anya menjelaskan tentang gaya rambut dan pakaiannya."
"Dia memesan roti bakar telor dadar serta mimuman favoritnya, orange juice dan flat white. 'Ini lembut. Rasa kopi dan susunya berimbang. Ada pahit kopi dan gurih susu,' ujarnya mempromosikan flat white."
Guru bahasa, "Suatu hari ketika masih SMP, Anya dan teman-teman sekelasnya diminta guru Bahasa Indonesia membuat puisi. Guru itu menyuruh muridnya keluar kelas, melihat-lihat segala yang ada di halaman sekolah. Menyuruh mereka menulis apa saja yang terlintas. Anak-anak itu menyebar di bawah pohon Ki Hujan atau trembesi yang memayung.
Adapun Anya agak menjauh sehingga bisa menangkap kesan pohon gagah itu seolah melindungi teman-temannya. Dari situ, dia menulis puisi berjudul Ki Hujan, dan menjadi puisi terbaik di antara puisi teman-temannya. Keteduhan Ki Hujan menaungi Anya berpuisi.
Sejak saat itu, menulis puisi seolah menjadi jalan hidupnya. Dia lalu menggeluti dunia sastra dan membentuk komunitas Bungah Matahari lewat milis yang menjadi ruang diskusi maya pada awal era 2000-an. Kala itu dia masih kuliah di UI. Setelah lulus, dia melanjutkan studinya dengan mengambil program The Gothic Imagination di University of Stirling, Skotlandia, dan lulus tahun 2005.
Anya menilai puisi komunikatif. Mampu menjelaskan hal kecil di sekeliling. Cara pandang ini menghasilkan puisi-puisi yang mudah dipahami, tetapi tidak jatuh pada kedangkalan makna."
oleh Mohammad Hilmi Faiq, wartawan koran Kompas
√√√
Misal lagi:
Febri yang baik, Pelupuk mataku hangat. Basah hidungku. Kau bilang aku tak peka. Engkau juga seperti menimpakan seluruh kesalahan ke pundakku yang tua ini. Karena dari 12.000 yang diasingkan selama sepuluh tahun di pulau pembuangan itu, tak ada yang becus untuk menghasilkan tulisan yang menggugah. Jangankan menggerakkan. Kau katakan, dan terasa seperti menghukumku: "Kakek, tahu enggak," begitu kau menyindir, "Anne Frank cuma 13 tahun, tapi dia begitu menukik dan agung menghayati kecemasan, ketakutan, yang memenjarakannya di belakang lemari persembunyian, sampai dia digrebek dan dibinasakan. Sementara catatan hariannya menjadi warisan dunia dan lambang kekuatan manusia dalam menghadapi penindasan yang membinasakan."
Oleh Martin Aleida
***
Tidak ada komentar :
Posting Komentar