Senin, 15 Agustus 2016

Misteri Besar Kita -A.S Laksana

          “,...adalah kenapa kita gagal mempertahankan hal-hal baik yang pernah kita miliki.
Manusia tidak berlari secepat cheetah, tidak pintar memanjat pohon seperti monyet dan berbagai jenis primata lain, tidak memiliki kuku dan taring yang tajam, secara umum tidak mampu mengenali racun pada tanaman-tanaman, tidak bisa menghindar dari terkaman singa jika berpapasan di tengah hutan, serta bisa mati seketika oleh patukan ular cobra. Bahkan, cacing kremi pun sudah bisa membuat kita repot. Namun, makhluk yang sangat lemah itu justru yang paling sanggup mempertahankan spesiesnya dan terus beranak pinak hingga sekarang. Padahal, jika dibandingkan dengan kucing yang bisa beranak delapan dalam sekali melahirkan, manusia pada umumnya melahirkan anak satu demi satu.
       Pendapat umum meyakini bahwa keberhasilan itu disebabkan manusia memiliki kecerdasan pikiran.
“Tidak!” tulis Joseph. Kecerdasan pikiran manusia tidak akan mampu bekerja untuk mengatasi masalah yang timbul dalam perjumpaan satu lawan satu dengan gorila, dalam keadaan masing-masing tidak bersenjata.
Manusia sukses bertahan, sementara hewan-hewan terkuat justru punah atau dalam proses kepunahan, karena merupakan maakhluk kultural. Manusia belajar dari pendahulunya serta bisa memilih kepada siapa dia belajar dan bisa memutuskan dengan siapa bekerja sama, tidak hanya dalam segala urusan yang baik, tetapi juga yang buruk. Kemampuan itu tidak dimiliki hewan-hewan. Margasatwa tidak memiliki kemampuan memilih kepada siapa mereka belajar. Anak-anak kucing disusui induknya, dilindungi selama beberapa waktu, dan tak lama kemuidan dibiarkan tumbuh sendiri. Mereka bertahan dengan naluri.
       Selain itu, manusia paling adaptif. Kita memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan bisa membuat kesepakatan spontan. Seekor harimau akan berantem dengan gorila jika mereka berpapasan di jalur setapak yang sempit. Dua manuisa yang berpapasan di jalur yang sama, tanpa perjanjian terlebih dahulu, masing-masing akan memiringkan tubuh agar bisa meneruskan perjalanan ke tempat tujuan masing-masing. Memang kita sekarang sedang menyaksikan sekelompok kecil orang yang tidak mampu beradaptasi dan memiliki kecenderungan menghukum siapa saja serta melemparkan orang-orang yang tidak sama dengan mereka ke api neraka. Mereka menjadi masalah bagi orang lain karena kaku. Namun, saya pikir itu hanya urusan sementara.
      Dalam hal lain, kemampuan berdaptasi itulah yang menjelaskan kenapa orang-orang yang menikmati kekuasaan Orde Baru dan mereka yang kita anggap biang kesemrawutan dalam perpolitikan bisa terus bertahan serta tetap mendapatkan posisi bagus, meskipun kita berpikir bahwa mereka akan tamat setelah Orde Baru tumbang. Di luar perkiraan orang, mereka lentur dan memiliki kemampuan hebat dalam beradaptasi dengan lingkungan baru. Kurang lebih mereka sama adaptifnya dengan kecoak, yang konon sudah ada dan mengilap seperti itu sejak jutaan tahun lalu.
        Itu salah satu sisi apes kita. Saya tahu bahwa nasib apes bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, dan bisa menimpa masyarakat nama saja, bahkan kalaupun segala urusan sudah ditata sebaik-baiknya di dalam masyarakat tersebut. Nasib apes tidak berjalan mengikuti hukum sebab-akibat yang kita kembangkan dengan akal kita. Jika sebaliknya, kita membiarkan diri awut-awutan dalam berbagai urusan dan tidak bisa memilih kepada siapa kita belajar, itu berarti kita memang sengaja mengundang nasib apes.

        Meski meyakini hal itu, saya tetap heran kenapa kita gagal mempertahankan hal-hal terbaik yang pernah menjadi milik kita di masa lalu dan kenapa prestasi-prestasi kita dalam beberapa hal bertolak belakang dengan teori evolusi yang menyatakan bahwa kecenderungan manusia adalah mengikat ke arah yang lebih baik.” (*) A.S LAKSANA

Tidak ada komentar :

Posting Komentar