Minggu, 31 Juli 2016

Kaki Warung Sesat

Berbagai cara dilakuakan. Semuanya di tempuh, sebagai bentuk penyanggupan, apa pun kendala di depan, tak risau ambil pusing sama sekali. Semua, demi tercapainya rasa yang menguak, dan sulit sekali untuk di kendalikan, tak kuasa untuk membendungnya. Akhirnya, giliran saatnya tiba. Apa saatnya tiba itu? Ialah barang seketika sesuatu bergemuruh itu menghambur, mengluarkan semua sensasinya, menembus dinding, terpelanting layaknya kembang api saat nol dari hitungan mundur perayaan tahun baru, mulailah kejatuhannya. Semuanya jatuh, persis salju ketika perlahan membintik, dan menumpuk dengan tebalnya. Ini juga sama seperti langit saat perlahan tapi berubah dari gelap membiak semakin terang semakin cerah menyinar di balik kaki langit, yang sangat jauh.

Seseorang berkesah kepadaku, namun sebelumnya, berkali-kali ia mengumpat soal sesuatu yang di harap dan serius di tungguinya tak menampakkan tanda apa-apa. Aku heran sama-sekali awalnya. Dan aku terus mengamatinya saat itu. Tetapi barang secara suka-rela tiba-tiba aku diajaknya. Kini aku memperhatikan bagaimana mata dan mulutnya mengekspresikan kesal. Di ajaknya aku membahas menyangkut soal kecil-kecilan atau sepele, katanya. Sambil mengucapkan secuil-cuil umpatan, beserta gayanya, mimik mukanya. Mengatakan,”kenapa ya, tanggal muda kok lama banget!!! Di rasa-rasa kok enggak sabar aku. Dan gara-gara ini, semuanya bikin mem-frustasikan aku?” ucapnya dengan intonasi yang dalam.  (*) enggak tutuk...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar