Untuk
kesekian kali, di koran Kompas, selain senang memburu edisi minggu, saya juga
suka pada edisi hari Sabtu. Bahkan, saya bela-belain keloyongan sampai keluar
dari batas desa, bahkan kecamatan, sebisa-bisanya musti harus dapat.
Selain kolom
certita pendek edisi Minggu, kalau di hari sabtu ini saya suka membaca selain
kolom-kolom opini, pendidikan, saya suka membaca kolom “KARIER”. Di bagian ini
selain ada culpikan mengenai cari kerja, lalu jadwal film bioskop, ada
artikel-artikel yang di ulas sangat dalam maknanya dan saya begitu nyaman
membaca sekaligus menembah wawasan saya.
Ini,
sebagian cuplikan dari artikel tersebut yang sarat akan pengetahuan dan dapat
di jadikan motivasi sekiranya di baca oleh anak-anak muda zaman sekarang yang
jarang suka membaca dan kebanyakan sukanya melakukan senam jari dengan
touchscreen alias gadget. Tak jarang mereka yang katanya kaum milineal ini seiring
berubahnya zaman, semakin canggih dunia teknologi dan informasi, malah
menjadikan mereka makin individualistis, itu katanya..ya. Tapi sama saja.
***
“Apa artinya
karakter kuat? Apa gunanya? Kuatnya karakter tergambarkan dalam sebuah
wawancara saya dengan seorang fresh graduate bernama Yuli. Kedua
orangtaunya bekerja sampai malam, ibunya bekerja di salon, sementara ayahnya
adalah pengemudi. Setiap hari ia bertugas untuk menyetrika baju seluruh anggota
rumah, sementara adik satu-satunya membersihkan rumah. Ketika ditanya situasi
apa yang paling berat yang pernah ia alami, ia menceritakan tentang krisis
pernikahan orangtuanya, ketika ayahnya ingin berusaha sendiri, dan menjual
semua harta yang ada, tetapi merugi. Ibunya sangat marah dan menggugat cerai
sang ayah.
Yuli
berusaha menenangkan ibunya dengan menjelaskan dampak buruk dari sebuah
perceraian. Krisis pun berlalu, Yuli berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan
predikat A. Selama kuliah, ia bekerja part time, dengan mengajar bahasa
Indonesia kepada para expart yang baru bermukim di Indonesia, untuk
membayar uang kuliahnya sendiri. Di rumah, ia mengundang anak-anak sekampung
untuk membuat PR bersama, dengan bayaran ala kadarnya. Alasannya? ‘”Dari pada
menonton sinetron, lebih baik rumah ramai dengan anak lain. Sepi di rumah,
bapak ibu pulangnya malam.’”
Bukankah
jalan hidup yang keras ini membuat Yuli menjadi seorang yang kuat, mengerti
arti kehidupan, dan siap menghadapi tantangan lain dalam hidupnya? Individu
berkarakter kuat perlu mengulangi masalah-masalah yang berkenaan dengan emosi. Fairness
dan kejujuran tidak hanya bisa diceramahkan dan dikuliahkan, tetapi juga harus
dialami, dicontoh, dinilai, bahkan diderita sehingga akhirnya individu dapat
mengambil keputusan yang bertanggung jawab dan beraspirasi tinggi untuk
memperbaiki kualitas hidupnya. #
Apa yang
bisa dilakukan? Membentuk karakter membutuhkan investasi waktu. Setiap kejadian
yang dilalui, juga setiap pihak dalam kehidupan seseorang baik orangtua,
lingkungan, institusi pendidikan, maupun organisasi ikut berperan dalam pembentukannya.
Selain
melalui pengalaman hidup, karakter pun dibentuk lewat pemberian teladan.
Berbicara tentang teladan, baik orangtua, guru, tokoh masyarakat, ulama,
pemerintah, maupun pemimpin
organisasi bertanggung jawab untuk melakukannya. Apakah pada saat kita
menuntut anak-anak, siswa, bawahan, atau masyarakat untuk mewujudkan revolusi
mental, kita sudah mencontohkan perilaku yang tepat? Atau kita hanya sibuk
berteriak, tetapi berperilaku bertentangan dengan hal-hal yang kita suarakan?
Karakter
juga dikembangkan lewat dialog-dialog yang menjawab pertanyaan ‘”mengapa’”
dengan jujur, dan bagaimana menanggulanginya, sesuai dengan kemampuan individu.
Untuk itu, perlu ada pembicaraan tatap muka satu lawan satu dengan individu,
dan kebersamaan dan pengawasan ketika kita mempraktekkan perubahan.
Kita harus
berfokus pada esensi, bukan masalah seberapa jam yang kita habiskan, melainkan
apakah dalam waktu-waktu yang tersedia kita telah memberikan teladan terbaik,
merancang pengalaman yang tepat, membentuk sistem pembelajaran yang mendukung
atau membangun budaya yang menguatkan terbentuknya perilaku-perilalu positif. []
Tidak ada komentar :
Posting Komentar