Kamis, 21 September 2017

UDAR RASA 4

September 2017
Sejak menentukan alur,
entah kena angin duduk atau angin lupa, atau karena memang sudah malas tiba-tiba langsung gusar,
menjadi tak becus untuk meneruskannya lagi.
Keluhanmu yang paling mendasar yaitu, tiap kali menulis kau tak pernah melanjutkan.  apapun alasan tak pernah

Dikerubungi sepi di malam hari. Sialnya aku takut kalau sampai hanyut, alias ketiduran. Sengaja sekuat badan dan mata menahan kantuk. Sore hari, siang hari; bila sudah di rumah badan ini tak pernah melakukan apa-apa. Terjaga dalam malas. Menyia-nyiakan waktu. Triakkan keras yang menghardik belakangan ini sudah jarang tak kudengarkan. Kepala makin lama makin buntu. Rasa-rasanya kau seperti orang linglung bila suatu kedatangan tak kunjung tiba atau tak tersiar kabar kapan akan datang. kebiasaan malas akan semakin mencekram yang dengannya badan diporak-poranda. Ini malam betul-betul sangat melenakan. Rasa sesal sedikit pun tak terpancar saat tangan ini memegang makanan atau gelas menggunakan tangan kiri. Begitu putung rokok kau buang dengan seenaknya lalu kau beranjak sedikit mundur ke belakang begitu saja. Kini bayangku terasa membenak dalam keraguan. Iya kalau tidak. Kalau iya, bagaimana? Kalau iya besok pagi akan berabe. Sungguh, itu yang sangat kutakutkan. Di saat mata ini terlelap sementara langit gelap akan beranjak meninggalkan fajar. Apa kau menganggap remeh bahwa Tuhan sejatinya turun ke bumi setiap malam. Isi otak dan pandangan mata mulai mengabur. Aku hampir saja terpeleset ke alam tidur. Bola mataku mendelik sedang. Tapi dalamnya, bingung seberapa lama aku kukuat menahan kantuk ini. Sebegitu mudahnya kau bergeser badan ke serambi untuk melanjutkan tidur.
<>
Kesan indera. Asumsi belaka. Sesuatu yang di rasa dan di alami. Pikiran dan akal. Apa bedanya. Seputar yang dirasakan saja. Apa-apa yang diserap, menimbulkan kesan-kesan.

Sesuatu sedang terjadi di dalam diriku. Sendiri dan melamun. Bingung apa yang harus di urusi atau dikerjakan. Duduk sendiri, tanpa ditemani oleh siapa-siapa. Sampai sebatang rokok mau habis, aku masih tetap saja melamun. Aku bingung apa yang seharusnya di kulakukan.
Di awali dengan titik. Malam ini aku pulang lebih awal dan hari masih sore saat aku berada di rumah. Kepalaku sekarang tak teringat apa-apa. Ibu bilang. Ibu bercerita. Beliau selalu sedih memikirkanku. Malam ini hidungku buntu. Aku bersendawa. Aku lebih terfokus pada mp3 yang sedang aku putar. Aku tidak punya rasa apa-apa. Menyesal pun tidak. Rasanya sulit menulis tentang diriku sendiri. Wajahku semakin terlihat tua. Dan bertambah suram.

<>
Semester yang lalu dan semester yang lalu, maupun semester yang sekarang ini. Aku enggak pernah masuk itu kenapa?
Hidupku terbengkalai dan amat sering tidak tertib. Suka begadang dan nongkrong di kedai kopi. Loe sendiri juga tahu, apa imbas yang bakal kuterima setelah ini. Sejak semester lalu diriku merasa kuliah ini tidak membikin aku tambah lebih pintar. Malah kebalikannya aku ngerasa semakin hari makin tambah goblok.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar