"Apa mungkin semua orang juga dengar?" Hujan di luar membuatku makin terjaga. Ketika hujan muncul, jutaan titik-titik air jatuh ke bumi; di hutan, di laut, sawah-ladang, sebagian jatuh ke atap rumah-rumah dari mulai seng, asbes, kanopi atau genting.
Aku selalu berharap-harap cemas dengan pikiran kosong dan melamun, terkadang juga takut dan terkadang begitu takjub mendengar gemuruhnya.
"Apa setiap orang juga demikian?"
Mata kita selalu memandang ke sana. Telingah selalu menyimak setiap dentingan atau tetes air yang menghujam di tanah, yang terpantul keras di atas permukaan air yang menggenang. Di atas pelepah daun-daun pisang. Atau di dalam rimbun rerumputan, semuanya menyatu terdengar jelas menimbulkan alunan bunyi yang berpadu. Sangat jelas dan tetap, dapat kita tangkap atau kita dengar. Sampai rasanya, kita terhanyut oleh bosan dan tak sadarkan diri. Semua tertutupi oleh suara gemuruh air yang turun dari langit.
Bahwa di sana ada seseorang sedang berkelahi; kita tak akan dengar karena suara hujan.
Jikalau televisi tetangga samping rumah sedang menyala kita pun tak akan dengar karena terhalang suaran hujan.
Kendaraan di jalan raya yang jauh di sana, kita juga tak akan dengar karena ada hujan. Atau seorang bayi yang sedang menangis mengharapkan tetek ibunya, kita juga tak dapat mendengarnya.
kerumunan orang di kedai kopi; sopir angkot yang tengah ribut mendapatkan penumpang, semua tersingkap oleh gemuruh air hujan. Kini aku duduk di pelataran masjid yang kosong. Beberapa saat yang lalu para jamaah telah meninggalkannya.
Kini aku sendiri. Terlongoh-longoh dengan hati yang tenang. Biar pun hujan makin deras, aku tak peduli. Aku mulai mngandai-andai namun tak ada yang terselsaikan. Kepalaku menjadi penuh oleh rencana. Membayangkan jika seandainya kau di sini. Duduk di sebelahku. Kau tempelkan kepalamu di pundakku, kemudian aku dekatkan mulutku pada telingahmu lalu kubisikkan padamu sesuatu yang ada di pikiranku. Tapi itu, hanya sebuah lamunan yang sulit aku jangkau dan aku sulit untuk menyampaikan bayangan itu ke dalam tulisan. Selama ini bahasa tulisku hanya berisi keluhan. Kekecewaan terhadap suatu anugerah yang Tuhan ciptakan untukku, tapi aku selalu menganggapnya sebagai kelemahan. Tak pernah kuindahkan karena kesendirianku makin hari makin menjerembabkan segalanya. Termasuk kehidupanku yang, atas dasar kehendak-Nya aku anggap sepele dan menurutku apa mungkin sebegitu jauh aku membuat kecewa pada-Nya? Aku tak tahu. Hidupku selama ini diliputi oleh kesia-siaan.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar