Berbagai cara dilakuakan. Semuanya di tempuh, sebagai
bentuk penyanggupan, apa pun kendala di depan, tak risau ambil pusing sama
sekali. Semua, demi tercapainya rasa yang menguak, dan sulit sekali untuk di
kendalikan, tak kuasa untuk membendungnya. Akhirnya, giliran saatnya tiba. Apa
saatnya tiba itu? Ialah barang seketika sesuatu bergemuruh itu menghambur,
mengluarkan semua sensasinya, menembus dinding, terpelanting layaknya kembang
api saat nol dari hitungan mundur perayaan tahun baru, mulailah kejatuhannya.
Semuanya jatuh, persis salju ketika perlahan membintik, dan menumpuk dengan
tebalnya. Ini juga sama seperti langit saat perlahan tapi berubah dari gelap
membiak semakin terang semakin cerah menyinar di balik kaki langit, yang sangat
jauh.
Seseorang berkesah kepadaku, namun sebelumnya,
berkali-kali ia mengumpat soal sesuatu yang di harap dan serius di tungguinya
tak menampakkan tanda apa-apa. Aku heran sama-sekali awalnya. Dan aku terus
mengamatinya saat itu. Tetapi barang secara suka-rela tiba-tiba aku diajaknya.
Kini aku memperhatikan bagaimana mata dan mulutnya mengekspresikan kesal. Di
ajaknya aku membahas menyangkut soal kecil-kecilan atau sepele, katanya. Sambil
mengucapkan secuil-cuil umpatan, beserta gayanya, mimik mukanya.
Mengatakan,”kenapa ya, tanggal muda kok lama banget!!! Di rasa-rasa kok enggak
sabar aku. Dan gara-gara ini, semuanya bikin mem-frustasikan aku?” ucapnya
dengan intonasi yang dalam. (*) enggak tutuk...
Tidak ada komentar :
Posting Komentar