22 februaryー Remang-remang cahaya kekuningan bercampur kabut pagi memendar di bawah lampu jalan. Kabut membintik begitu kecil seperti air es dalam gelas membasahi kaca spion.
Tengok, di balik jendela sana. Di luar, langit yang kau anggap semula tadi hitam kini berubah. Apa kau buta? Coba, keluarlah sana! Selangkah saja. Kau akan merasakan udara dingin yang sejuk berbeda jauh dengan udara di dalam kamarmu. Cepatlah berdiri! Para serangga, burung-burung, kicau dan talu yang nyaring bersahutan mulai mengiringi langit yang semakin membiak terang kelabu biru.
Dirimu memang bengal memaku diri duduk bersandar di sofa yang reot yang selalu [...]
lalu beberapa saat lampu baca yang tertempel di dinding sengaja kau matikan karena nyalanya bertabrakan dengan cayaha smartphonemu yang redup. Kepalamu dan makin lama makin serius sembari kau sumpal kupingmu dengan headset dan tak peduli, tak tahu diri, acuh dengan langit di luar yang perlahan padang nan kebiruan. Kau tak peduli juga bila tahu-tahu sekiranya ada orang datang lalu memergoki perbuatanmu. Kau tak merasa bersalah sedikit pun. Begitu pula raup wajahmu tak meninggalkan sesal, malah meringis payau sama persis seperti semalam.
Pada mulanya kau tersuruk terlukai di bangku dekat tembok dan terlelap tidur. Menyepelekan sekali. Keseringan tidur sehabis salat subuh itu, kau mengeluh pening di kepala.
Siangnya, kau yang mandir-mondar dengan rambut kusut awut-awutan hendak mengeluarkan motor tiba-tiba dari belakang punggungmu deru mesin matic yang sering dinaiki Pak Himam turun ke arahmu dengan sekarung pakan ikan yang di taruh di bagian pijakan kaki, kemudian kau membantu mengangkatnya.
Rabu, 22 Februari 2017
Tersuruk dan Tercela
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar