Senin, 15 Agustus 2016

“intelligence is not enough. Intelligence plus character, that is the goal of true education”

     Untuk kesekian kali, di koran Kompas, selain senang memburu edisi minggu, saya juga suka pada edisi hari Sabtu. Bahkan, saya bela-belain keloyongan sampai keluar dari batas desa, bahkan kecamatan, sebisa-bisanya musti harus dapat.
     Selain kolom certita pendek edisi Minggu, kalau di hari sabtu ini saya suka membaca selain kolom-kolom opini, pendidikan, saya suka membaca kolom “KARIER”. Di bagian ini selain ada culpikan mengenai cari kerja, lalu jadwal film bioskop, ada artikel-artikel yang di ulas sangat dalam maknanya dan saya begitu nyaman membaca sekaligus menembah wawasan saya.
     Ini, sebagian cuplikan dari artikel tersebut yang sarat akan pengetahuan dan dapat di jadikan motivasi sekiranya di baca oleh anak-anak muda zaman sekarang yang jarang suka membaca dan kebanyakan sukanya melakukan senam jari dengan touchscreen alias gadget. Tak jarang mereka yang katanya kaum milineal ini seiring berubahnya zaman, semakin canggih dunia teknologi dan informasi, malah menjadikan mereka makin individualistis, itu katanya..ya. Tapi sama saja.
***
“Apa artinya karakter kuat? Apa gunanya? Kuatnya karakter tergambarkan dalam sebuah wawancara saya dengan seorang fresh graduate bernama Yuli. Kedua orangtaunya bekerja sampai malam, ibunya bekerja di salon, sementara ayahnya adalah pengemudi. Setiap hari ia bertugas untuk menyetrika baju seluruh anggota rumah, sementara adik satu-satunya membersihkan rumah. Ketika ditanya situasi apa yang paling berat yang pernah ia alami, ia menceritakan tentang krisis pernikahan orangtuanya, ketika ayahnya ingin berusaha sendiri, dan menjual semua harta yang ada, tetapi merugi. Ibunya sangat marah dan menggugat cerai sang ayah.
     Yuli berusaha menenangkan ibunya dengan menjelaskan dampak buruk dari sebuah perceraian. Krisis pun berlalu, Yuli berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat A. Selama kuliah, ia bekerja part time, dengan mengajar bahasa Indonesia kepada para expart yang baru bermukim di Indonesia, untuk membayar uang kuliahnya sendiri. Di rumah, ia mengundang anak-anak sekampung untuk membuat PR bersama, dengan bayaran ala kadarnya. Alasannya? ‘”Dari pada menonton sinetron, lebih baik rumah ramai dengan anak lain. Sepi di rumah, bapak ibu pulangnya malam.’”
     Bukankah jalan hidup yang keras ini membuat Yuli menjadi seorang yang kuat, mengerti arti kehidupan, dan siap menghadapi tantangan lain dalam hidupnya? Individu berkarakter kuat perlu mengulangi masalah-masalah yang berkenaan dengan emosi. Fairness dan kejujuran tidak hanya bisa diceramahkan dan dikuliahkan, tetapi juga harus dialami, dicontoh, dinilai, bahkan diderita sehingga akhirnya individu dapat mengambil keputusan yang bertanggung jawab dan beraspirasi tinggi untuk memperbaiki kualitas hidupnya. #
     Apa yang bisa dilakukan? Membentuk karakter membutuhkan investasi waktu. Setiap kejadian yang dilalui, juga setiap pihak dalam kehidupan seseorang baik orangtua, lingkungan, institusi pendidikan, maupun organisasi ikut berperan dalam pembentukannya.
Selain melalui pengalaman hidup, karakter pun dibentuk lewat pemberian teladan. Berbicara tentang teladan, baik orangtua, guru, tokoh masyarakat, ulama, pemerintah, maupun pemimpin organisasi bertanggung jawab untuk melakukannya. Apakah pada saat kita menuntut anak-anak, siswa, bawahan, atau masyarakat untuk mewujudkan revolusi mental, kita sudah mencontohkan perilaku yang tepat? Atau kita hanya sibuk berteriak, tetapi berperilaku bertentangan dengan hal-hal yang kita suarakan?
     Karakter juga dikembangkan lewat dialog-dialog yang menjawab pertanyaan ‘”mengapa’” dengan jujur, dan bagaimana menanggulanginya, sesuai dengan kemampuan individu. Untuk itu, perlu ada pembicaraan tatap muka satu lawan satu dengan individu, dan kebersamaan dan pengawasan ketika kita mempraktekkan perubahan.
     Kita harus berfokus pada esensi, bukan masalah seberapa jam yang kita habiskan, melainkan apakah dalam waktu-waktu yang tersedia kita telah memberikan teladan terbaik, merancang pengalaman yang tepat, membentuk sistem pembelajaran yang mendukung atau membangun budaya yang menguatkan terbentuknya perilaku-perilalu positif. []

Tidak ada komentar :

Posting Komentar