“,...adalah kenapa kita
gagal mempertahankan hal-hal baik yang pernah kita miliki.
Manusia tidak berlari secepat cheetah, tidak pintar memanjat pohon seperti
monyet dan berbagai jenis primata lain, tidak memiliki kuku dan taring yang
tajam, secara umum tidak mampu mengenali racun pada tanaman-tanaman, tidak bisa
menghindar dari terkaman singa jika berpapasan di tengah hutan, serta bisa mati
seketika oleh patukan ular cobra. Bahkan, cacing kremi pun sudah bisa membuat
kita repot. Namun, makhluk yang sangat lemah itu justru yang paling sanggup
mempertahankan spesiesnya dan terus beranak pinak hingga sekarang. Padahal,
jika dibandingkan dengan kucing yang bisa beranak delapan dalam sekali
melahirkan, manusia pada umumnya melahirkan anak satu demi satu.
Pendapat umum meyakini bahwa keberhasilan itu disebabkan manusia memiliki
kecerdasan pikiran.
“Tidak!” tulis Joseph. Kecerdasan pikiran manusia tidak akan mampu bekerja
untuk mengatasi masalah yang timbul dalam perjumpaan satu lawan satu dengan
gorila, dalam keadaan masing-masing tidak bersenjata.
Manusia sukses bertahan, sementara hewan-hewan terkuat justru punah atau
dalam proses kepunahan, karena merupakan maakhluk kultural. Manusia belajar
dari pendahulunya serta bisa memilih kepada siapa dia belajar dan bisa
memutuskan dengan siapa bekerja sama, tidak hanya dalam segala urusan yang
baik, tetapi juga yang buruk. Kemampuan itu tidak dimiliki hewan-hewan.
Margasatwa tidak memiliki kemampuan memilih kepada siapa mereka belajar.
Anak-anak kucing disusui induknya, dilindungi selama beberapa waktu, dan tak
lama kemuidan dibiarkan tumbuh sendiri. Mereka bertahan dengan naluri.
Selain itu, manusia paling adaptif. Kita memiliki kemampuan menyesuaikan
diri dan bisa membuat kesepakatan spontan. Seekor harimau akan berantem dengan
gorila jika mereka berpapasan di jalur setapak yang sempit. Dua manuisa yang
berpapasan di jalur yang sama, tanpa perjanjian terlebih dahulu, masing-masing
akan memiringkan tubuh agar bisa meneruskan perjalanan ke tempat tujuan
masing-masing. Memang kita sekarang sedang menyaksikan sekelompok kecil orang
yang tidak mampu beradaptasi dan memiliki kecenderungan menghukum siapa saja
serta melemparkan orang-orang yang tidak sama dengan mereka ke api neraka.
Mereka menjadi masalah bagi orang lain karena kaku. Namun, saya pikir itu hanya
urusan sementara.
Dalam hal lain, kemampuan berdaptasi itulah yang menjelaskan kenapa
orang-orang yang menikmati kekuasaan Orde Baru dan mereka yang kita anggap
biang kesemrawutan dalam perpolitikan bisa terus bertahan serta tetap
mendapatkan posisi bagus, meskipun kita berpikir bahwa mereka akan tamat
setelah Orde Baru tumbang. Di luar perkiraan orang, mereka lentur dan memiliki
kemampuan hebat dalam beradaptasi dengan lingkungan baru. Kurang lebih mereka
sama adaptifnya dengan kecoak, yang konon sudah ada dan mengilap seperti itu
sejak jutaan tahun lalu.
Itu salah satu sisi apes kita. Saya tahu bahwa nasib apes bisa datang kapan
saja, kepada siapa saja, dan bisa menimpa masyarakat nama saja, bahkan kalaupun
segala urusan sudah ditata sebaik-baiknya di dalam masyarakat tersebut. Nasib
apes tidak berjalan mengikuti hukum sebab-akibat yang kita kembangkan dengan
akal kita. Jika sebaliknya, kita membiarkan diri awut-awutan dalam berbagai
urusan dan tidak bisa memilih kepada siapa kita belajar, itu berarti kita
memang sengaja mengundang nasib apes.
Meski meyakini hal itu, saya tetap heran kenapa kita gagal mempertahankan
hal-hal terbaik yang pernah menjadi milik kita di masa lalu dan kenapa
prestasi-prestasi kita dalam beberapa hal bertolak belakang dengan teori
evolusi yang menyatakan bahwa kecenderungan manusia adalah mengikat ke arah
yang lebih baik.” (*) A.S LAKSANA
Tidak ada komentar :
Posting Komentar