Minggu, 16 Juli 2017

KKNT; Udar Rasa

UDAR RASA.
KKNT; Monolog
...

Dugaan saya, kalau Pak Kukuh itu mengiranya kita semua sering Rapat-Kumpul-Bahas padahal, lumayan jarang. Iya enggak? Ini
juga tidak berarti saya tak anggap bahasan di dalam grup atau acara rapat di kantin tadi siang. Yang saya maksud itu, secara INTENS.

Mengapa saya mengistilahkan Rapat-Kumpul-Bahas (RKB), sebab di sini saya mengumpamakan RKB sama seperti sebuah dapur. Ada berbagai perkakas untuk memasak mulai dari panci, kompor, pisau, gelas, piring dll. Sederhananya RKB itu merupakan sekumpulan bentuk kegunaan tiap-tiap alat perkakas masak yang jika di gabung jadi satu disebut sistem.

Begitu juga dengan Proker atau program kerja. Proker saya umpamakan dengan sebuah menu masakan.
Maksud saya tidak hanya proker saja yang bisa kita masak di dalam dapur, tapi, puluhan bahkan ribuan menu hidangan masakan. Lalu, darimana kita bisa mendapatkan bahan masakan kalau tidak belanja ke pasar induk? Telocor adalah pasar induknya. Jadi! Menurut kalian, tepat nggak kalau kita-kita malah belanjanya di atas meja di kantin kampus 2?
Diakui memang, aku kita semua, pernah beramai-ramai pergi ke pasar untuk urusan tinjau lokasi. Tetapi,   [...] Nah tapinya iniloh yg gua maksud. Sudah komplit, menyeluruh dan mendalam nggak yang kita peroleh? Ada yg tahu? (Renungkan ya)

Pendapat~
Banyak yg lebih penting. Tapi ini juga termasuk, salah satu dari aneka hal yang penting:

1. Sistematika Teknis
Cara nyusun Laporan akhir dan Laporan Keseharian. File panduan untuk penggarapan memang sudah di beri. Tapi adakah dari kalian membuka atau mengkopinya ke dalam bentuk kertas atau print out? Di rasa-rasa, adakah ketidakpahaman yang ikut serta saat menafsirkan format panduan itu? Tentu ada.
Tidak sedikit dari kalian barangkali lupa dengan elaborasi yang di terangkan oleh bu Evi ketika pembekalan. Adakah?

2. (Perihal Pak Kukuh)
Dia jago kalau ngomongin contoh-contoh kisah pengalaman dan fenomena yang harus jadi pelajaran yang beliau tangkap selama menjadi DPL. Beliau selalu getol mengingatkan aneka ragam dikotomis masyarakat terhadap mahasiswa serta pentingnya daya kritis-transformatif kita-kita agar tidak terpengaruh oleh kejadian-kejadian yg telah lalu.

PEMBENAMAN
Di paruh kedua, saya sungguh-sungguh kagum dengan gaya pembawaan Bu Ida ketika mengurai berbagai macam permisalan dari problem sehari-hari serta pengalaman yang beliau temui dan alami sendiri. Terus terang, beliau adalah dosen saya sendiri. Dari latar belakang yang saya ketahui, S1 beliau adalah jurusan seni terapan IKIP Surabaya, yang sekarang kita sebut UNESA. Bisakah kalian bayangkan kawan, dulu sempat saya tanya beliau, bahwa selain orang seni dan juga tentunya satu tempat dan pernah berjumpah dengan Prof Budi Darma alias seorang guru besar sekaligus sastrawan yang paling saya kagumi

Tidak ada komentar :

Posting Komentar