Di lihat dari kata-kata.
Take of granted, menjahit sebuah alasan yang di seolah-olahkan. Absurd, terasa bosan di sana! karena bisa jadi ..seperti, menekan tombol "ENTER". Tapi aku tidak berani menghadapi akibatnya.
Meminimalisir atau meredam. Mulia dan dewasa mengatakan, bila sanggup melakukan barang yang sangat tidak kita suka.
Namun, apakah betul aku jatuh suka?
Duduk mendengarkan ceramah. Takut membiasakannya, oh..
Segala macam edit sana edit sini adalah salah tingkah. Hatiku dag-dig-dug karena perasaanku selalu kasmaran.
Mulut siapa, harimau siapa. "Pengalaman cinta ..Tapi banyak yang lupa; yang terpenting itu tidak selalu penting bagi orang ke-3."
Racikan kata nukilan derai kontaminasi pikir.
Aku janji pada kepura-puraan. Yang mengembara tak tentu arah,
Marah-marah begitu cayaha memasuki ruang yang gumpalannya memudar. Biasnya merambat, takut di ungkap dan di cerca oleh orang.
Bagaimana jadinya kohesi melambungkan cahaya kuning yang memendar dari atas tiang tinggi. Rimbuk-rimbuk bergelombang seperti di catok. Namun, itukah spontanitas. Pandangku mengawasi dari jauh, mereka sebenarnya tengah bertasbih. Mereka tunduk laiknya akal tunggal. Tidak seperti panas di dada manusia.
Seorang penulis bernama Pram sedang aku kutip. Sepeser uang yang kudapat dari kibul, kubelanjakan semuanya tanpa sisa. Jam terlihat akan segera tutup, tapi aku panik. Aku tak kuasa oh!, tidak, ternyata aku lupa. Waktu itu siang hari. Sebuah buku yang di himpun oleh sang pengagum.
Seperti saga. Tak ada petang dengan serempak. Maka tak ayal aku malu-malu kucing. Kejujuran mengakibatkan perasaanku mampat. Menyembur ke udara. Banyak yang hilang! Aku memang orang yang tak pandai mencari tahu. Aku mengangguk, kuakui. Sebuah kememangan.
Manusia sekular atau manusia liberal. Yang fatalis maupun idealis. Yang rasionalis atau yang berpadu. Ambiguitas itu hampa. Terkadang perempuan suka munafik. Tapi mereka adalah sang guru. Identik dengan laki-laki. Mulut berbusa-busa biar. Perempuan dominasi setara dengan seorang pria. Melankolis, penuh misteri, dengan tatapannya yang tajam dan kakinya yang jenjang, garis wajahnya terlihat begitu muram.
Tapi aku pernah bertemu dan mewawancarai seorang anak manusia. Umurnya masih muda. Rambutnya lurus berbelah tengah, berombak dan panjangnya hampir sebahu.
Aku kagum melihat senyum pasrahnya memancar ketika tergoda oleh pertanyaanku. Sebisa mungkin kugoda dengan berbagai pertanyaan.
Tapi aku tetap tak habis pikir jika teringat sewaktu dia di pinggir jalan naik sepeda lalu berpapasan denganku. Jika aku nilai, ia begitu tegar. Pagi ini aku merenung dan terharu teringat wajahnya. Kuketahui, wajah yang menyeringai penuh sendu itu sebetulnya telah lapuk. Duka nestapa ia bangun dengan tertawa. Aku tahu ia sedang menertawakan diri sendiri.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar