Bulan berganti Maret.
Malam ini adalah tanggal 1-nya. Rabu.
Pikiranku bimbang.
Rasa cemas sedang memburuku.
Dada rasanya tak tenang dan selalu lengah.
Pukul nol-nol tiga-tiga.
Ada apa dengan angka nol-nol tiga-tiga?Apa yang mau terjadi? Perbendaharaan kata yang dangkal membikin kepalaku buntu. Yang jelas...satu menit rasanya seperti sekejab.
Begitu cepat sekali.
Lampu baca sengaja tidak aku nyalakan.
Bunyi ngeng...ngung...ngeng, nyamuk mulai menyerbu. Berputar-putar, mendengung terbang, lalu hinggap.
"Shiittt!"Aku tak peduli dengan kau nyamuk!
Hidupku tak tenang bukan oleh sebab itu.
Aku seorang lelaki.
Lelaki terpuruk.
Payah dalam hal apa pun.
Malam semakin larut dan semakin menjadi-jadi.
Di luaran adu mulut antara jangkrik dan kodok saling beradu: berisik! Buatku, itu bunyi yang mencekam.
Kadang mulut cicak sesekali juga terdengar.
Jarang sekali,
dan digantikan oleh sayup-sayup deru kendaraan terdengar timbul-tenggelam seperti lenguhan dari arah kejauhan.
Itu sejak tadi.
Jauh sekali.
Bunyi erangan dari mulut kodok kini malah makin kencang dan nyaring mengungguli ocehan jangkrik.
Rasa cemasku semakin bertambah. Kacau!
Kacau balau.
Apakah kau akan semakin datang? Dua sisi cemas menelungkup dalam kepala. -Soal nyamuk, sejak kecil aku mulai suka menggunakan lotion untuk mengelabuhi si makhluk sialan itu. Beraroma jeruk, hangat, tapi pahit. biarpun pahit namun terbukti ampuh mengelabuhi si biang kerok... brengsek itu. (*)
Kamis, 2 Maret ー
Ada teman mengatakan, jika seseorang yang hidupnya terlahir nyaman nan bergelimang harta dan dikelilingi kemapanan tapi enggan untuk mengetahui rasanya di tempa oleh getir dan kerasnya mencari seporsi nasi, rasanya muskil ia akan paham konsep intensitas, empati, egaliter, social mind atau humanisem. Bagiku, ragam-padu kepekaan tersebut dapat di tangkap lewat dua hal. Pertama menelungsuri kejadian yang menggolakan hati. Dari sana akan muncul kesadaran. Lalu orang akan merangkai niat. Yang paling penting setelah di gampar ame sehelai hikmah adalah; ia musti menyetubuhi badannya sendiri agar bisa memahami diri...
Supaya mampu melambungkan ego sejauh-jauhnya. Kalau enggak gitu, mana bise ie menempatkan badannye.
Yang kedua, pengamatan; lewat bentuk teks atau verbal, survive langsung dan berbaur dan mengamati jejak langkah kondisi di sekitar. By text, (membaca) that's the key. Rutinitas di atas bumi serta hiruk-pikuk manusianya adalah medan multifungsi guna menyelam dan meneguk air keringat. And keeping learn any time: biar pun di air keruh.
Pukul dua belas-dua tiga. ー
Saya bilang juga apa!!! Tuuu ..kan, mending enak tadi kan?
Sekarang sudah tahukah kau, terik panas yang menyengat itu mudah membuat tubuhmu gobyos berkeringat?. Gobloknya lagi, udah tahu napas udah bengek malah ngerokok. Sekarang, apa rasanya? Tenggorokanmu pahit kan, kagak enak kan, rasanya? Bego si .loe!
Sudah, sekarang apa yang mau kamu lakukan? Pura-pura tidur atau, tahu kau, bahwah ibuk sedang di jalan dan sebentar lagi akan menuju ke sini?
15.42ー Hujan telah reda. Kini ibuk sudah ada di rumah: di Putat. Tadi sebelum ashar, langit sedikit mendung. Tapi sekarang, sinar matahari sore mulai berkilauan menerpa ribuan daun, hamparan sawah, dan seluruh alam di bumi. Dan langit akan menjadi cerah.
Jumat, 3 Maret ー Pagi. Pukul enam-tiga-tiga. Waktu sepulang membeli nasi pecel, pagi-pagi, dengan perut kekenyangan, duduk sambil menghisap rokok. Aku tak habis pikir tiba-tiba aku tertidur begitu saja. Kemudian, tahu-tahu terbangun; Kaget. Dan lemas.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar